“Gayam” Pohon Peradaban Nusantara: Menanam Pohon, Merawat Air

Penulis Jurnalis Kairos-Kairozo: Saidi Hartono

Yogyakarta, Redaksi Satu | Di tengah semakin kuatnya perhatian terhadap krisis lingkungan, ketersediaan air, ketahanan pangan, dan hilangnya keanekaragaman hayati, solusi menanam pohon Gayam.

Gagasan untuk kembali mengenali, kekayaan pohon lokal Nusantara semakin penting untuk diangkat.

Salah satunya adalah pohon gayam (Inocarpus fagifer), tanaman yang tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga menyimpan potensi pangan serta jejak pengetahuan dan kebudayaan masyarakat Nusantara.

Hal tersebut disampaikan Didin Jamaludin, atau akrab dipanggil DJ, seorang Environmentalist & Spiritualist dari Bantul, dalam perbincangannya dengan penulis Saidi Hartono, Selasa (25/8/2026), di Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menurut DJ, gayam bukan sekadar pohon yang tumbuh di lingkungan pedesaan atau kawasan yang memiliki kelembapan cukup.

Di balik keberadaannya tersimpan hubungan panjang antara manusia, tanah, air, pangan, dan pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dari perbincangan tersebut kemudian mengemuka sebuah gagasan yang dirumuskan dalam semangat “Menanam Gayam : Menanam Air.”

BACA JUGA  Irwanto Klarifikasi Dugaan Penipuan dan Pungli Meteran PLN di Sanggau

Ungkapan tersebut bukan berarti pohon gayam menciptakan air. Namun, pesan itu menggambarkan pentingnya vegetasi dalam menjaga tanah, kelembapan lingkungan, serta fungsi ekosistem yang berkaitan dengan tata air.

Secara ekologis, keberadaan pepohonan dapat membantu menjaga struktur tanah dan mengurangi berbagai bentuk degradasi lahan.

Karena itu, penanaman gayam di lokasi yang sesuai dapat menjadi salah satu bagian dari upaya restorasi ekosistem, terutama apabila ditempatkan pada lanskap yang mendukung pertumbuhannya.

Gayam juga memiliki nilai dari sisi pangan. Buahnya secara tradisional dikenal dan dimanfaatkan sebagai salah satu sumber pangan lokal.

Potensi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian pohon tidak hanya berbicara mengenai lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan keberagaman pangan serta pengetahuan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana.

Namun, di tengah perubahan zaman, keberadaan gayam mulai semakin kurang diperhatikan.

Pohon yang dahulu menjadi bagian dari lanskap kehidupan masyarakat kini berhadapan dengan perubahan penggunaan lahan, berkurangnya pengetahuan mengenai tanaman lokal, serta semakin kuatnya ketergantungan terhadap sumber pangan yang seragam.

BACA JUGA  Dana Desa Lurah Girikerto Paparkan Transparan Anggaran

Karena itu, menurut DJ, upaya menyelamatkan gayam tidak cukup hanya dengan menanam pohonnya. Lebih jauh dari itu, yang perlu diselamatkan adalah benih, pengetahuan, pangan, budaya, serta habitat yang menjadi ruang hidupnya.

Menanam gayam dengan demikian dapat ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas.

Ia bukan sekadar kegiatan penghijauan, melainkan bagian dari upaya menghidupkan kembali hubungan manusia dengan alam sekaligus mengingatkan bahwa keberlanjutan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan masyarakat.

Lokasi penanaman juga menjadi hal penting yang perlu diperhatikan.

Gayam sebaiknya dikembangkan pada habitat yang sesuai dengan karakter ekologisnya, bukan sekadar ditanam secara massal tanpa mempertimbangkan kondisi tanah, air, iklim, serta keberadaan ekosistem setempat.

Dengan pendekatan tersebut, gerakan menanam gayam dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga sumber-sumber air, memulihkan lahan, mengembangkan pangan lokal, dan mempertahankan keanekaragaman hayati Nusantara.

