Blitar – Jawa Timur, Redaksi Satu | Ahli sejarah sekaligus tokoh budaya Guntur Bisowarno mengungkapkan, kalimat aksara “Pena Daya Hidup Pena Daya Budi”.
Ia menyampaikan ketika berada di Candi Penataran di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, berada di lereng barat daya Gunung Kelud.
Di tempat yang menyimpan jejak panjang kebudayaan Nusantara itu, sebuah perjumpaan kemudian membuka ruang pembacaan yang tidak berhenti pada nama sebuah tempat.
Perjumpaan Guntur Bisowarno dengan Mas Wendi-yang berasal dari kawasan Candi Penataran—melahirkan sebuah pembacaan budaya yang kemudian disebut “Sandhi Candi Penataran.”
Sandhi tersebut tidak dimaksudkan sebagai upaya menggantikan sejarah maupun etimologi resmi nama Penataran. Ia ditempatkan sebagai tafsir filosofis-kultural, sebuah cara membaca kata, nama, sebutan dan pengalaman manusia sebagai pintu masuk untuk menemukan lapisan makna yang lebih dalam.
Dari sinilah muncul pembacaan:
PENATARAN — PENA NATA ARAN.
Dalam tafsir tersebut, PENA dimaknai sebagai menulis, merekam dan meninggalkan jejak kesadaran. NATA berarti menata, mengatur, merawat serta menempatkan sesuatu pada tempat dan tatanannya. Sementara ARAN dibaca sebagai nama, sebutan, identitas, arah sekaligus tanda.
Jika ketiga unsur itu dirangkai, PENA NATA ARAN menjadi sebuah gambaran tentang laku kesadaran: menulis kehidupan, menata kehidupan, memberi nama dengan tanggung jawab, kemudian menjalankan makna dari apa yang telah dinamai.
DARI PERTEMUAN MENUJU “KITAB KEJADIANNYA”
Pembacaan tersebut kemudian memperoleh konteks baru dalam pertemuan pada 16 Agustus 2026, di Rumah Love Srikaton–Mendit–Mendut–Mandat.
Pertemuan Guntur Bisowarno dengan Wendi-Whendhi melahirkan sebuah Sloka Sastra Realita yang disebut sebagai “Kitab Kejadiannya”, dengan bahasa dan bahasan Ki Tohari, Pimpinan Sanggar Panuwunan Kasampurnane Budi Luhur.
Dalam ruang perjumpaan tersebut, nama tidak sekadar dipandang sebagai identitas administratif atau sebutan geografis. Nama diposisikan sebagai bagian dari perjalanan manusia dalam memberi arti terhadap kehidupan.
Nama dapat menjadi tanda.
Tanda dapat menjadi arah.
Arah dapat melahirkan laku.
Dan laku, pada akhirnya, meninggalkan karya.
Dari titik itulah pembacaan Penataran kemudian bertemu dengan lapisan kedua yang disebut BROTO.
BROTO: GELAR, ASMA DAN AMANAH
Pada Kamis Wage, 20 Agustus 2026, pukul 14.06 WIB, dalam bingkai “Merajut Kebijaksanaan Kebudayaan Peradaban Nusantara”, muncul peneguhan terhadap BROTO sebagai gelar yang disematkan kepada Guntur Bisowarno. Penegasan penting dalam pembacaan tersebut adalah: BROTO IS BROTO.
BROTO tidak diganti, tidak ditambah dan tidak dikurangi menjadi “BROTOA”. Namun, dalam bingkai simbolik yang sedang dibangun, BROTO kemudian dibaca melalui hubungan dengan sosok Ibu Kunti, figur keibuan dalam kisah Mahabharata yang dikenal sebagai ibu Yudhistira, Bima dan Arjuna, serta menjadi bagian penting dalam perjalanan keluarga Pandawa.
Dalam pembacaan budaya tersebut, Kunti tidak hanya dilihat sebagai tokoh dalam kisah pewayangan, tetapi sebagai simbol keibuan, keteguhan, pengasuhan, pengorbanan, kesetiaan dan tanggung jawab terhadap generasi penerus.
Karena itu, rangkaian simboliknya kemudian dibaca:
BROTO → KUNTI → BUNDA → PARA PENDOWO → PENGASUHAN → KETEGUHAN → TANGGUNG JAWAB → PERADABAN.
BROTO dengan demikian tidak ditempatkan semata sebagai sebuah sebutan, melainkan sebagai simbol amanah.
“ASMA KINARYO JOPO — NAMA ADALAH DOA”
Dari lapisan pemaknaan tersebut muncul pula ungkapan:
“Asma Kinaryo Jopo — Nama Adalah Doa.”
Nama yang diucapkan bukan hanya rangkaian bunyi. Dalam pandangan filosofis-kultural ini, nama dapat menjadi harapan. Harapan dapat menjadi doa. Doa membutuhkan kesadaran, sedangkan kesadaran pada akhirnya harus diwujudkan dalam tindakan.
