Guntur Singgung Teknologi AI Bangun Kedewasaan Manusia

Redaksi Satu | Ada sesuatu yang sedang tumbuh di tengah perubahan zaman. Perkembangan teknologi informasi yang berlangsung sangat cepat.

Telah membawa perubahan besar terhadap cara manusia berkomunikasi, menyimpan pengetahuan, belajar, bekerja, berkarya, bahkan dalam proses mengenali dirinya sendiri.

Di tengah perubahan tersebut, sosok Guntur Bisowarno, pendiri Bamboo Spirit Nusantara, Purwosari, Pasuruan, Jawa Timur, melihat bahwa kemajuan teknologi tidak cukup hanya diukur dari kecanggihannya. Menurutnya, kemajuan juga harus diiringi dengan kemampuan manusia menjaga rasa, pengalaman, nilai, etika, kebudayaan, dan kebijaksanaan.

Dalam pandangan Guntur Bisowarno, kecerdasan buatan atau AI merupakan bagian dari perkembangan zaman yang tidak dapat dihindari. AI mampu mengolah bahasa, gambar, suara, data, serta berbagai bentuk pengetahuan dengan kemampuan yang semakin luas. Namun, teknologi tetap membutuhkan manusia sebagai sumber pengalaman, nilai, kesadaran, dan kehidupan.

Karena itu, Guntur melihat perlunya sebuah jembatan yang mampu mempertemukan masa lalu dengan masa depan. Jembatan tersebut menghubungkan yang kuno dan yang baru, tradisional dan modern, pengalaman dan pengetahuan, manusia dan teknologi.

Ruang pertemuan tersebut ia sebut sebagai HORAIZO KLASIK. Sebuah cara pandang yang menurut Guntur tidak memusuhi perubahan, tetapi juga tidak memutus hubungan manusia dengan akar kebudayaannya.

Bagi Guntur, mengambil nilai baik dari masa lalu bukan berarti menolak modernitas. Sebaliknya, memahami masa lalu dapat menjadi bekal untuk membaca kenyataan hari ini dan menyiapkan masa depan dengan lebih bijaksana.

BACA JUGA  DPP SPRI Hormati Putusan MK Atas Perkara Nomor 38/PUU-XIX/2021

Dalam pemikiran tersebut, perjalanan manusia bukan sekadar perjalanan teknologi. Ia merupakan perjalanan kesadaran, kebudayaan, pengetahuan, pengalaman, dan peradaban.

Gagasan Guntur kemudian membawa kita kepada pemahaman tentang hubungan antara kejadian, kisah, peristiwa, dan sejarah. Setiap perjalanan selalu dimulai dari sebuah kejadian. Kelahiran manusia adalah kejadian, pertemuan adalah kejadian, penemuan adalah kejadian, bahkan percakapan sederhana dapat menjadi kejadian ketika mampu mengubah cara seseorang memandang kehidupan.

Namun sebuah kejadian belum menjadi sejarah. Menurut gagasan tersebut, kejadian perlu dialami, diingat, diceritakan, dicatat, dan diwariskan. Ketika kejadian mulai diceritakan, lahirlah kisah yang membawa pengalaman manusia dari satu hati kepada hati yang lain dan dari satu generasi menuju generasi berikutnya.

Dari kisah lahir pemahaman. Dari pemahaman muncul pertanyaan. Dari pertanyaan lahir pengetahuan. Dari pengetahuan manusia kemudian mampu menghasilkan karya. Rangkaian inilah yang menjadi salah satu benang merah pemikiran Guntur dalam melihat perjalanan manusia dan peradaban.

Guntur juga mengajak masyarakat memperluas cara memandang sejarah. Sejarah tidak hanya menjadi milik tokoh besar, kerajaan, peperangan, bangunan, naskah, maupun artefak.

Sejarah juga hidup di tengah masyarakat. Ada sejarah keluarga, sejarah seseorang, sejarah kampung, sejarah komunitas, sejarah sungai, sejarah gunung, sejarah mata air, hingga sejarah sebuah karya.

Bahkan, menurut gagasan Guntur, terdapat sejarah orang-orang biasa yang mungkin tidak pernah masuk dalam buku sejarah, tetapi sepanjang hidupnya menjaga sesuatu yang sangat berharga bagi masyarakat.

BACA JUGA  Penyakit Hati Menjadi Dilema Pada Diri Manusia

Karena itu, sejarah dapat dilihat mulai dari sejarah personal, sejarah keluarga dan komunitas, sejarah lokal, sejarah nasional, sejarah internasional, hingga sejarah universal yang menempatkan manusia sebagai bagian dari bumi dan semesta.

Semua lapisan tersebut saling berhubungan. Yang personal berhubungan dengan komunitas. Komunitas berada dalam lingkungan lokal. Yang lokal menjadi bagian dari bangsa. Bangsa berhubungan dengan dunia, dan seluruh perjalanan itu berlangsung dalam satu rumah besar bernama bumi.

Dari pemahaman sejarah tersebut, Guntur kemudian mengangkat kembali nilai tradisi Saresehan sebagai ruang untuk duduk bersama, berbicara, mendengarkan, bertukar pengalaman, dan membangun pemahaman.

