Putri Ibu Pertiwi: Drupadi Rajasuya Wanita Pinilih

Jawa Timur, Redaksi Satu | Putri-Putri Ibu Pertiwi menjadi topik pembahasan, oleh salah satu pemikir dan pakar peradaban Nusantara menerapkan sejarah Nusantara.

Saresehan ROSO OREP SEJATI antara Ki Guntur Bisowarno dan Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol, membuka ruang percakapan yang sederhana.

Namun menyimpan makna yang cukup dalam: bagaimana manusia menjalani kehidupan hari ini agar tetap, memberi arti bagi kehidupan yang akan datang?

Pertanyaan tersebut membawa perhatian pada tulisan MJP Hutagaol berjudul “Putri-Putri Ibu Pertiwi yang Menenun Kehidupan Nusantara”, yang ditulis pada 16 Agustus 2026.

Sebuah refleksi mengenai hubungan manusia dengan kehidupan, alam, kebudayaan, pengetahuan, serta tanggung jawab terhadap generasi mendatang.

Air mengalir dari gunung menuju laut. Laut menghubungkan pulau-pulau. Tanah memberikan ruang bagi kehidupan untuk tumbuh. Perempuan merawat kehidupan. Petani menanam pangan. Guru meneruskan pengetahuan.

Semuanya seperti bagian-bagian dari satu tenunan besar bernama peradaban.

Ibu, Guru, dan Petani

Dari pemikiran tersebut muncul gagasan IBU, GURU, dan PETANI sebagai salah satu fondasi pemikiran Bamboo Spirit Nusantara Support System tentang Induk Peradaban Dunia.

Ibu mengajarkan kehidupan, kasih, pengasuhan, nilai, dan keteladanan. Guru membantu manusia memahami pengetahuan, pengalaman, serta makna. Sementara petani mengajarkan hubungan nyata antara manusia dengan tanah, air, benih, pangan, dan alam.

BACA JUGA  LaNyalla Singgung Dana Hibah Provinsi

Ketiganya memiliki bahasa dan ruang pengabdian yang berbeda. Namun, semuanya bertemu pada satu tujuan yang sama, yakni menjaga kehidupan agar terus berlangsung.

Ibu merawat kehidupan. Guru menerangi kehidupan. Petani menghidupi kehidupan.

Pada akhirnya, seluruh proses tersebut bermuara kepada generasi berikutnya.

Perempuan Sebagai Ruang Kehidupan

Gagasan Drupadi Rajasuya Wanita Pinilih karya FX Wayan Probo Sulistyo dapat menjadi ruang refleksi mengenai perempuan, pilihan, martabat, kepemimpinan, dan tanggung jawab.

Sementara Batik Kitab Bakti, Batik Tulis Singosari, dengan filosofi Bu Tantri/Listyorini Gayatri, mengingatkan bahwa kebudayaan tidak hanya diwariskan melalui kata-kata.

Kebudayaan juga diwariskan melalui karya, simbol, ketekunan, kesabaran, dan laku kehidupan.

Batik menjadi gambaran menarik tentang bagaimana sebuah karya besar dapat lahir dari sesuatu yang sederhana: titik, garis, pola, kesabaran, dan ketekunan.

Demikian pula kehidupan manusia. Ia dibentuk oleh banyak hal kecil yang dilakukan secara terus-menerus.

BACA JUGA  LaNyalla Paparkan Penyebab APBN Selalu Minus

Apa yang dipikirkan. Apa yang diucapkan. Apa yang dilakukan. Termasuk bagaimana manusia memperlakukan sesama dan alam di sekitarnya.

Di sinilah sains spiritual dapat menemukan ruangnya. Bukan sekadar berbicara tentang sesuatu yang tidak terlihat, melainkan mencoba memahami hubungan antara kesadaran, perilaku, kehidupan, serta akibat dari setiap tindakan.

Roso Orep Sejati

Roso dapat dipahami sebagai kepekaan untuk merasakan hubungan. Hubungan dengan diri sendiri, manusia lain, alam, kebudayaan, dan kehidupan dalam ruang yang lebih luas.

Sementara Orep Sejati merupakan usaha untuk menjalani kehidupan dengan kesadaran dan tanggung jawab.

Karena itu, saresehan tidak sekadar menjadi forum untuk berbicara. Ia merupakan kesempatan untuk mendengarkan, bertukar pengalaman, membuka pikiran, dan mencari kemungkinan baru.

Tidak semua orang harus memiliki pendapat yang sama. Justru perbedaan dapat menjadi pintu pembelajaran apabila disikapi dengan keterbukaan.

Yang terpenting adalah menjaga etika, martabat, rasa hormat, serta niat untuk menemukan manfaat bersama.

Bambu dan Peradaban

Bamboo Spirit Nusantara Support System menggunakan bambu sebagai salah satu metafora yang menarik dalam melihat kehidupan dan peradaban.