Karena itu, nama tidak berhenti pada ucapan.
Nama harus menemukan bentuknya dalam laku.
Laku kemudian menemukan wujudnya dalam karya.
Dan karya yang diwariskan dapat menjadi bagian dari perjalanan kebudayaan.
Maka hubungan antara Penataran dan Broto dapat dibaca sebagai dua pintu yang menuju satu kesadaran:
PENA — menuliskan.
NATA — menata.
ARAN — memberi nama dan arah.
BROTO — mengemban amanah.
ASMA — menjadi doa.
LAKU — menjadi pembuktian.
KARYA — menjadi warisan.
SANDHI YANG TERBUKA
Jika dirangkai menjadi satu alur, Sandhi Candi Penataran kemudian menemukan bentuk simboliknya:
PENATARAN
↓
PENA NATA ARAN
↓
Nama diberi makna dan arah
↓
BROTO
↓
KUNTI — BUNDA PARA PENDOWO
↓
Amanah menjaga dan menumbuhkan generasi.
↓
NAMA → MAKNA → AMANAH → LAKU → KARYA → KEBUDAYAAN → PERADABAN
Rangkaian tersebut menjadi metafora perjalanan kesadaran Nusantara: bagaimana manusia membaca nama, menemukan makna, menerima amanah, menjalankannya dalam laku, lalu meninggalkan karya bagi generasi berikutnya.
ANTARA KRONOS DAN KAIROS
Dua tanggal kemudian menjadi penanda penting dalam perjalanan pembacaan ini. 16 Agustus 2026 menjadi penanda kronologis lahirnya pembacaan PENATARAN — PENA NATA ARAN, melalui perjumpaan Guntur Bisowarno dengan Wendi-Whendhi.
Sementara 20 Agustus 2026, Kamis Wage, pukul 14.06 WIB, menjadi penanda peneguhan lapisan kedua: BROTO — ASMA KINARYO JOPO — NAMA ADALAH DOA, dalam bingkai “Merajut Kebijaksanaan Kebudayaan Peradaban Nusantara”.
Dalam perspektif filosofis, kronos mencatat kapan sebuah peristiwa terjadi. Sedangkan kairos mengajak manusia bertanya: untuk apa sebuah peristiwa hadir, dan makna apa yang hendak ditinggalkannya?
Di antara kronos dan kairos itulah manusia menjalankan laku.
Sebab sebuah peristiwa akan menjadi lebih bermakna ketika tidak hanya dikenang sebagai tanggal, tetapi mampu melahirkan kesadaran dan karya.
DARI NAMA MENUJU PERADABAN
Sandhi Candi Penataran pada akhirnya bukan sekadar permainan kata. Ia merupakan sebuah cara pandang untuk membaca kembali hubungan antara nama, manusia, alam, kebudayaan dan peradaban.
Penataran dibaca sebagai Pena Nata Aran
Pena mengingatkan manusia untuk meninggalkan jejak.
Nata mengajarkan pentingnya menata kehidupan.
Aran memberikan identitas dan arah.
Broto mengingatkan pada amanah.
Asma mengajarkan bahwa nama dapat menjadi doa.
Laku menjadi pembuktian.
Karya menjadi warisan.
Dan warisan yang dijaga dengan kebijaksanaan dapat menjadi jalan bagi tumbuhnya peradaban. Dalam kerangka itulah kalimat “BROTO IS BROTO” memperoleh penekanannya.
Bukan sekadar kata.
Bukan pula sekadar nama.
Melainkan sebuah simbol amanah dalam bingkai pembacaan budaya yang sedang dibangun—tentang kualitas keibuan yang mengasuh, menjaga, meneguhkan dan melahirkan generasi penerus.
Ketika PENA NATA ARAN kemudian bertemu dengan BROTO, sandhi tersebut menemukan pesan yang lebih luas:
PENA MENULIS
NATA MENATA
ARAN MEMBERI ARAH
BROTO MENGEMBAN AMANAH
ASMA MENJADI DOA
LAKU MENJADI BUKTI
KARYA MENJADI WARISAN
Pada akhirnya, Sandhi Candi Penataran dapat dipahami sebagai sebuah metafora perjalanan kesadaran: dari nama menuju makna, dari makna menuju amanah, dari amanah menuju laku, dari laku menuju karya, dan dari karya menuju kebudayaan yang diwariskan kepada generasi.
Di situlah nama tidak lagi berhenti sebagai sebutan. Nama menjadi sandi. Sandi menjadi kesadaran. Kesadaran menjadi laku. Dan laku yang terus dirawat dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang kebijaksanaan kebudayaan peradaban Nusantara. (**Editor-Saidi Hartono**).




