PENGETAHUAN PERADABAN NUSANTARA SERI 7.
Jakarta, Redaksi Satu | Mempelajari warisan peradaban Nusantara tidak cukup hanya, dengan mengagumi peninggalan masa lalu.
Setelah sumber dikenali, waktu dan konteks dibaca, data dipisahkan dari tafsir, serta berbagai keterangan dibandingkan, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting: di mana sebenarnya kedudukan pengetahuan yang kita temukan?
Pertanyaan tersebut menjadi pokok bahasan dalam Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 7, berjudul “Memilah Pengetahuan Peradaban Nusantara:
Dari Bukti, Dokumentasi, dan Tafsir Menuju Pengetahuan yang Dapat Dipertanggungjawabkan”, karya Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol, Jakarta, 29 Agustus 2026.
Seri ini merupakan kelanjutan dari pembahasan Seri 6 yang menekankan pentingnya, memeriksa warisan sebelum menarik kesimpulan.
Sumber harus dikenali, waktu dibedakan, konteks dibaca, data dipisahkan dari tafsir, sumber dibandingkan, dan penjelasan alternatif dicari.
Namun pemeriksaan saja belum cukup. Pengetahuan yang ditemukan juga perlu dipilah berdasarkan tingkat kekuatan dan kedudukannya.
“Memilah” dalam gagasan Seri 7 bukan berarti memisahkan manusia dari masa lalunya, apalagi menolak warisan leluhur.
Sebaliknya, pemilahan diperlukan agar setiap jenis pengetahuan memperoleh tempat yang tepat.
Sebuah prasasti, naskah, cerita lisan, ritual, ramuan, pengalaman batin, maupun legenda dapat mempunyai nilai.
Akan tetapi, nilai sebuah warisan tidak otomatis sama dengan kekuatan bukti atas setiap klaim yang terkandung di dalamnya.
Lima Kedudukan Pengetahuan
Seri 7 menawarkan lima kategori untuk menjaga kejernihan dalam membaca pengetahuan peradaban.
Pertama, pengetahuan yang terdukung kuat oleh bukti.
Sebuah kesimpulan dapat ditempatkan dalam kategori ini ketika didukung oleh berbagai bukti relevan, dapat diperiksa, dan saling menguatkan.
Namun kuatnya bukti bukan berarti kesimpulan tersebut tidak mungkin dikoreksi. Artinya, berdasarkan bukti yang tersedia, kesimpulan itu memiliki dasar yang kuat.
Kedua, pengetahuan yang terdokumentasi. Naskah, prasasti, arsip, catatan perjalanan, maupun tradisi lisan yang telah didokumentasikan merupakan sumber penting untuk memahami masa lalu.
Tetapi keberadaan sebuah catatan tidak otomatis berarti seluruh isi di dalamnya telah terbukti benar.
Dokumentasi menunjukkan bahwa suatu keterangan, gagasan, cerita, atau tradisi memang tercatat.
Sementara kebenaran klaim di dalamnya tetap membutuhkan pemeriksaan.
Ketiga, tafsir. Data tidak selalu berbicara dengan sendirinya. Manusia membaca hubungan antardata, melihat konteks, lalu menyusun makna. Dari proses itulah lahir tafsir.
Tafsir dapat menjadi kuat apabila ditopang banyak bukti. Sebaliknya, tafsir dapat menjadi lemah apabila terlalu banyak dibangun berdasarkan dugaan.
Karena itu, sikap ilmiah menuntut keberanian untuk mengatakan, “Ini adalah tafsir kita,” bukan menganggapnya sebagai satu-satunya kenyataan yang pasti.
Keempat, hipotesis.
Hipotesis merupakan dugaan yang mempunyai alasan untuk diperiksa lebih lanjut. Ia bukan khayalan sembarangan, tetapi juga belum dapat ditempatkan sebagai kesimpulan yang kuat.
Hipotesis justru membuka ruang penelitian melalui pertanyaan: apa yang mendukungnya, apa yang membantahnya, apakah terdapat penjelasan lain, dan apa yang dapat diuji?
