Merajut Kebudayaan, Martabat, dan Peradaban Nusantara
Oleh: Saidi Hartono
Jawa Timur, Redaksi Satu | Bhinneka Tunggal Ika bukan, sekadar semboyan yang tercantum dalam lambang negara.
Ia dapat dibaca sebagai salah satu prinsip penting dalam kehidupan kebangsaan Indonesia: keberagaman tidak harus menjadi alasan untuk saling menjauh, melainkan dapat menjadi dasar untuk membangun persatuan.
Dalam percakapan mengenai kebudayaan Nusantara, Guntur Bisowarno, Pendiri Bamboo Spirit Nusantara, memaknai Bhinneka Tunggal Ika sebagai gagasan yang memiliki kedalaman filosofis dalam perjalanan kehidupan masyarakat Nusantara.
Bhinneka menunjuk pada keberagaman, sementara Tunggal Ika mengingatkan bahwa keberagaman tersebut tetap berada dalam suatu kesatuan kehidupan bersama.
Cara pandang tersebut menempatkan perbedaan bukan sebagai persoalan yang harus dihapus, melainkan sebagai kenyataan yang perlu dikelola dengan kesadaran, penghormatan, dan tanggung jawab.
Nusantara sejak lama menjadi ruang perjumpaan berbagai suku, bahasa, tradisi, pengetahuan, keyakinan, serta kebudayaan. Kekayaan tersebut merupakan modal sosial yang penting bagi pembangunan kehidupan bersama.
Mitreka Satata: Persahabatan dalam Kesetaraan
Dalam kerangka tersebut, Mitreka Satata menjadi nilai yang menarik untuk dibaca bersama Bhinneka Tunggal Ika.
Mitreka Satata dapat dipahami sebagai semangat membangun persahabatan dalam kesetaraan. Persahabatan yang dimaksud tidak terbatas pada hubungan antarindividu.
Ia dapat berkembang menjadi hubungan antarkelompok, antarkomunitas, antargenerasi, bahkan hubungan manusia dengan alam sebagai ruang kehidupan bersama.
Bagi Guntur Bisowarno, cara pandang semacam ini relevan dengan tantangan kehidupan masa kini. Kemajuan tidak cukup dinilai dari pertumbuhan ekonomi, pembangunan fisik, atau perkembangan teknologi.
Kemajuan juga membutuhkan kebijaksanaan, etika, gotong royong, keadilan, penghormatan terhadap martabat manusia, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Dengan demikian, pembangunan dapat dipahami bukan hanya sebagai proses menghasilkan sesuatu yang baru, tetapi juga sebagai upaya menjaga hubungan antar manusia dan hubungan manusia dengan ekosistem kehidupannya.
Tan Hana Dharma Mangruwa: Perbedaan sebagai Ruang Pengabdian
Nilai ketiga, Tan Hana Dharma Mangruwa, dalam pembacaan kebudayaan Nusantara, memberikan dimensi yang lebih mendalam mengenai pengabdian dan dharma.
Ungkapan tersebut dapat ditempatkan sebagai pengingat bahwa, perbedaan pandangan tidak dengan sendirinya harus menghasilkan pertentangan.
Perbedaan dapat menjadi ruang dialog, pembelajaran, dan pencarian jalan bersama. Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk, sikap semacam itu menjadi penting.
Setiap kelompok memiliki pengalaman, pengetahuan, dan perspektif yang berbeda. Yang diperlukan bukanlah menghapus perbedaan tersebut, melainkan menemukan cara agar perbedaan dapat berkontribusi terhadap kehidupan bersama.
Karena itu, Bhinneka Tunggal Ika, Mitreka Satata, dan Tan Hana Dharma Mangruwa dapat dibaca sebagai rangkaian nilai: mengakui keberagaman, membangun persahabatan yang setara, dan mengarahkan keberagaman kepada pengabdian bagi kehidupan bersama.
Kebudayaan sebagai Jalan Peradaban
Dalam pemikiran Guntur Bisowarno, kebudayaan tidak semata-mata ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu. Kebudayaan dipandang sebagai sesuatu yang hidup dan dapat menjadi sumber orientasi bagi masa depan.
Nilai gotong royong, musyawarah, penghormatan terhadap alam, kearifan lokal, serta tradisi saling membantu merupakan bagian dari modal sosial yang telah tumbuh dalam berbagai masyarakat Nusantara.
Tantangannya adalah bagaimana nilai-nilai tersebut dapat dihidupkan kembali, sesuai perkembangan zaman tanpa kehilangan akar kebudayaannya.
