Omah Budaya Kahangnan Solusi Jawaban Program GKR Bendoro

BANTUL, YOGYAKARTA, Redaksi Satu | Puncak perjalanan Bamboo Spirit Nusantara (BSN) yang dipimpin Ki Guntur Bisowarno menuju Yogyakarta berakhir dalam sebuah perjumpaan penuh makna di Galeri Kahangnan, Omah Budaya Kahangnan, Pajangan, Bantul.

Pertemuan tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus dialog yang mempertemukan kebudayaan, Ecobio System Culture, Tourism, Pariwisata, serta pemikiran mengenai sumber hidup, penghidupan, dan kehidupan manusia.

BSN tiba di Galeri Kahangnan pada 8 September 2026 sekitar pukul 21.00 WIB. Suasana malam yang sejuk menyambut kedatangan rombongan, setelah menempuh perjalanan dari Pasuruan menuju Yogyakarta.

Kehadiran Ki Guntur Bisowarno bersama rombongan disambut Hangno dan Sian selaku tuan rumah Omah Budaya Kahangnan.

Omah Budaya Kahangnan berada di Jalan Pringgading RT 01, Pajangan, Bantul, Yogyakarta. Tempat tersebut menjadi ruang yang mempertemukan berbagai pengalaman dan gagasan tentang kebudayaan serta kehidupan.

Ki Guntur hadir bersama timnya dari Kabupaten Sleman, Saidi Hartono dan Desi Yuanita Saphira.

Kehadiran rombongan BSN sejak awal membawa suasana penuh keakraban. Rasa penasaran yang muncul sebelum pertemuan, perlahan berubah menjadi dialog yang semakin menarik.

BACA JUGA  Jual Beli Jabatan Bupati Ponorogo, Kini Berurusan Dengan KPK

Hangno dan Sian mengikuti percakapan tersebut dengan penuh perhatian. Sebagai pasangan suami istri, keduanya menangkap sejumlah gagasan yang dinilai memiliki keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Pembicaraan kemudian memasuki tema mengenai sumber hidup, penghidupan, dan kehidupan. Ketiga hal tersebut menjadi salah satu pokok penting dalam perbincangan malam itu.

Ki Guntur menyampaikan bahwa manusia tidak dapat dipisahkan, dari sumber kehidupan yang menopang perjalanan hidupnya.

Penghidupan juga, bukan hanya persoalan memenuhi kebutuhan ekonomi. Di dalamnya terdapat proses manusia membangun hubungan, menciptakan karya, serta memberikan manfaat bagi lingkungan.

Dari pembahasan tersebut, diskusi kemudian berkembang menuju persoalan Ecobio System Culture, Tourism, dan Linguid.

Ekonomi dibicarakan, dalam kaitannya dengan berkaitan lingkungan keberlangsungan kehidupan masyarakat/ekologi.

Kebudayaan pun dipandang memiliki potensi untuk menjadi bagian dari ekosistem ekonomi yang memberikan manfaat kepada Lingkungan/Ekologi sebagaimana yang dijelaskan Prof Mohammad Adib, Guru Besar Fisip Unair, di bidang Antrologi Lingkungan.

BACA JUGA  Hari ke 5 Korban Hilang di Laut Air Bangis Belum Ditemukan

Sementara Ecobio System, Culture, Support System Tourism membuka perspektif mengenai hubungan antara manusia, sistem kehidupan, dan kebudayaan.

Pembahasan tersebut membuat suasana Galeri Kahangnan semakin hidup, meskipun berlangsung semakn larut malam mendekati pukul 00:00 WIB.

Percakapan tidak berjalan satu arah. Berbagai pengalaman dan pertanyaan menjadi bagian dari proses dialog antara BSN dengan tuan rumah.

Hangno dan Sian kemudian mengaitkan pertemuan tersebut dengan pengalaman mereka ketika menjadi peserta Sarasehan Roso Orep Sejati 1000 Pawiyatan.

Pengalaman dalam sarasehan tersebut meninggalkan, cerita yang mengesankan bagi keduanya.

Dari pengalaman itu pula muncul gagasan mengenai kemungkinan kerja sama di bidang Pariwisata.

Salah satu peluang yang dibicarakan adalah potensi kunjungan wisatawan mancanegara, khususnya dari India dan China.

BACA JUGA  Tiga Pelaku Penggelapan Freezer Terancam Pidana 5 Tahun

Pembahasan mengenai wisatawan mancanegara kemudian ditempatkan dalam konteks bagaimana Yogyakarta, dapat terus mengembangkan daya tarik wisatanya.

Pariwisata tidak hanya membutuhkan destinasi yang menarik, tetapi juga lingkungan yang nyaman, bersih, asri, dan memiliki karakter budaya yang kuat.

Gagasan tersebut sebelumnya juga telah menjadi bagian dari Dialog Ngopi Bareng bersama DPP PUTRI dan Gusti Kanjeng Ratu Bendara.

Forum tersebut menjadi ruang untuk bertukar pandangan, mengenai masa depan pariwisata Yogyakarta.

