Keluarga Korban Membawa Duka, Akibat Longsor Penambangan di Cirebon

Cirebon, redaksisatu.id – Peristiwa longsor Gunung Kuda Cirebon, menelan duka bagi keluarga korban.
Seiring duka dan tangis tersayat sembilu bagi keluarga korban, akibat terjadi longsor di kawasan tambang galian C Gunung Kuda, Dukupuntang, Kabupaten Cirebon.

Keluarga korban menyimpan duka teramat dalam peristiwa ini, menjadi catatan kelam bagi para pegiat tambang galian C di Gunung Kuda Cirebon.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

BACA JUGA  Apel Siaga dan Launching TPS Rawan Pemilu 2024, Karoops Polda Kalbar: 161 TPS Sangat Rawan

Di mana petugas dan alat berat pun turun ikut bahu-membahu mencari, para korban (penambang) yang Tertimbun.

Kepanikan para keluarga korban, mengalami kenyataan pahit yang terus bergulir:

Jumlah korban tewas akibat longsor di lokasi tambang kian bertambah.

BACA JUGA  Polres Pasbar Ungkap Kegiatan PETI

Memasuki hari kedua operasi pencarian, tim SAR gabungan kembali menemukan tiga jenazah pekerja tambang yang tertimbun longsor.

Ketiganya ditemukan dalam kondisi mengenaskan, pada Sabtu sore. 

Identitas para korban telah berhasil diungkap, berkat kerja cepat tim forensik dan bantuan warga sekitar.

BACA JUGA  Bencana Alam di Jawa Barat Terkendali Dengan Sinergitas 4 Pilar

Korban pertama adalah Sakira (44), warga Blok Karang Baru, Kelurahan Cikeusal, Kecamatan Gempol. 

Ia dikenal sebagai sosok ulet yang setiap hari bekerja keras demi menghidupi keluarganya. 

Kedua, Sanadi (47), juga berasal dari Kelurahan Cikeusal, Blok Karang Anyar. 

BACA JUGA  Begal Payudara Kembali Beraksi di Giri Maju

Ia adalah ayah dari tiga anak yang kabarnya baru saja, merayakan ulang tahun pernikahan ke-20 bersama istrinya sepekan lalu. Korban ketiga,

Sunadi (30), warga Blok II Wanggung Wangi, Kelurahan Girinata, dikenal oleh rekan-rekannya sebagai pekerja muda penuh semangat.

Dia bercita-cita membuka usaha sendiri, agar bisa keluar dari kerasnya dunia tambang.

BACA JUGA  FP UNIB Budidayakan Ikona Melon

Ketiganya ditemukan dalam kondisi luka parah dan tubuh yang sudah kaku, indikasi bahwa mereka telah meninggal dunia beberapa jam setelah tertimbun.

“Tidak ada kesulitan dalam proses identifikasi karena keluarga korban turut membantu,” ungkap Kapolresta Cirebon,

Kombes Pol Sumarni, yang terus memantau proses evakuasi dari dekat.

BACA JUGA  Hingga Hari ke 6 Bantuan Untuk Para Korban Gempa Pasbar Terus Mengalir

Ketiga jenazah langsung dilarikan ke RSUD Arjawinangun untuk proses lebih lanjut.

Dengan penemuan terbaru ini, total korban jiwa akibat longsor maut di Gunung Kuda kini telah mencapai 17 orang.

Namun, tragedi ini belum berakhir. Masih ada delapan jiwa lagi yang belum ditemukan.

BACA JUGA  Seorang Kakek di Terkam Buaya di Sungai Bangko Rohil

terkubur entah di kedalaman berapa meter di bawah reruntuhan batuan dan tanah. Proses pencarian tidak mudah.

Struktur tanah yang labil, cuaca yang tidak menentu, serta keterbatasan medan membuat tim evakuasi bekerja dengan risiko tinggi.

Meski demikian, harapan masih dipegang erat, baik oleh para relawan, aparat, maupun keluarga korban yang tak henti menanti kabar dari lokasi.

BACA JUGA  Ki Guntur: Antara Wales, England dan Jembatan Nusantara

Salah satu istri korban yang masih tertimbun, dengan mata sembab dan tangan menggenggam foto suaminya, berkata lirih,

“Saya hanya ingin dia ditemukan, apapun keadaannya… Saya ingin menguburkannya dengan layak.”

Longsor yang terjadi pada Kamis (30/5) itu menjadi tamparan keras bagi dunia pertambangan rakyat di wilayah Cirebon.

BACA JUGA  Langit Emas yang Menangis, Saat Tanah Leluhur Tak Lagi Menjadi Rumah

Aktivitas penambangan batu di Gunung Kuda memang sudah lama menuai sorotan.

Karena minimnya standar keselamatan kerja, dan lemahnya pengawasan.

Tragedi ini seperti mempertegas bahwa, ada harga yang sangat mahal dari kelalaian yakni nyawa manusia.

BACA JUGA  Kapolres Nuswanto Salurkan Bansos Kepada 35 Warga

Hingga berita ini diturunkan, pencarian dan evakuasi masih terus dilakukan dengan peralatan berat dan bantuan anjing pelacak.

Sementara itu, tangis dan doa terus mengalir, dari pinggir lokasi tambang yang kini berubah menjadi medan duka.

Tragedi Gunung Kuda bukan sekedar berita duka, tapi peringatan keras bahwa keselamatan kerja bukan hal yang bisa dinegosiasi. (MOND).

BACA JUGA  Korban Laka Lantas Tidak Diberi Bukti Lapor    

 

spot_img