JAKARTA, Redaksi Satu | Peradaban Nusantara kembali dibaca dari sudut pandang yang menarik. Kali ini, Ki Guntur Bisowarno, pemimpin Bamboo Spirit Nusantara, mengangkat Wales dan England.
Sebagai pintu masuk untuk memahami bagaimana perbedaan identitas, bahasa, budaya, dan sejarah dapat tetap hidup dalam satu ruang kebersamaan.
Hal itu disampaikan kepada Jurnalis Kairos-Kairozo Saidi Hartono oleh Ki Guntur Bisowarno, pembacaan terhadap Wales dan England tidak berhenti pada persoalan geografis Eropa.
Keduanya menjadi cermin untuk melihat kembali bagaimana Nusantara sejak lama mengenal, keberagaman sebagai bagian dari kekuatan peradaban.
Wales merupakan salah satu negara konstituen dalam United Kingdom atau Kerajaan Britania Raya. Cardiff menjadi ibu kotanya, sementara bahasa Inggris dan bahasa Wales atau Cymraeg hidup berdampingan dalam kehidupan masyarakat.
Bahasa Wales memiliki akar Celtic dan menjadi salah satu penanda kuat identitas masyarakat Wales. Di tengah perkembangan zaman, bahasa, sastra, musik, puisi, serta tradisi lokal tetap menjadi bagian penting dari karakter Wales.
Simbol naga merah atau Y Ddraig Goch juga menjadi identitas yang sangat kuat. Lambang tersebut tidak sekadar menjadi simbol negara, tetapi merepresentasikan sejarah, keberanian, dan kebanggaan masyarakat Wales.
Wales dikenal pula sebagai negeri penyair, penyanyi, kastil, pegunungan, serta sejarah pertambangan batu bara. Tradisi musik koor dan festival budaya seperti Eisteddfod memperlihatkan bagaimana kebudayaan dapat menjadi ruang pertemuan masyarakat.
Sementara itu, England merupakan negara konstituen terbesar dalam United Kingdom. Letaknya mendominasi bagian selatan dan tengah Pulau Great Britain, dengan Wales berada di sebelah baratnya.
Secara geografis, Wales dan England berada dalam satu pulau, tetapi keduanya mempunyai perjalanan sejarah dan identitas yang tidak sepenuhnya sama. Perbedaan tersebut justru menjadi bagian dari wajah Britania Raya.
Ki Guntur menggunakan perbandingan sederhana untuk menjelaskan gagasan tersebut. Wales, menurut analoginya, dapat dibayangkan seperti sebuah wilayah di Nusantara yang memiliki bahasa, tradisi, dan identitas budaya sendiri, tetapi tetap berada dalam satu rumah kebangsaan yang lebih besar.
“Beda boso, bedo adat, tapi tetep satu atap,” menjadi salah satu benang merah pemikiran yang dikembangkan dalam pembacaan tersebut.
Dalam konteks sejarah, hubungan Wales dan England mengalami perubahan besar melalui proses integrasi politik. Wales secara hukum dipersatukan dengan England melalui Laws in Wales Acts pada abad ke-16.
Meski demikian, identitas Wales tidak hilang. Bahkan dalam perkembangan politik modern, Wales memiliki lembaga legislatif devolusi yang dikenal sebagai Senedd Cymru atau Welsh Parliament di Cardiff.
Dari sini, Ki Guntur melihat sebuah pelajaran penting bagi Nusantara: persatuan tidak selalu harus dibangun melalui penyeragaman.
Justru keberagaman bahasa, adat, kesenian, sejarah lokal, dan cara masyarakat memaknai kehidupan dapat menjadi kekuatan ketika ditempatkan dalam hubungan yang saling menghormati.
United Kingdom sendiri terdiri atas empat negara konstituen, yakni England, Wales, Scotland, dan Northern Ireland. Struktur tersebut menunjukkan bahwa sebuah kesatuan politik dapat menaungi identitas yang beragam.
Bagi Ki Guntur, gambaran itu memiliki resonansi dengan pengalaman peradaban Nusantara. Indonesia juga tumbuh dari ribuan pulau, bahasa, adat, kesenian, tradisi, dan komunitas yang mempunyai karakter masing-masing.
Karena itu, keberagaman tidak semestinya dipandang sebagai ancaman terhadap persatuan. Keberagaman justru dapat menjadi fondasi untuk membangun rumah bersama yang lebih luas.
“Tidak perlu sama untuk bersatu. Cukup saling menghormat di bawah satu langit,” demikian gagasan yang menjadi salah satu pesan utama pembacaan tersebut.
Dari Wales dan England, pembahasan kemudian bergerak menuju gagasan yang lebih luas mengenai hubungan antartradisi dan antarperadaban.
Dalam konteks inilah muncul gagasan Jembatan Nusantara–Emmanuel, sebuah upaya membaca nilai kemanusiaan melalui dialog simbolik antara Arsitektur Kesadaran Nusantara dan Komunitas Emmanuel.
