Penulis: Saidi Hartono
Malang, Redaksi Satu | Gagasan membangun Peradaban Nusantara, kembali disuarakan Ki Joko Pitono atau yang dikenal dengan sebutan Ki Mat Pelor.
Ia mengajak masyarakat untuk kembali, menempatkan Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam pandangannya, pembangunan peradaban Nusantara tidak hanya berbicara mengenai kemajuan teknologi, ecobio system culture maupun pembangunan fisik.

Lebih dari itu, pembangunan peradaban harus berangkat dari kekuatan jiwa, karakter, nilai kebangsaan, serta kesadaran negara terhadap jati diri Nusantara.
“Ini,” ungkap Mat Pelor, menjadi bagian dari pemikiran untuk melihat kembali hubungan antara Pancasila, manusia Indonesia, dan perjalanan peradaban Nusantara.
Menurutnya, semangat membangun Nusantara harus dilakukan dengan menyingsingkan jiwa dan seluruh rakyat Indonesia dimana pun berada menyalakan kembali semangat pengabdian kepada bangsa.
Bakti kepada bangsa, lanjutnya, bukan sekadar kata-kata. Bakti merupakan sikap yang diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menilai Pancasila memiliki kedudukan penting sebagai dasar yang dapat menjadi pijakan dalam membangun kehidupan masyarakat yang adil, beradab, bersatu, demokratis, dan berkeadilan sosial.
Bagi Mat Pelor, Pancasila tidak semestinya hanya dihafalkan sebagai lima rumusan sila. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus mampu diwujudkan dalam perilaku kehidupan masyarakat.
Pancasila, menurut dia, memiliki makna yang luas ketika diterjemahkan menjadi sikap hidup. Setiap sila memiliki pesan moral yang dapat menjadi pedoman bagi seluruh anak bangsa.
Sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, yang dilambangkan dengan Bintang Emas.
Nilai tersebut mengingatkan manusia untuk menempatkan kehidupan berketuhanan sebagai bagian penting dalam membangun karakter dan moral bangsa.
Sila kedua adalah Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, yang dilambangkan dengan Rantai.
Makna kemanusiaan, menurut pemikiran Mat Pelor, harus tercermin melalui penghormatan terhadap sesama manusia, sikap adil, kepedulian, serta perilaku yang menjunjung tinggi martabat manusia.
Sila ketiga adalah Persatuan Indonesia, dengan lambang Pohon Beringin.
Persatuan menjadi kekuatan penting bagi bangsa yang memiliki keberagaman suku, budaya, bahasa, tradisi, dan wilayah yang sangat luas.
Dalam konteks Nusantara, persatuan tidak berarti menghilangkan keberagaman. Sebaliknya, keberagaman menjadi kekayaan yang harus dirawat dalam bingkai kebersamaan sebagai bangsa Indonesia.
Sila keempat adalah Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dengan lambang Kepala Banteng.
Sila tersebut mengandung pesan mengenai pentingnya kehidupan demokrasi yang mengedepankan musyawarah, kebijaksanaan, dan kepentingan bersama.
Bagi Mat Pelor, kehidupan masyarakat tidak seharusnya dibangun hanya berdasarkan kepentingan pribadi atau kelompok. Musyawarah menjadi ruang untuk mencari jalan keluar yang dapat diterima bersama.
Sementara sila kelima adalah Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, yang dilambangkan dengan Padi dan Kapas.
Keadilan sosial, menurutnya, merupakan salah satu tujuan penting dalam membangun peradaban. Kemajuan bangsa harus dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Karena itu, pembangunan peradaban Nusantara harus memperhatikan kehidupan masyarakat dari berbagai lapisan, termasuk pedagang, petani, guru, buruh, dan kelompok masyarakat lainnya.
Mat Pelor berpandangan bahwa masyarakat merupakan bagian penting dari perjalanan sebuah bangsa. Peradaban tidak lahir hanya dari pusat-pusat kekuasaan, tetapi juga tumbuh dari kehidupan rakyat sehari-hari.
Para pedagang, misalnya, memiliki peran dalam menggerakkan kehidupan ekonomi masyarakat. Petani menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan dan keberlangsungan kehidupan.