Dengan perspektif itu, kebudayaan menjadi ruang perjumpaan. Perbedaan tidak diposisikan sebagai tembok, tetapi sebagai bahan untuk merajut hubungan yang lebih luas.
Peradaban yang kuat bukanlah peradaban yang menyeragamkan seluruh kehidupan. Sebaliknya, ia adalah peradaban yang mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi, kesejahteraan masyarakat, kelestarian alam, kebudayaan, dan nilai kemanusiaan.
Jejak Pemikiran Selama Kurang Lebih 13 Tahun.
Menurut penuturan Guntur Bisowarno, sejumlah kata kunci dan gagasan tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan pemikiran dan dokumentasinya selama kurang lebih 13 tahun, antara lain melalui Study Rxcursie dan berbagai kegiatan kebudayaan yang disebut dalam perjalanan Bamboo Spirit Nusantara.
Penting dicatat secara jurnalistik bahwa bagian ini merupakan kesaksian dan penuturan mengenai perjalanan pemikiran Guntur Bisowarno, sehingga pembuktian kronologi, dokumen primer, publikasi, serta arsip kegiatan tetap menjadi bagian penting apabila gagasan tersebut hendak dikaji secara akademik atau historis.
Dalam kerangka pemikiran yang disampaikannya, hidup, penghidupan, dan kehidupan diarahkan pada suatu kesatuan tujuan yang dirumuskan melalui gagasan IKA, IKU, IKO.
Gagasan tersebut kemudian dihubungkan dengan Martabat Tanggung Jawab Universal, sebagai upaya memahami kebudayaan bukan semata-mata sebagai hasil karya manusia, tetapi juga sebagai jalan untuk menjalankan tanggung jawab terhadap sesama, lingkungan, bangsa, dan kehidupan secara lebih luas.
Di titik ini, kebudayaan berhubungan erat dengan dua hal: bagaimana manusia menjaga martabatnya dan bagaimana manusia menjalankan tanggung jawabnya.
Jejak Dialog Lintas Agama dan Budaya
Salah satu jejak yang disebut dalam perjalanan tersebut adalah kegiatan “Dialog Peradaban Lintas Agama dan Budaya: Penerapan Kehidupan Multikultural dan Kerukunan Antarumat.
Beragama di Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur”, yang dilaksanakan pada 19–20 Oktober 2013. Menurut keterangan yang disampaikan, kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Direktorat
Kemahasiswaan Universitas Airlangga dengan dukungan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Timur serta LP3JATIM, Lembaga Pembudayaan Pancasila Pembangunan Jawa Timur.
Dialog lintas agama dan budaya tersebut menunjukkan pentingnya, ruang perjumpaan untuk membangun pemahaman mengenai kehidupan multikultural dan kerukunan.
Dalam konteks Indonesia, dialog memiliki arti strategis. Masyarakat Indonesia tidak dibentuk oleh satu latar belakang tunggal, melainkan oleh perjumpaan panjang berbagai kelompok, kebudayaan, bahasa, tradisi, dan pengalaman sejarah.
Karena itu, kerukunan bukan sekadar keadaan tanpa konflik. Kerukunan juga membutuhkan kemampuan untuk mendengar, memahami, menghormati, dan bekerja bersama meskipun terdapat perbedaan.
Dari Nusantara untuk Dunia
Pemikiran mengenai peradaban Nusantara yang disampaikan Guntur Bisowarno kemudian diarahkan pada cita-cita yang lebih luas: pembangunan kecerdasan bangsa, perdamaian, keadilan, kesejahteraan sosial, dan kehidupan yang memberikan manfaat bagi manusia serta lingkungan.
Perspektif tersebut menempatkan pembangunan Indonesia bukan hanya sebagai kepentingan nasional, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab kemanusiaan.
Nusantara dengan demikian tidak hanya dipahami sebagai ruang geografis. Ia dapat pula menjadi ruang lahirnya gagasan, pengalaman kebudayaan, dan praktik kehidupan yang dapat dipertukarkan dengan masyarakat dunia.
Namun, gagasan “dari Nusantara untuk dunia” tidak harus dimaknai sebagai upaya menempatkan satu kebudayaan lebih tinggi daripada kebudayaan lain. Justru sebaliknya, kontribusi Nusantara akan memiliki makna apabila dibangun melalui dialog, kesetaraan, keterbukaan, dan penghormatan terhadap keberagaman dunia.
Merajut Masa Depan
Generasi sekarang memiliki tanggung jawab untuk menjaga sekaligus, mengembangkan nilai-nilai kebudayaan yang diwariskan generasi sebelumnya.