Komunitas Emmanuel sendiri merupakan komunitas Katolik internasional yang bermula dari sebuah persekutuan doa di Paris pada 1972 dan berkembang ke berbagai negara.
Dalam penghayatan komunitas tersebut, kehidupan Emmanuel dirangkum melalui tiga dimensi utama, yakni adorasi, belas kasih, dan evangelisasi.
Ki Guntur menempatkan tiga dimensi tersebut bukan sebagai sesuatu yang harus dicampuradukkan dengan simbol Nusantara, melainkan sebagai ruang dialog yang memungkinkan setiap tradisi tetap berdiri dengan akar dan identitasnya masing-masing.
Dengan pendekatan itu, Nusantara tetap menjadi Nusantara, sementara Emmanuel tetap mempunyai identitas dan akar spiritualnya. Pertemuan keduanya diletakkan pada wilayah kemanusiaan, kepedulian, pelayanan, dan kehidupan bersama.
Gagasan tersebut kemudian dirumuskan melalui empat tiang Arsitektur Nusantara yang disebut sebagai Baca Zaman, Jogo Arah, Eling Waspada, dan Ngorehan.
“Baca Zaman” dimaknai sebagai kemampuan membaca tanda-tanda zaman dengan kejernihan, doa, dan kebijaksanaan agar manusia tidak kehilangan orientasi dalam menghadapi perubahan.
“Jogo Arah” menjadi pengingat bahwa perjalanan kehidupan membutuhkan arah. Dalam refleksi spiritual, manusia diajak berhenti sejenak, melakukan perenungan, dan kembali menyadari hubungan dirinya dengan Tuhan.
“Eling Waspada” mengandung pesan agar manusia tidak kehilangan kepekaan terhadap keadaan di sekitarnya. Kesadaran tersebut diarahkan kepada mereka yang kecil, lemah, terluka, dan tersingkir.
Sementara “Ngorehan” ditempatkan sebagai gerak untuk mencari, mengumpulkan, dan menguatkan kembali mereka yang tercerai dari kehidupan bersama.
Keempat tiang tersebut kemudian dipertemukan dengan tiga daya Emmanuel: Adorasi, Belas Kasih, dan Evangelisasi.
Dari pertemuan itu muncul sebuah formula simbolik yang dirumuskan sebagai empat tiang Nusantara, tiga daya Emmanuel, dan satu cahaya di tengah.
Cahaya di tengah tersebut adalah Emmanuel yang secara harfiah bermakna “Allah beserta kita”. Dalam gagasan ini, kehadiran Tuhan dipahami sebagai pusat yang menghidupkan doa, kepedulian, pelayanan, dan kasih.
Ki Guntur menyebut “Bentuk Kasih” sebagai salah satu kata kunci yang dapat menjadi jembatan. Kasih bukan sekadar gagasan, tetapi menjadi daya yang diwujudkan melalui kepedulian terhadap manusia dan kehidupan.
Karena itu, Jembatan Nusantara–Emmanuel tidak diarahkan untuk menyamakan semua tradisi. Sebaliknya, jembatan tersebut menjadi ruang untuk saling mengenal, menghormati, dan menemukan nilai kemanusiaan yang dapat dikerjakan bersama.
“Beda kulit, sama-sama ngopeni manusia, ben ora kehilangan arah,” menjadi ungkapan yang menggambarkan semangat tersebut.
Dalam perspektif itu, Nusantara dapat dibayangkan sebagai rumah besar yang dibangun dari banyak tiang. Setiap daerah membawa warna, bahasa, sejarah, dan kebudayaannya sendiri, tetapi seluruhnya memiliki tanggung jawab menjaga rumah bersama.
Emmanuel kemudian dibaca sebagai pengingat mengenai kehadiran, kasih, doa, dan pelayanan. Bukan untuk menghapus perbedaan, melainkan untuk menghadirkan kepedulian di tengah kehidupan yang terus berubah.
Arsitektur tersebut akhirnya bermuara pada satu gambaran: rumah yang tidak pernah kosong. Rumah bukan menjadi bermakna karena banyaknya benda di dalamnya, tetapi karena ada kehadiran, kepedulian, doa, pelayanan, dan kasih.
Dari Wales dan England hingga Nusantara dan Emmanuel, Ki Guntur Bisowarno mencoba menawarkan satu cara membaca peradaban: persatuan tidak harus dibangun dengan menghilangkan perbedaan.
Perbedaan bahasa dapat tetap hidup. Tradisi dapat tetap berakar. Identitas dapat tetap dijaga. Namun manusia tetap dapat duduk di bawah satu langit dan merawat kehidupan bersama.
Pada akhirnya, pesan tersebut kembali kepada kesadaran paling sederhana: baca zaman, jaga arah, eling dan waspada, serta ngopeni sesama.
Sebab peradaban bukan hanya tentang masa lalu, bangunan, wilayah, atau simbol. Peradaban juga tentang bagaimana manusia menjaga manusia lain agar tidak kehilangan arah dalam perjalanan kehidupan.
“Tidak perlu sama untuk bersatu. Cukup saling menghormat di bawah satu langit.” (**Redpel**).