Guru memiliki peran dalam membentuk generasi penerus. Sementara para buruh menjadi bagian dari kekuatan produktif yang turut menggerakkan roda pembangunan.
Karena itu, seluruh unsur masyarakat memiliki kedudukan penting dalam membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila.
Mat Pelor mengingatkan agar nilai Pancasila tidak berhenti sebagai simbol. Ruh Pancasila harus hadir dalam kehidupan nyata dan menjadi pedoman dalam mengambil keputusan.
Menurutnya, apabila nilai-nilai tersebut hanya menjadi slogan tanpa perwujudan, maka makna yang terkandung di dalam Pancasila dapat semakin jauh dari kehidupan masyarakat.
Ia menggambarkan kondisi tersebut sebagai kekhawatiran terhadap “Ruh Pancasila” yang seakan sirna dan ditelan bumi.
Karena itu, diperlukan kesadaran bersama untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila melalui tindakan yang sederhana sekalipun.
Kesadaran tersebut dapat dimulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, tempat kerja, lembaga pendidikan, hingga ruang-ruang kehidupan berbangsa dan bernegara.
Membangun peradaban, kata Mat Pelor, membutuhkan semangat yang terus menyala. Semangat tersebut bukan semata-mata semangat pembangunan fisik, melainkan semangat membangun manusia.
Manusia yang memiliki kesadaran terhadap nilai kemanusiaan, persatuan, musyawarah, keadilan, serta hubungan dengan Tuhan akan menjadi fondasi penting bagi masa depan bangsa.
Ia pun mengajak seluruh elemen bangsa Nusantara untuk melihat kembali perjalanan panjang bangsa dengan kesadaran dan penghormatan.
Menurutnya, mengenang perjalanan bangsa bukan sekadar melihat masa lalu. Dari sejarah, masyarakat dapat mengambil pelajaran untuk menentukan arah masa depan.
Dalam konteks tersebut, penghormatan terhadap Nusantara dapat diwujudkan melalui sikap hening, refleksi, dan kesadaran terhadap tanggung jawab sebagai anak bangsa.
Mat Pelor mengajak seluruh masyarakat, dari pedagang, petani, guru, buruh, hingga berbagai lapisan masyarakat lainnya, untuk bersama-sama mengheningkan cipta beberapa saat.
Hening tersebut dimaknai sebagai tanda penghormatan yang setinggi-tingginya kepada Nusantara, kepada perjalanan bangsa, dan kepada nilai-nilai luhur yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
“Marilah kita mengheningkan cipta beberapa saat sebagai tanda penghormatan yang setinggi-tingginya bagi Nusantara,” demikian ajakan Mat Pelor.
Ajakan tersebut sekaligus menjadi refleksi bahwa membangun bangsa bukan hanya tanggung jawab satu kelompok. Masa depan Nusantara merupakan tanggung jawab bersama seluruh anak bangsa.
Pancasila, dalam pandangan tersebut, bukan hanya sebuah dasar negara, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan berbagai keberagaman yang membentuk Indonesia.
Karena itu, menjaga Pancasila berarti menjaga persatuan, kemanusiaan, musyawarah, keadilan, serta nilai ketuhanan dalam kehidupan bersama.
Pesan Ki Joko Pitono atau Ki Mat Pelor pada akhirnya mengarah pada satu hal: peradaban Nusantara harus dibangun dengan kesadaran, pengabdian, dan pengamalan nilai Pancasila.
Semangat tersebut menjadi ajakan untuk tidak sekadar berbicara tentang Nusantara, tetapi ikut mengambil bagian dalam merawat dan membangun peradabannya.
Dengan demikian, Pancasila diharapkan tetap hidup sebagai nilai yang diwujudkan dalam tindakan, bukan sekadar menjadi simbol yang dikenang.
Dari sanalah semangat membangun peradaban Nusantara dapat terus menyala—dengan jiwa yang mengabdi, rakyat yang bersatu, kemanusiaan yang dijunjung, musyawarah yang dijalankan, serta keadilan sosial yang diperjuangkan bersama.