Warisan Nusantara bukan hanya berupa bangunan, artefak, naskah, dan peninggalan sejarah. Warisan yang tidak kalah penting adalah cara hidup: kemampuan untuk hidup berdampingan, bergotong royong, bermusyawarah, menghormati alam, dan menjaga hubungan antarmanusia.
Dari perspektif tersebut, Bhinneka Tunggal Ika, Mitreka Satata, dan Tan Hana Dharma Mangruwa dapat ditempatkan sebagai rangkaian gagasan yang saling melengkapi.
Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan penerimaan terhadap keberagaman dan kesadaran akan persatuan. Mitreka Satata menguatkan persahabatan dan kesetaraan.
Tan Hana Dharma Mangruwa mengingatkan bahwa perbedaan seharusnya, tidak menjauhkan manusia dari tanggung jawab dan pengabdian terhadap kehidupan.
Ketiganya dapat menjadi pijakan etis untuk membangun kehidupan yang lebih damai, berkeadilan, berbudaya, dan menghormati martabat manusia.
Catatan KAIROS KAIROZO: Dari Gagasan Menuju Kesaksian
Dalam kaidah jurnalistik KAIROS KAIROZO, sebuah gagasan tidak cukup hanya dinyatakan sebagai kebenaran.
Ia perlu ditempatkan secara proporsional: siapa yang menyampaikan, kapan disampaikan, dalam konteks apa, apa sumbernya, dan sejauh mana dapat diverifikasi.
Karena itu, tulisan ini membedakan antara fakta kegiatan, kesaksian narasumber, gagasan personal, dan interpretasi penulis. Cara tersebut bukan untuk mengurangi nilai sebuah pemikiran.
Sebaliknya, kehati-hatian justru memberi ruang agar gagasan dapat tumbuh melalui dialog, penelitian, dokumentasi, kritik, dan pembuktian.
Dalam perspektif itu, perjalanan pemikiran Guntur Bisowarno dapat dibaca sebagai salah satu bagian dari dinamika gagasan kebudayaan kontemporer Nusantara.
Nilai pentingnya tidak hanya terletak pada siapa yang mengemukakannya, tetapi juga pada bagaimana gagasan tersebut diuji, didokumentasikan, dipraktikkan, dan memberikan manfaat bagi kehidupan.
Pada akhirnya, Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya semboyan; ia dapat menjadi jalan kebudayaan untuk merawat persatuan. Mitreka Satata bukan sekadar ungkapan; ia dapat menjadi etika persahabatan dan kesetaraan.
Tan Hana Dharma Mangruwa bukan sekadar warisan ungkapan masa lalu; ia dapat menjadi pengingat agar perbedaan tidak menjauhkan manusia dari dharma kehidupan.
Dari Nusantara, pesan tersebut dapat dibawa ke ruang perjumpaan dunia: merawat keberagaman tanpa kehilangan persatuan, membangun persahabatan tanpa menghapus perbedaan, dan mengembangkan kemajuan tanpa meninggalkan martabat manusia serta keberlanjutan kehidupan.
Keterangan Dokumentasi, Penulis: Saidi Hartono
Tokoh yang dikaji: Guntur Bisowarno Pendiri: Bamboo Spirit Nusantara.
Keterangan tambahan: Ketua Dewan Pembina/Penasehat Dewan Pengurus Daerah Serikat Praktisi Media Indonesia Bogor Raya, Provinsi Jawa Barat.
Keterangan arsip: Naskah didokumentasikan/diarsipkan dalam Perpustakaan Baru Kuno Modern HORAIZO KLASIK, kawasan Gunung Arjuno, sebagai bagian dari dokumentasi perjalanan pemikiran kebudayaan Nusantara. Tempat: Purwosari, Pasuruan, Jawa Timur.
Menurutnya, versi ini lebih “KAIROS” karena menempatkan setiap klaim pada konteks waktunya, dan lebih “KAIROZO” karena tidak berhenti pada narasi, tetapi memberi ruang bagi verifikasi, dialog, dokumentasi, dan pertumbuhan makna.
Yang paling penting: Guntur tidak diposisikan secara berlebihan sebagai “penemu tunggal” atau “pencetus tunggal peradaban Nusantara”, melainkan sebagai subjek pemikiran dan pelaku perjalanan kebudayaan.
Yang gagasannya dapat didokumentasikan, dikaji, diuji, dan dipertanggungjawabkan. Secara jurnalistik, posisi ini justru membuat narasinya lebih kuat dan elegan. (RedPel: SHRT).




