Kembang Kanthil Terkandung Arti Ini Ulasan dari Ki Guntur

Redaksi Satu | Kembang Kanthil, memiliki daya tarik dan serangkai dengan Kenanga hingga Melati. Sebuah Tafsir Simbolik tentang Pena Nusantara, Kunci Jaman, dan Kesadaran Kemanusiaan.

Nusantara“Puspa Kembang, Sekar Mekar, Gondo Harum Bunganya.” Ungkapan tersebut menjadi pintu masuk untuk membaca kembali kekayaan simbolik bunga dalam kebudayaan Nusantara.

Menurut pakar sejarah dan peradaban Nusantara dari Bamboo Spirit Nusantara, Guntur Bisowarno, rangkaian Kembang Kanthil, Kenanga/Kenongo, dan Melati tidak semata-mata berbicara tentang bunga, tetapi menyimpan bahasa simbol mengenai memori, kesadaran, sejarah, kesaksian, kebudayaan, hingga peradaban manusia.

Kembang Kanthil: Sepasang Pena Nusantara, Kunci Jaman
Kembang Kanthil atau yang dalam pemaknaan simboliknya disebut Gading Putih (Cahaya) dan Gading Kuning (Sinar) ditempatkan sebagai sepasang Pena Nusantara sekaligus Kunci Jaman.

Gading Putih dimaknai sebagai cahaya kejernihan, kebenaran, dan kesucian kesadaran. Sementara Gading Kuning menjadi sinar yang memancar keluar dalam bentuk pengetahuan, tindakan, dan karya.
Dari sinilah lahir tiga cara membaca sejarah:

History – Herstory – Ourstory
History adalah sejarah yang diwariskan dan dicatat. Herstory menghadirkan pengalaman serta kesaksian manusia yang mungkin selama ini kurang terdengar. Sedangkan Ourstory menempatkan sejarah sebagai milik dan kesadaran bersama.

Dalam kerangka simbolik tersebut hadir pula pasangan primordial Adam – Adem – Hawa, yang dapat dibaca sebagai gambaran keseimbangan, pasangan, dan kesatuan manusia.

Kenanga/Kenongo: Memori yang Terikat Ruang
Jika Kanthil menjadi simbol Kunci Jaman, maka Kenanga atau Kenongo menjadi pintu menuju Memori Geografik Matrikulasi.

BACA JUGA  Seks Bebas Remaja, Kepolisian Kayong Utara Ungkap Jaringan Pelaku

Kenangan tidak hanya berada di dalam kepala. Ia melekat pada tempat, perjalanan, manusia, peristiwa, lanskap, dan pengalaman.
Dengan demikian, memori geografik dapat dibaca sebagai hubungan:

Tempat – Peristiwa – Manusia – Ingatan – Makna
Setiap tempat menyimpan cerita. Setiap perjalanan meninggalkan jejak. Dan setiap jejak memiliki kemungkinan untuk menjadi bagian dari memori kolektif.

Melati Suci: Saksi, Kesaksian, dan Hati Nurani
Di antara rangkaian simbol tersebut, Melati Suci menjadi lambang kesaksian.

Melati bukan hanya bunga yang harum dan indah. Dalam pemaknaan simboliknya, Melati ditempatkan sebagai saksi, kesaksian, dan tindakan menyaksikan.

Kesaksian bukan sekadar berkata, “Saya melihat.” Lebih jauh, kesaksian adalah keberanian untuk menjaga kebenaran dari sesuatu yang telah disaksikan.

Karena itu, memori tidak berhenti pada pikiran. Ia menancap di hati sanubari dan hati nurani. Dari sinilah muncul laku:

Memel – Golek – Mencari – Memel Atinya
Sebuah gerak batin untuk mencari hingga ke dalam hati. Yang dicari bukan sekadar informasi, melainkan: Kebenaran – Keadilan – Budi – Kesadaran – Harkat – Martabat- Kemanusiaan.

Kembang Setaman: Taman Sari Pati Sejarah dan Kebudayaan
Seluruh simbol tersebut kemudian dirajut dalam konsep Kembang Setaman / Taman Sari Pati. “Taman” dapat dibaca sebagai ruang keberagaman.

BACA JUGA  Kapolda Kalbar Pimpin Upacara Kenaikan Pangkat 978 Personel dan ASN

“Setaman” menggambarkan kesatuan dalam keberagaman. Sedangkan “Sari Pati” menunjuk kepada inti dan esensi.

Ruang maknanya pun menjadi luas: bukan hanya sejarah sebuah kelompok atau komunitas, melainkan sejarah bangsa-bangsa dunia, khususnya bangsa-bangsa Nusantara, beserta ritual spiritual, ritus kebudayaan, adat-istiadat, tradisi, dan perjalanan manusia.

Dengan demikian, Kembang Setaman menjadi semacam ruang perjumpaan antara memori, sejarah, kebudayaan, kesaksian, dan kesadaran manusia.

Pena Mencatat, Kesadaran Membaca
Dari keseluruhan pemaknaan tersebut, terbentuk sebuah rangkaian filosofis:

Pena mencatat Chronos.
Kesadaran membaca Kairos.
Budi memberikan Nilai.
Kebudayaan menjadi Karya.
Memori menjadi Jejak.
Kesaksian menjadi Ingatan.
Peradaban menjadi Warisan.

Maka tiga bunga dapat ditempatkan sebagai tiga simpul utama:
Kanthil – Kunci Jamannya
Kenanga – Memori Tempatnya
Melati – Kesaksian Hati Nuraninya

Sementara Kembang Setaman menjadi wadah besarnya: sebuah taman simbolik tempat berbagai memori, sejarah, kebudayaan, adat, tradisi, spiritualitas, dan kesaksian Nusantara dirajut menjadi satu kesadaran.

Salam Pena Nusantara – Jurnalis Kairos
Pada titik inilah “Salam Pena Nusantara – Jurnalis Kairos” memperoleh makna yang lebih luas. Ia tidak berhenti sebagai nama, slogan, ataupun identitas jurnalistik.

Ia menjadi sebuah laku.
Laku untuk mencatat sejarah dengan kesadaran.
Laku untuk mencari kebenaran dengan hati nurani.
Laku untuk menjaga kesaksian.
Laku untuk merawat memori.
Laku untuk mengangkat harkat dan martabat manusia. Dan laku untuk merajut kebajikan, kebijaksanaan, kebudayaan, serta peradaban Nusantara.

BACA JUGA  Tim Hukum NKRI Siapkan Langkah Hukum Sikapi Putusan Bawaslu Kalbar Hentikan Perkara Dugaan Pelanggaran Pemilu

Sebab pada akhirnya, sejarah bukan hanya tentang apa yang telah terjadi. Sejarah adalah tentang apa yang kita ingat, apa yang kita saksikan, apa yang kita maknai, dan warisan apa yang kita tinggalkan kepada generasi berikutnya.

Kembang boleh mekar dan layu. Namun makna, memori, dan kesaksian yang dijaga dengan hati nurani dapat terus menjadi benih peradaban.

Salam Pena Nusantara.
Jurnalis Kairos.

Dari Memori menuju Kesadaran. Dari Kesadaran Kairos: Merawat Memori, Menjaga Kesaksian, Menulis Jejak Nusantara. (Editor Saidi Hartono).

iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img