Pasuruan, Redaksi Satu | Di Lembah Gunung Arjuno memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini, menjadi momentum khusus bagi Guntur Bisowarno.
Bersama keluarga besar Sanggar Budaya NWB Ngesti Wedharing Budaya dan para penggiat kebudayaan di kawasan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
Dalam suasana peringatan kemerdekaan, Guntur Bisowarno hadir bersama keluarga pimpinan Sanggar Budaya NWB Ngesti Wedharing Budaya, Ki Winarno Sabda, serta Ki Tohari, pimpinan Sanggar Panuwunan Kasampurnane Budi Luhur, Desa Cendono, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan.
Pertemuan tersebut tidak sekadar menjadi perjumpaan keluarga dan komunitas budaya, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk merawat hubungan manusia dengan alam, mata air, kebudayaan, dan warisan peradaban Nusantara.
Guntur Bisowarno yang dikenal sebagai Ketua Bamboo Spirit Nusantara Support System Purwosari, Kabupaten Pasuruan, membawa semangat kebudayaan yang menempatkan alam sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Dalam momentum tersebut, Team SALAM NUSANTARA menerima sebuah dawuh dari Bunda Kunti Tali Broto yang dalam narasi kebudayaan yang mereka bangun disebut sebagai Ibu Penjaga Mata Air Dunia.
Dawuh tersebut menjadi pesan penting mengenai perlunya menjaga sumber-sumber kehidupan, khususnya mata air yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari keberlangsungan masyarakat dan ekosistem kawasan pegunungan.
Pesan itu kemudian diarahkan pada perhatian terhadap kawasan Gunung Arjuno, yang selama ini memiliki kedudukan penting dalam bentang alam, sejarah, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat Jawa Timur.
Di tengah kawasan tersebut terdapat sumber mata air, yang dikenal dengan nama Banyu Bening.
Sumber air itu ditempatkan sebagai salah satu titik penting, dalam gagasan pelestarian alam dan kebudayaan yang sedang dikembangkan oleh Team SALAM NUSANTARA.
Pada momentum 17 Agustus 2026, Banyu Bening ditetapkan dalam narasi kebudayaan tersebut sebagai sumber mata air yang berada di lembah kawasan Gunung Arjuno.
Penetapan itu diberi makna lebih luas sebagai bagian dari upaya menghubungkan, mata air dengan gagasan Gunung Arjuno sebagai Induk Peradaban Dunia.
Gagasan tersebut tidak semata-mata berbicara mengenai sebuah tempat, tetapi mencoba melihat kembali hubungan antara manusia, sumber air, gunung, kebudayaan, dan keberlanjutan kehidupan.
Bagi para penggiat Bamboo Spirit Nusantara, mata air bukan hanya sumber air secara fisik. Mata air juga dipandang sebagai simbol awal kehidupan dan titik pertemuan antara alam dengan kebudayaan manusia.
Karena itu, menjaga mata air berarti menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat yang berada di kawasan sekitarnya.
Gunung Arjuno dalam gagasan tersebut ditempatkan sebagai ruang yang menyimpan jejak alam dan kebudayaan yang perlu dipelajari, dirawat, serta diwariskan kepada generasi berikutnya. Momentum Hari Kemerdekaan kemudian memperoleh makna tambahan.
Kemerdekaan tidak hanya dipahami sebagai peristiwa sejarah bangsa, tetapi juga sebagai tanggung jawab untuk menjaga sumber kehidupan yang diwariskan alam.
“Dari sudut pandang tersebut, kemerdekaan dapat dimaknai sebagai kemampuan masyarakat untuk berdiri dengan kesadaran sendiri dalam merawat tanah, air, hutan, budaya, dan identitasnya.
Guntur Bisowarno bersama Team SALAM NUSANTARA membawa gagasan, bahwa pembangunan kebudayaan harus berjalan bersama dengan pelestarian alam.