Bagi Guntur, saresehan bukan sekadar pertemuan. Saresehan merupakan ruang kemanusiaan. Setiap orang datang dengan membawa pengalaman hidup masing-masing.

Orang tua membawa ingatan. Anak muda membawa pertanyaan. Akademisi membawa pengetahuan. Praktisi membawa pengalaman lapangan. Budayawan membawa ingatan kebudayaan. Sementara masyarakat membawa kenyataan kehidupan.

Dalam ruang saresehan, perbedaan tidak harus menjadi penghalang. Perbedaan pengalaman justru dapat menjadi sumber pengetahuan ketika setiap orang memiliki kesediaan untuk mendengar dan memahami.

Teknologi kemudian dapat berperan sebagai alat untuk mendokumentasikan, menghubungkan, dan menyebarluaskan pengalaman tersebut kepada masyarakat yang lebih luas.

BACA JUGA  Stefanus Usul Buka Akses Pariwisata dan Pendidikan

Dari Saresehan, Guntur melihat adanya kemungkinan untuk bergerak menuju Pawiyatan, yaitu ruang belajar bersama. Baginya, belajar tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas karena kehidupan sendiri merupakan ruang pendidikan yang sangat luas.

Manusia dapat belajar dari sungai, hutan, petani, nelayan, para sepuh, anak-anak, pengalaman kegagalan, keberhasilan, penelitian, maupun percakapan. Setiap pengalaman dapat menjadi sumber pengetahuan apabila manusia mampu melihat, mendengar, mencatat, dan memaknainya.

Teknologi informasi kemudian memberikan kemungkinan baru. Pengetahuan yang sebelumnya hanya tersimpan dalam ingatan seseorang dapat direkam. Cerita lisan dapat ditulis, suara dapat didokumentasikan, foto dapat disimpan, peta dapat dibuat, dan data dapat dihimpun.

Dalam konteks tersebut, AI dapat membantu membaca, mengolah, membandingkan, dan mengembangkan berbagai bahan menjadi pengetahuan baru. Namun bagi Guntur, manusia tetap menjadi sumber pengalaman.

AI membantu menjembatani, sementara manusia tetap membawa kehidupan.

Setelah proses belajar bersama berkembang, Guntur melihat tahap berikutnya adalah Musyawarah. Musyawarah bukan sekadar mencari siapa yang menang, melainkan usaha menemukan jalan yang dapat dipertanggungjawabkan bersama.

Musyawarah membutuhkan kejujuran, kesediaan mendengar, keberanian menerima kritik, serta kemampuan membedakan fakta, pengalaman, keyakinan, pendapat, dan asumsi.

BACA JUGA  Prodi Magister Ilmu Hukum FH UKSW Raih Akreditasi Unggul

Dalam pemikiran Guntur, terdapat tiga lapisan yang menjadi benang merah perjalanan tersebut, yaitu ILAHIAH, ALAMIAH, dan ILMIAH.

Ilahiah memberikan ruang bagi pengalaman spiritual, makna, kesadaran, dan hubungan manusia dengan Sang Sumber Kehidupan.

Alamiah mengingatkan bahwa manusia merupakan bagian dari alam dan ekosistem kehidupan. Sementara ilmiah membantu manusia mengamati, mencatat, meneliti, menguji, dan mempertanggungjawabkan pengetahuan.

Ketiganya tidak harus dipertentangkan. Namun diperlukan kejujuran untuk membedakan pengalaman spiritual, data, keyakinan, pendapat, dan hasil penelitian. Menurut gagasan tersebut, kejujuran justru menjadi fondasi penting dalam membangun dialog yang sehat.

Di sinilah Guntur melihat teknologi modern dapat menjadi rumah baru bagi pengetahuan lama. Lontar dapat didigitalisasi, cerita lisan dapat direkam, pengetahuan masyarakat dapat didokumentasikan, foto dan artefak dapat diberi konteks, serta peta budaya dapat dibangun.

Bahasa daerah juga dapat dipelajari dan dikembangkan melalui teknologi. Pengalaman para sepuh dapat diwariskan kepada generasi muda. Dengan demikian, teknologi tidak harus menghapus tradisi.

Sebaliknya, teknologi dapat membantu tradisi menemukan cara baru untuk hidup dan berkembang. Inilah salah satu semangat yang ingin dibangun Guntur melalui gagasan HORAIZO KLASIK.

BACA JUGA  Perjalanan Indonesia, Merajut Kebijaksanaan Kebudayaan Nusantara

Yang klasik tidak berarti tertinggal. Yang modern tidak berarti harus melupakan akar. Keduanya dapat bertemu dalam karya yang memberikan manfaat bagi kehidupan.

Dalam gagasan Guntur, manusia dapat membawa kebijaksanaan lama menuju ruang baru. Teknologi baru dapat digunakan untuk merawat ingatan lama, sementara generasi berikutnya diberi kesempatan menemukan makna baru dari warisan yang diterimanya.