Bambu tumbuh berumpun. Ia lentur, tetapi kuat. Akarnya saling terhubung dan satu rumpun dapat berkembang menjadi banyak batang.

BACA JUGA  BEM Polnep Deklarasi Pemilu Damai 2024

Peradaban pun demikian. Peradaban tidak lahir dari satu orang. Ia tumbuh dari keluarga, guru, petani, seniman, budayawan, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, media, komunitas, dan berbagai unsur kehidupan lainnya.

Karena itu, Tourism berbasis 9 Heliks dapat dilihat dalam makna yang lebih luas daripada sekadar aktivitas perjalanan.

Pariwisata dapat menjadi ruang untuk bertemu, belajar, mengalami kebudayaan, mengenal masyarakat, menghargai alam, serta menemukan kembali makna perjalanan manusia.

Pergi bukan hanya untuk melihat. Datang bukan hanya untuk mengambil pengalaman, tetapi juga untuk memahami, menghormati, dan memberi manfaat.

Empat Tokoh, Dua Karya, Satu Ruang Dialog

Dalam proses pemikiran tersebut, empat tokoh membawa perspektif masing-masing.

Guntur Bisowarno, melalui Bamboo Spirit Nusantara Support System TOURISM.

Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol, melalui refleksi Putri-Putri Ibu Pertiwi yang Menenun Kehidupan Nusantara.

BACA JUGA  LaNyalla Minta Pemerintah Cari Solusi Banjir yang Rugikan Petani

Bu Tantri/Listyorini Gayatri, melalui filosofi Batik Kitab Bakti, Batik Tulis Singosari.

FX Wayan Probo Sulistyo, melalui karya Drupadi Rajasuya Wanita Pinilih.

Keempatnya tidak harus memiliki latar belakang dan cara pandang yang sama.

Justru di situlah kekuatan sebuah ruang dialog. Perbedaan pengalaman dapat menjadi sumber pengetahuan ketika dipertemukan dengan sikap terbuka, saling menghormati, dan kesediaan untuk belajar.

Semangat tersebut menjadi salah satu ruang yang dapat dikembangkan dalam Bamboo Spirit Nusantara Support System berbasis 9 Heliks.

Warisan untuk Anak Cucu

Pada akhirnya, perhatian kembali kepada dua anak yang hadir dalam tulisan MJP Hutagaol sebagai simbol generasi masa depan.

Mereka mengingatkan bahwa gunung, laut, sawah, hutan, budaya, pengetahuan, karya seni, dan seluruh warisan Nusantara bukan semata-mata milik generasi hari ini.

Kita hanya sedang memperoleh kesempatan untuk menjaganya. Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya, “Apa yang kita terima dari masa lalu?”

BACA JUGA  PGI Jatim Temui Ketua DPD RI LaNyalla

Namun juga, “Apa yang akan kita serahkan kepada masa depan?”

Di sinilah makna IBU-GURU-PETANI menjadi semakin sederhana sekaligus dalam.

Ibu menjaga kehidupan.

Guru menjaga pengetahuan.

Petani menjaga pangan.

Budaya menjaga ingatan.

Alam menjaga keseimbangan.

Dan generasi penerus menjadi alasan mengapa seluruh warisan tersebut perlu dirawat.

Menjadi Laku Kehidupan

Saresehan ROSO OREP SEJATI tidak semestinya berhenti sebagai gagasan atau percakapan.

Ia dapat menjadi proses kecil untuk belajar melihat kehidupan dengan lebih jernih.

Open minded, tetapi tetap berakar.

Terbuka terhadap ilmu, tetapi tetap menjaga etika.

Maju bersama zaman, tetapi tidak kehilangan jati diri.

Membicarakan spiritualitas, tetapi tetap berpijak pada kehidupan nyata.

Sebab mungkin pada akhirnya, sains spiritual bukan tentang siapa yang paling tahu.

Melainkan tentang seberapa sadar manusia menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki cara berpikir, cara berbicara, cara bertindak, serta cara memperlakukan sesama dan alam.

Peradaban tidak dibangun dalam satu hari. Ia ditenun sedikit demi sedikit. Ada benang leluhur. Ada benang kehidupan hari ini. Ada benang masa depan.

BACA JUGA  Sambut Ramadhan 1444 H, Jajaran Kemenag Kab. Solok gelar Thaharah Masjid

Tugas manusia adalah menjaga agar benang tersebut tidak putus.

IBU merawat.
GURU menerangi.
PETANI menghidupi.
BUDAYA mengingatkan.
ALAM menopang.
GENERASI PENERUS melanjutkan.

Dan kita semua mendapat kesempatan untuk menjadi bagian dari tenunan besar itu:

Nusantara

Bukan hanya untuk diwarisi. Tetapi untuk dihidupi, dijaga, dan diteruskan dengan kesadaran. “Oleh Jurnalis Kairos-Kairozo: Saidi Hartono”.

iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img