Bamboo Spirit Nusantara Support System menjadi salah satu ruang yang digunakan, untuk mempertemukan gagasan kebudayaan, lingkungan, masyarakat, serta perjalanan sejarah Nusantara.
Di dalamnya terdapat perhatian terhadap berbagai sumber kehidupan, termasuk bambu, air, tanah, serta pengetahuan tradisional masyarakat.
Bambu sendiri dipandang memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat Nusantara. Ia tumbuh, berkembang, dapat dimanfaatkan, sekaligus memiliki filosofi tentang kelenturan, ketahanan, dan keberlanjutan.
Semangat tersebut kemudian dipertemukan dengan keberadaan mata air Banyu Bening, sebagai simbol kehidupan yang harus dijaga bersama.
Kehadiran Ki Winarno Sabda dari Sanggar Budaya NWB Ngesti Wedharing Budaya serta, Ki Tohari dari Sanggar Panuwunan Kasampurnane Budi Luhur turut memberikan warna tersendiri dalam perjalanan kebudayaan tersebut.
Sanggar budaya menjadi ruang penting untuk menjaga ingatan masyarakat, mempertemukan generasi, dan menghidupkan kembali nilai-nilai kebudayaan yang mulai terdesak oleh perubahan zaman.
Karena itu, perjalanan menuju Banyu Bening tidak hanya dapat dilihat sebagai, perjalanan menuju sebuah sumber air, tetapi juga sebagai perjalanan menuju kesadaran tentang pentingnya merawat warisan alam dan kebudayaan.
Dalam catatan yang dibuat Team SALAM NUSANTARA, penetapan Banyu Bening berlangsung pada
17 Agustus 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Tanggal tersebut kemudian menjadi bagian dari arsip perjalanan kebudayaan yang sedang dibangun oleh para penggagasnya.
Dokumentasi mengenai penetapan tersebut juga disebut akan diarsipkan di Perpustakaan Baru Kuno Modern HORAIZO Klasik, kawasan Gunung Arjuno, yang dalam gagasan mereka ditempatkan sebagai bagian dari kawasan Induk Peradaban Dunia.
Pengarsipan tersebut memiliki makna penting karena sebuah gagasan kebudayaan, tidak cukup hanya disampaikan dari satu generasi kepada generasi berikutnya melalui cerita lisan.
Ia juga perlu dicatat, didokumentasikan, dan disimpan sebagai bagian dari perjalanan pemikiran masyarakat.
Bagi Guntur Bisowarno dan Team SALAM NUSANTARA, perjalanan ini menjadi bagian dari ikhtiar untuk mempertemukan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu kesadaran kebudayaan.
Banyu Bening, Gunung Arjuno, sanggar budaya, serta masyarakat yang berada di sekitarnya kemudian ditempatkan dalam satu rangkaian cerita tentang kehidupan dan peradaban.
Pada akhirnya, pesan yang dibawa dari kawasan tersebut adalah bahwa peradaban tidak hanya dibangun melalui gedung, teknologi, dan ekonomi, tetapi juga melalui kemampuan manusia menjaga sumber air, alam, kebudayaan, dan ingatan leluhur.
Dari lembah Gunung Arjuno, pesan itu kembali diarahkan kepada generasi mendatang: bahwa kemerdekaan harus disertai tanggung jawab merawat sumber kehidupan.
Tanggal 17 Agustus 2026 pun dicatat sebagai momentum, penetapan Banyu Bening dalam perjalanan budaya Team SALAM NUSANTARA. Sekaligus menjadi bagian dari arsip perjalanan Bamboo Spirit Nusantara Support System.
Dari mata air yang bening, sebuah pesan kebudayaan hendak diwariskan: menjaga air berarti menjaga kehidupan, menjaga alam berarti menjaga peradaban, dan menjaga kebudayaan berarti menjaga jati diri Nusantara untuk masa depan. (Editor: Saidi Hartono).