Pada perkembangan berikutnya, Guntur melihat AI sebagai sebuah jembatan baru. Manusia memiliki pengalaman, rasa, intuisi, nilai, kebudayaan, dan kehidupan nyata. AI memiliki kemampuan mengolah bahasa, pola, data, serta berbagai bentuk informasi.

Ketika keduanya bertemu secara sehat, tercipta ruang dialog baru. Manusia memberikan pengalaman, sementara AI membantu mengolah dan memantulkan kembali gagasan dalam bentuk yang dapat dibaca, dibandingkan, serta dikembangkan.

Namun, menurut Guntur, pusatnya tetap manusia. AI tidak menentukan nilai kehidupan dan tidak menggantikan pengalaman manusia. AI seharusnya membantu manusia memahami dirinya, lingkungan, sejarah, serta kemungkinan masa depannya.

Karena itu, istilah memanusiakan AI dalam gagasan Guntur bukan berarti membuat AI menjadi manusia. Memanusiakan AI berarti menempatkan teknologi dalam kerangka nilai kemanusiaan.

Di dalamnya terdapat etika, tanggung jawab, kejujuran, kepedulian, penghormatan terhadap manusia dan alam, serta kesadaran bahwa teknologi merupakan alat untuk kehidupan dan bukan tujuan kehidupan itu sendiri.

BACA JUGA  Kantor Bappelitbang Kota Bandung Terbakar

Guntur juga menempatkan komunitas sebagai bagian penting dalam pembangunan peradaban. Menurutnya, peradaban tidak hanya dibangun oleh institusi besar, tetapi juga tumbuh dari komunitas dan orang-orang yang mau bergerak untuk kehidupan.

Mereka yang merawat sungai, menanam pohon, menghidupkan kesenian, mengajarkan pengetahuan, mendokumentasikan sejarah, membuka ruang belajar, mengembangkan teknologi, membangun ekonomi masyarakat, menjaga kebudayaan, dan mempertemukan generasi sesungguhnya sedang mengambil bagian dalam pembangunan peradaban.

Gagasan tersebut ia kaitkan dengan aktivasi energi budaya peradaban Nusantara. Bukan sekadar menghidupkan simbol masa lalu, tetapi menghidupkan kembali nilai-nilai baik yang dapat menjadi tenaga menghadapi masa depan.

Kenali akar. Rawat budaya. Jaga alam. Belajar bersama. Gunakan teknologi dengan bijaksana. Berkarya untuk kehidupan. Kemudian wariskan pengalaman dan pengetahuan tersebut kepada generasi berikutnya.

Pada akhirnya, Guntur memandang Our Story bukan sebagai buku yang telah selesai ditulis. Our Story merupakan kisah yang terus bertambah halamannya seiring perjalanan manusia.

Ada Kitab Kejadian, tempat semuanya bermula. Ada Kitab Kisah, tempat pengalaman diceritakan. Ada Kitab Peristiwa, tempat kejadian mengubah perjalanan. Dan ada Kitab Sejarah Perjalanan, tempat jejak diwariskan kepada generasi berikutnya.

Di dalam perjalanan itu terdapat sejarah personal, sejarah komunitas, sejarah lokal, sejarah nasional, sejarah internasional, hingga cakrawala universal yang mengingatkan bahwa kehidupan berada dalam satu jaringan yang saling terhubung.

Dari keseluruhan gagasan tersebut, sosok Guntur Bisowarno tampil bukan sekadar berbicara mengenai teknologi, tetapi menawarkan sebuah cara pandang tentang bagaimana manusia menghadapi perubahan tanpa kehilangan akar budaya dan nilai kemanusiaannya.

Ia membayangkan sebuah ruang bersama: Saresehan untuk bertemu, Pawiyatan untuk belajar, Musyawarah untuk mencari jalan, teknologi untuk menjembatani, budaya untuk memberi akar, ilmu untuk menerangi, spiritualitas untuk memberi makna, etika untuk menjaga arah, dan cinta kasih sayang untuk menjaga kemanusiaan.

Inilah Our Story yang ditawarkan dalam gagasan Guntur Bisowarno. Bukan cerita tentang aku melawan kamu. Bukan pula cerita manusia melawan teknologi. Melainkan perjalanan dari aku dan kamu menjadi kita, dari perbedaan menuju pemahaman, dari pengalaman menuju pengetahuan, dan dari pengetahuan menuju karya.

Dari kejadian menjadi kisah. Dari kisah menjadi peristiwa. Dari peristiwa menjadi sejarah. Dari sejarah menjadi pembelajaran. Dan dari pembelajaran menjadi peradaban.

BACA JUGA  Pengadilan Tinggi Padang Peduli Gempa Pasbar

Dari Nusantara untuk dunia. Dari akar menuju karya. Dari masa lalu menuju masa depan. Dari manusia dan teknologi menuju kehidupan yang lebih manusiawi.

Satu bumi. Satu kemanusiaan. Satu perjalanan. Editor: Saidi Hartono – Ketua Pembina/Penasihat DPD Serikat Praktisi Media Indonesia Bogor Raya.

 

iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img