Redaksi Satu | Membaca sebuah foto, yang dipandang sebagai bagian, dari ”Matrik Alam” dalam kerangka 1000 Pawiyatan ROSO OREP SEJATI (ROS).
Pimpinan Bamboo Spirit Nusantara, Ki Guntur Bisowarno, menyampaikan sebuah pembacaan reflektif kepada Jurnalis Kairos-Kairozo Saidi Hartono.
Dalam uraiannya, Ki Guntur melihat adanya benang merah yang menghubungkan berbagai unsur dalam rangkaian tersebut, mulai dari langit, cahaya, bentuk, ritual, kesadaran, penamaan, hingga akhirnya bermuara pada laku nyata manusia dalam kehidupan.
Ia menegaskan bahwa, pembacaan terhadap rangkaian foto tersebut perlu ditempatkan dalam dua lapis.
Pertama adalah lapis fakta yang dapat diamati secara langsung melalui objek visual. Kedua adalah lapis makna atau Sains Spiritual, yang merupakan wilayah pemaknaan dan refleksi manusia.
Menurutnya, foto dapat menjadi bukti bahwa sebuah peristiwa visual memang terekam pada waktu dan tempat tertentu.
Namun, makna seperti Nur Ilahi, Nur Muhammad, Sukma Sejati, maupun istilah spiritual lainnya tidak dapat dibuktikan hanya berdasarkan sebuah foto.
“Yang penting adalah memisahkan fakta yang dapat diamati dengan tafsir spiritual yang lahir dari kesadaran manusia,” demikian inti pemikiran yang disampaikan Ki Guntur dalam uraiannya.
Rangkaian tersebut antara lain dikaitkan dengan waktu pengambilan foto pada 27 Agustus 2026 pukul 23.11 WIB. Secara faktual, waktu tersebut menunjukkan suasana malam.
Namun dalam pembacaan simbolik yang digunakan, angka 11.11.11 dapat ditempatkan sebagai momentum reflektif untuk berhenti sejenak, mengamati, dan menyadari keberadaan diri.
Demikian pula dengan penyebutan Kamis Legi dan angka 5 + 8 = 13. Dalam kerangka simbolik Jawa.
Yang digunakan, angka tersebut tidak harus diposisikan sebagai ramalan, melainkan dapat menjadi penanda konteks kesadaran dan ruang refleksi terhadap perjalanan kehidupan.
Dari waktu, pembacaan kemudian bergerak menuju langit dan cahaya. Pada salah satu foto, cahaya tampak kuat di tengah langit malam.
Sementara pada foto berikutnya cahaya bulan terlihat, berhadapan dengan awan yang bergerak dan membentuk berbagai rupa.
Secara alamiah, apa yang terlihat merupakan peristiwa yang melibatkan sumber cahaya, awan, atmosfer, serta siluet lingkungan di sekitarnya.
Namun secara simbolik, kondisi tersebut dapat dibaca sebagai gambaran bahwa kegelapan tidak selalu berarti ketiadaan cahaya. Justru dalam ruang gelap, cahaya menjadi semakin mudah dikenali.
Dari sinilah muncul refleksi bahwa ROSO OREP SEJATI tidak semata-mata berbicara tentang melihat cahaya, tetapi juga belajar mengenali sumber, arah, serta dampak cahaya terhadap diri dan kehidupan.
Pembacaan berikutnya bergerak dari cahaya menuju bentuk. Siluet bangunan atau pura yang terlihat dalam rangkaian foto ditempatkan sebagai simbol karya budaya manusia yang berdiri di antara bumi dan langit.
Bangunan suci dalam konteks kebudayaan dapat menjadi metafora, mengenai hubungan manusia dengan alam, leluhur, nilai-nilai kehidupan, serta sesuatu yang dipandang transenden.
Dengan demikian, alam, manusia, karya budaya, simbol, dan kesadaran ditempatkan dalam sebuah rangkaian yang saling berhubungan.
Pada bagian lain, foto altar memperlihatkan sejumlah unsur seperti gambar figur spiritual, arca, dupa atau lidi, wadah persembahan, serta tanaman.
Unsur-unsur tersebut kemudian menjadi pintu masuk untuk membicarakan, hubungan antara ritual, simbol, alam, dan kesadaran manusia.
Dalam konteks tersebut, konsep JAMPI+NANG yang dirumuskan Ki Guntur memperoleh tempat tersendiri.
Ia tidak semata-mata dipahami sebagai persoalan nama sebuah pohon atau tanaman, tetapi dikembangkan sebagai bahasa pedagogis mengenai kesadaran.
JAM + PINANG kemudian dibaca sebagai hubungan antara waktu dan tanaman. Manusia menanam sesuatu bukan hanya di atas tanah, tetapi juga di dalam ruang dan waktu kehidupannya.
Sementara J + AMPINANG ditempatkan sebagai simbol Jati Diri yang diampu, diasuh, dijaga, dan dirawat.
Kesadaran tersebut diarahkan agar manusia mampu mengenal dirinya, merawat kehidupan, serta mengejawantahkan kesadaran melalui tindakan nyata.