Dalam percakapan yang dikutip dari forum tersebut, muncul gagasan mengenai pengembangan pariwisata di kawasan Bandara DIY agar semakin dikenal publik dari dalam, Luar Negeri, khususnya pada pandangan dan sudut pandang ecobio culture bio system.

Pesan tersebut sekaligus membuka ruang partisipasi bagi para relawan pelaku usaha domestik Internasional dan masyarakat untuk memberikan masukan. Misalnya (Hotel KJ) Provinsi Yogyakarta.

Keterlibatan berbagai pihak dinilai penting untuk menciptakan kawasan wisata yang asri, bersih, berkembang, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

BACA JUGA  Suzuki Carry Vs Bis Family Tabrakan Tak Terhindarkan

Gagasan tersebut mendapat perhatian dari peserta yang beberapa minggu sebelumnya mengikuti kegiatan Ngopi Bareng Bersama PUTRI di Taman Pintar Yogyakarta.

Dari ruang dialog tersebut terlihat bahwa pariwisata membutuhkan kolaborasi berbagai unsur.

Pemerintah, masyarakat, komunitas budaya, pelaku usaha, hingga relawan memiliki ruang untuk memberikan kontribusi sesuai kapasitas masing-masing.

Bagi BSN, gagasan kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat.

Kebudayaan harus mampu menjadi sumber inspirasi yang dapat diterjemahkan dalam kehidupan nyata.

Dalam konteks itulah Ki Guntur kemudian menjelaskan mengenai sosok Hanoman.

Hanoman dikenal luas sebagai salah satu tokoh penting, dalam dunia pewayangan Nusantara.

BACA JUGA  Bhinneka Tunggal Ika, Mitreka Satata: Tan Hana Dharma Mangruwa

Namun, dalam penjelasan Ki Guntur, Hanoman tidak hanya ditempatkan sebagai tokoh dalam cerita.

Hanoman menjadi simbol yang dapat digunakan untuk membaca hubungan antara manusia dengan sumber hidup, penghidupan, dan kehidupan.

Pembahasan mengenai Hanoman tersebut kembali memunculkan rasa penasaran Hangno dan Sian.

Berbagai pertanyaan kemudian muncul mengenai bagaimana sebuah simbol budaya dapat memiliki keterkaitan dengan perjalanan kehidupan manusia.

Dari sinilah percakapan budaya menemukan kedalamannya.

Simbol Hanoman menjadi pintu masuk untuk melihat nilai keberanian, kesetiaan, pengabdian, kekuatan, dan tanggung jawab dalam kehidupan manusia.

Menurut perspektif yang dibangun dalam dialog tersebut, kebudayaan tidak semestinya hanya dipandang sebagai warisan masa lalu, namun juga merupakan kerja kerja merupakan subyek Ya” besar dimasa kini untuk menyongsong masa depan penuh harapan dan kegembiraan kebudayaan.

BACA JUGA  Sertijab Camat Kinali Muhammad Bona Fatwa Resmi di serah Terimakan

Kebudayaan dapat menjadi sumber pengetahuan dan inspirasi untuk membaca persoalan kehidupan masa kini.

Pertemuan BSN dengan Hangno dan Sian akhirnya menjadi lebih dari sekadar kunjungan.

Galeri Kahangnan berubah menjadi ruang dialog yang mempertemukan budaya, ekonomi, pariwisata, pengalaman, serta pemikiran tentang kehidupan.

Kehadiran Ki Guntur bersama Saidi Hartono dan Desi Yuanita Saphira dari Sleman membawa warna tersendiri dalam perjumpaan tersebut.

Bagi Hangno dan Sian, pertemuan itu meninggalkan pengalaman yang mengesankan sekaligus membuka ruang pertanyaan baru.

Dari Pasuruan menuju Bantul, perjalanan BSN akhirnya menemukan sebuah titik temu: kebudayaan dapat menjadi jembatan untuk membangun gagasan ekonomi, pariwisata, dan kehidupan yang lebih berkelanjutan.

Malam di Galeri Kahangnan pun menjadi catatan sebuah perjumpaan yang berawal dari rasa penasaran dan berakhir dengan lahirnya berbagai gagasan.

BACA JUGA  Sungai Batang Air Haji Pasaman Barat Meluap 15 Rumah Terendam

Sebuah percakapan sederhana tentang Hanoman berkembang menjadi pembicaraan lebih luas tentang manusia dan kehidupannya.

Dari sumber hidup, penghidupan, hingga kehidupan, seluruh gagasan tersebut bertemu dalam semangat membangun kebudayaan Nusantara yang tetap hidup, relevan, dan memberi manfaat bagi generasi mendatang.

Penghidupan juga bukan hanya persoalan memenuhi kebutuhan ekonomi. Di dalamnya terdapat proses manusia membangun hubungan, menciptakan karya, serta memberikan manfaat bagi lingkungan.

Dari pembahasan tersebut, diskusi kemudian berkembang menuju persoalan asfek Ecobio System Culture Tourism, menggunakan bahasa Linguid yang Liquid, apa Linguid yang Liquid akan diberitakan di artikel selanjutnya..

Hangno tokoh Hanoman lewat Omah Budaya Kahangnan.

Html code here! Replace this with any non empty text and that's it.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img