Di sisi lain, gerakan ini membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal kembali tanaman-tanaman Nusantara yang selama ini semakin jauh dari kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA  Korban Minta Proses Hukum Terhadap Pihak SPBU 6478321 Tetap Dilanjutkan

Pengetahuan mengenai pohon, pangan, tanah, air, dan lingkungan tidak harus diwariskan hanya melalui buku, tetapi juga melalui pengalaman langsung di alam.

Semangat tersebut menjadi dasar munculnya gagasan Gerakan Nasional Menanam Gayam.

Gerakan ini tidak dimaksudkan semata-mata sebagai kampanye menanam pohon, tetapi sebagai ajakan untuk melihat kembali hubungan antara manusia dan alam dalam kerangka yang lebih utuh.

Gayam dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan yang lebih besar: bagaimana Indonesia menjaga sumber air, mempertahankan pangan lokal, memulihkan ekosistem, sekaligus merawat pengetahuan budaya yang menjadi bagian dari identitas Nusantara.

Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, tanaman lokal memiliki posisi penting karena setiap wilayah memiliki karakter alam dan sejarah pemanfaatan tumbuhan yang berbeda.

Karena itu, pelestarian tanaman lokal perlu berjalan bersama penelitian, pendataan, pembibitan, pendidikan lingkungan, serta keterlibatan masyarakat.

Gerakan menanam gayam juga perlu dibangun dengan pendekatan ilmiah dan berbasis ekosistem.

BACA JUGA  Tips Bagi Korban Pemberitaan dan Penyelesaian Sengketa Pers sesuai Putusan MK

Pengetahuan tradisional dapat menjadi sumber penting, namun perlu dipadukan dengan penelitian mengenai habitat, pembibitan, manfaat ekologis, potensi pangan, serta teknik konservasi yang tepat.

Dengan demikian, pesan “Menanam Gayam : Menanam Air” dapat dipahami sebagai sebuah ajakan ekologis.

Ketika manusia menjaga vegetasi dan tanah dalam suatu ekosistem yang tepat, manusia turut menjaga fungsi alam yang menopang kehidupan, termasuk tata air.

Lebih jauh lagi, menanam gayam berarti menanam kesadaran. Kesadaran bahwa alam bukan sekadar sumber daya yang dapat diambil manfaatnya, tetapi juga ruang kehidupan yang harus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dari sebatang pohon, terbuka pembicaraan mengenai air. Dari air, terbuka pembicaraan mengenai pangan.

Dari pangan, tumbuh pembicaraan mengenai kebudayaan. Dan dari kebudayaan, lahirlah kesadaran tentang peradaban.

Karena itu, gayam layak diperkenalkan kembali sebagai salah satu bagian dari kekayaan hayati dan budaya Nusantara.

BACA JUGA  Ketika Ilmu Pengetahuan Spiritual Turun dari HULUN ke Hilir

Bukan untuk menjadikannya simbol semata, tetapi untuk menghidupkan kembali praktik nyata: mengenali, menanam, merawat, memanfaatkan secara bijak, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Menanam Gayam bukan sekadar menanam pohon. Menanam Gayam adalah bagian dari ikhtiar menanam kehidupan, menjaga ekosistem, dan merawat jejak pengetahuan Nusantara.

Pada akhirnya, pesan yang ingin diwariskan sederhana namun memiliki makna luas:

“Menanam Gayam : Menanam Air.

Menanam Kehidupan : Menanam Peradaban.”

Saidi Hartono mengajak masyarakat untuk kembali mengenali, kekayaan hayati di lingkungan masing-masing.

Sebab, masa depan lingkungan tidak hanya ditentukan oleh teknologi modern, tetapi juga oleh kesediaan manusia untuk menghargai pengetahuan, alam, dan warisan kehidupan yang telah tumbuh bersama Nusantara selama berabad-abad.

Sumber didukung oleh Bamboo Spirit Nusantara Ki Guntur Bisowarno Support System Tourism.

iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img