Karena itu, JAMPI+NANG dalam kerangka Pawiyatan dapat dikembangkan sebagai gagasan pendidikan kehidupan: menanam pohon sekaligus menanam kesadaran tentang waktu, jati diri, tanggung jawab, keberlanjutan, dan masa depan peradaban.
Ki Guntur melihat bahwa kekuatan utama dari “Misteri Matrik J” bukan terletak pada pencarian pertanda gaib, melainkan pada bagaimana simbol diterjemahkan menjadi tindakan yang dapat dirasakan dan diamati dalam kehidupan sehari-hari.
Jati diri sejati, dalam kerangka tersebut, tidak berhenti pada pengenalan diri secara konseptual.
Ia bergerak melalui proses mengenal, menghayati, merawat, menanam, menumbuhkan, menghidupi, hingga akhirnya ikut menghidupkan kehidupan.
Dari gagasan itu, pohon JAMPI+NANG diposisikan sebagai semacam living laboratory atau laboratorium kehidupan dalam konsep 1000 Pawiyatan ROSO OREP SEJATI.
Pohon bukan sekadar objek yang ditanam, tetapi menjadi media pembelajaran tentang hubungan manusia dengan alam dan waktu.
Di titik inilah muncul tiga figur yang dipandang memiliki peran fundamental dalam pembelajaran kehidupan, yakni Ibu, Guru, dan Petani.
Ketiganya dipahami sebagai pranata, yang mengajarkan manusia melalui cara yang berbeda, tetapi saling melengkapi.
Ibu memberi kehidupan sekaligus pengasuhan. Guru memberikan pengetahuan dan membangun kesadaran.
Sementara Petani mengajarkan hubungan langsung antara manusia, tanah, air, benih, waktu, kerja, proses, dan hasil.
Dari perspektif tersebut, ungkapan “Ibu, Guru dan Petani adalah Induk Peradaban Dunia” memperoleh kerangka sebagai tesis kebudayaan.
Ia tidak sekadar ditempatkan sebagai slogan, melainkan sebagai refleksi mengenai sumber-sumber utama pembelajaran kehidupan manusia.
Pembacaan itu kemudian mengarah pada konsep “Telu-Telune Ngatunggal”, yang dirumuskan melalui tiga lapisan pengalaman kehidupan: Hurep Sejati, Sukma Sejati, dan Nyawa Sejati.
Ketiganya tidak harus dipahami sebagai tiga benda atau entitas yang berdiri sendiri. Sebaliknya, ketiganya dapat dibaca sebagai lapisan pengalaman hidup yang saling berkaitan dalam satu kesatuan kesadaran.
Seluruh rangkaian tersebut pada akhirnya kembali kepada Jati Diri, Alam, Kehidupan, Kesadaran, dan Laku. Dari sinilah muncul gagasan tentang Kitab Hidup, Penghidupan, Kehidupan Nyata atau Kasunyatan.
Dalam pemaknaan tersebut, kitab tidak harus selalu dipahami sebagai benda berupa buku. Kehidupan itu sendiri dapat dibaca sebagai teks yang terus bergerak: terlihat, terdengar, dirasakan, dipikirkan, dihayati, dituliskan, dilakukan, kemudian diwariskan.
Karena itu, ungkapan “SUSUN SAIKI” ditempatkan sebagai ajakan, untuk tidak berhenti pada sesuatu yang telah ditulis atau dipahami secara teoritis. Apa yang telah disadari harus disusun menjadi laku nyata yang memberi dampak bagi kehidupan.
Ki Guntur kemudian merumuskan gagasan tersebut melalui sebuah Sloka Sastra Realita: “Sastra Dasar Gesang Kasunyatan Neki Iku Ika Iko Ana-Nya: alam katon, wektu lumaku, cahya madhangi, manungsa nyumurupi, rasa nyawiji, pikiran maca, tangan nandur, lan urip dadi kitab kang terus kawaca.”
Dalam konteks itu, JAMPI+NANG menjadi salah satu simpul konkret yang mempertemukan, gagasan spiritual dengan tindakan ekologis dan sosial.
Menanam pohon dimaknai sebagai menanam waktu, menanam jati diri, sekaligus menanam peradaban.
Pada akhirnya, 1000 Pawiyatan ROSO OREP SEJATI tidak diarahkan, berhenti pada kemampuan membaca matrik alam.
Tahapan berikutnya adalah membawa pembacaan tersebut menuju tindakan: MACA, ROSO, NGERTI, ELING, NGAMAL, NANEM, NGRAWAT, hingga NGURIP-URIPI.
Dengan demikian, Sains Spiritual dalam kerangka pemikiran tersebut diharapkan memiliki “kaki di bumi”.
Apa pun makna simbolik yang lahir dari sebuah pengalaman, ukuran akhirnya tetap kembali kepada laku kehidupan yang nyata, dapat diamati, dirasakan manfaatnya, dan diwariskan sebagai pengetahuan bagi generasi berikutnya.




