REDAKSI SATU – Untuk menangkap informasi dan isu yang simpang siur, pihak Keluarga Besar Alm Husinsius memberikan kronologis singkat terkait awal mula lahan milik Alm Husinsius.
Hal ini disampaikan langsung oleh pihak Keluarga Besar Alm Husinsius melalui Leo Kumbang selaku Koordinator Aksi sekaligus Juru Bicara pihak Keluarga Besar atau Page Waris Alm Husinsius, saat menggelar Konferensi Pers di depan Kantor Pabrik PT MAS, Desa Wajok Hilir, Kecamatan Jongkat, Kabupaten Mempawah-Kalbar, pada Jumat 3 April 2026, sore.
“Adil Ka Talino, Bacuramin Ka Saruga Basengat Ka Jubata. Hari ini kami Selaku Koordinator Aksi sekaligus Juru Bicara pihak Keluarga Besar atau Page Waris Alm Husinsius,” ungkap Leo Kumbang mengawali Konferensi Persnya di depan Kantor Pabrik PT Mitra Andalan Sejahtera (PT MAS).

Leo menjelaskan, bahwa Alm Husinsius yang juga pernah Kuliah di Universitas Panca Bakti (UPB) ini adalah masyarakat Adat Dayak yang berasal dari kampong Karaban, Desa Kapur Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak. Istri Alm Husinsius berasal dari Kalere desa Tonang, Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak, bagian Tampi Bide dan sebagainya.
Sejak 1979 merantau dan berdomisili di daerah Batu Layang, dulunya masuk Kabupaten Pontianak. Sejak itulah Alm menggarap lahan ini. Lahan yang diserobot perusahaan.
“Jadi, Kami tegaskan dan sampaikan agar tidak simpang siur dan diframing sampai menyebar fitnah atau HOAX,” tegas Keluarga Besar Alm Husinsius.
Lanjutnya mengatakan, bahwa pertama kami membela keluarga besar kami. Page waris kami. Timawakng kami. Anak Kandung Alm atas nama Drikus.
Kedua, terkait aksi pembakaran dan penyerangan kepada Satpam Perusahaan PT MAS Wajok ini adalah karena disebabkan adanya aksi pihak keamanan Perusahaan yang sengaja menutup akses masuk ke Kantor Pabrik sebagai tempat pelaksanaan aksi yang tertuang di dalam surat pemberitahuan kepada pihak kepolisian.
“Kemudian sikap arogansi pihak keamanan perusahaan yang seolah-olah menantang peserta aksi. Maka gejolak itupun terjadi. Dan tidak benar bahwa ada yang terluka akibat senjata tajam. Bahkan sampai saat ini, seperti yang kita lihat sendiri bahwa Kantor Pabrik ini masih tetap terjaga dan tidak ada kerusakan,” ujarnya.
Leo Kumbang secara tegas menekankan, bahwa Keluarga Besar Alm Husinsius tetap akan melakukan aksi menduduki perusahaan PT MAS sebagai bentuk protes pihak Keluarga Besar Alm Husinsius yang selama 12 tahun dirugikan.
“Menggunakan lahan kami tanpa kompensasi. Ibarat memakai lahan secara gratis. Mau untung tapi menyengsarakan masyarakat. Analoginya begini. Ada orang parkir mobil sembarangan di lahan/halaman kita, sudah ditegur berulang kali tapi masih ngeyel. Wajar kami marah dan mengambil alih, minimal orang itu bayar sewa parkir,” sindirnya.
Sedangkan terkait pertemuan mediasi yang dilakukan Pihak Perusahaan dengan Pak Vito Tanof, tidak melibatkan Keluarga Alm Husinsius selaku ahli waris, sehingga membuat pihak Keluarga Besar Alm Husinsius kecewa dan menolak kesepakatan tersebut.
“Bahkan Pak Vito Tanof belum menandatangani kesepakatan itu. Silahkan dicek surat kesepakatan itu,” kata Leo.
Dalam kesempatan ini juga, pihak Keluarga Besar Alm Husinsius menyampaikan ucapan berterima kasih kepada Aparat keamanan baik Polres Mempawah, Danyon Brimob maupun Polda Kalbar melalui Dirintelkam, Dirreskrimum yang sudah bersikap netral, Penengah bagi pihak Keluarga Besar Alm Husinsius yang menjunjung tinggi profesional kerja sebagai Aparat Keamanan.
“Dan kami ingatkan kepada seluruh masyarakat yang tidak punya kewenangan untuk tidak ikut campur memperkeruh suasana yang telah kondusif saat ini. Apabila ada yang tidak berkenan dengan aksi kami ini, silahkan temui kami di sini. Jangan hanya mendengar dari mulut ke mulut agar tidak termakan HOAX,” tandasnya.
Panglima Ansekng menambahkan bahwa gerakan ini murni gerakan keluarga besar Alm Husinsius. Gerakan ini sebagai protes atas pencurian, perampasan dan pengolahan lahan yang dilakukan oleh PT MAS dan dijadikan Kebun Sawit selama kurang lebih 12 tahun tanpa izin pemilik sah berdasarkan Sertifikat Hak Milik (SHM).
“Drikus ini sepupu kami. Dan kami hanya melibatkan gabungan ormas Dayak, diantaranya Bala Seribu, Dayak Ganteng Bapage, Tapak Sambilan Borneo, Tangkitn Janawi, 7 Talino Ne Kumpakng, Tapak 7 Baruk Merah, dan lain-lain,” terangnya.
Panglima Ansekng berharap, aksi ini tidak diprovokasi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dan punya kepentingan tertentu di dalam perusahaan ini.
“Jika ditemukan ada pihak yang memprovokasi, maka jangan salahkan kami akan pecah bahkan meledak hingga ke pelosok Kalimantan Barat,” sindirnya.
Lanjut Panglima Ansekng menyebut, Permasalahan ini kuncinya, sebenarnya, ada di perusahaan khususnya pengambil kebijakan seperti Pak Lesman Simbolon sebagai Komisaris PT MAS dan Pak Charles Simbolon sebagai Komisaris PT Parna Raya Group.
“Kalian janganlah bersembunyi di balik pertikaian ini,” tegasnya.