Dengan demikian, hipotesis yang baik bukan menutup pertanyaan, melainkan membuka jalan menuju penelitian.
Kelima Kepercayaan
Kehidupan manusia tidak hanya terdiri atas pengetahuan empiris. Di dalamnya terdapat iman, kepercayaan, nilai, simbol, tradisi, dan pengalaman spiritual yang dapat mempunyai makna mendalam bagi individu maupun masyarakat.
Namun dalam proses pemeriksaan pengetahuan, tetap diperlukan kejujuran untuk membedakan antara apa yang dipercayai dan apa yang dapat dibuktikan secara empiris.
Pembedaan tersebut bukan untuk merendahkan kepercayaan. Justru dengan cara itu, kepercayaan tidak dipaksa menjadi sains, sementara sains juga tidak dipaksa menjawab seluruh pertanyaan mengenai makna kehidupan.
Satu Warisan, Banyak Lapisan
Salah satu gagasan penting dalam Seri 7 adalah bahwa satu warisan dapat memuat beberapa lapisan sekaligus.
Sebuah naskah kuno, misalnya, dapat mengandung fakta historis, pengetahuan praktis, simbol, kepercayaan, cerita, tafsir, sekaligus nilai kehidupanKarena itu, sebuah warisan tidak tepat jika langsung diberi satu cap sebagai “benar” atau “salah” secara keseluruhan.
Contohnya adalah naskah yang mencatat penggunaan tanaman untuk pengobatan.
Pertanyaan pertama adalah apakah naskah tersebut benar-benar mencatat tanaman yang dimaksud.
Hal ini dapat dikaji melalui filologi, sejarah naskah, dan identifikasi teks.
Pertanyaan berikutnya adalah apakah tanaman tersebut, mempunyai senyawa aktif tertentu.
Untuk itu diperlukan kajian botani dan kimia. Kemudian muncul pertanyaan yang berbeda lagi: apakah tanaman tersebut efektif untuk penyakit tertentu?
Pertanyaan ini membutuhkan kajian farmakologi dan penelitian klinis yang sesuai.
Sementara mantra, ritual, dan makna simboliknya dapat menjadi objek kajian sejarah, antropologi, psikologi, kajian agama, maupun ilmu kebudayaan.
Dengan kata lain:
Satu warisan dapat melahirkan banyak pertanyaan dan membutuhkan banyak metode.
Pengetahuan Musim dan Kearifan Lingkungan
Contoh lain adalah pengetahuan masyarakat agraris dalam membaca musim. Pengetahuan tersebut dapat lahir dari pengamatan panjang terhadap hujan, angin, tumbuhan, hewan, kelembapan, posisi benda langit, serta perubahan lingkungan.
Pengetahuan semacam itu layak dipelajari sebagai bagian dari pengalaman masyarakat. Namun pola yang berlaku pada masa lalu tidak otomatis berlaku dalam kondisi sekarang.Iklim berubah, lingkungan berubah, teknologi berkembang, demikian pula jenis tanaman dan pola pengelolaannya.
Karena itu, pengetahuan lama dapat menjadi data awal yang berharga, sementara penelitian masa kini tetap perlu memeriksa apakah pola tersebut masih berlaku.
Pendekatan semacam ini memungkinkan warisan tidak dibuang,, tetapi juga tidak diterima secara membuta.
Legenda Tidak Harus Dibuang
Hal yang sama berlaku terhadap cerita rakyat dan legenda.
Legenda dapat menyimpan ingatan tentang tempat, nama tokoh, hubungan sosial, nilai masyarakat, konflik, hingga perubahan lingkungan.
Tetapi cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi juga dapat mengalami penambahan, pengurangan, simbolisasi, dan perubahan.
Karena itu, legenda tidak perlu dibuang sebagai sesuatu yang tidak berguna. Namun legenda juga tidak tepat jika diperlakukan persis seperti laporan peristiwa modern.
Pertanyaannya menjadi lebih kaya: bagian mana yang dapat diperiksa, apa yang disimbolkan, apa yang diingat masyarakat, kapan cerita mulai terdokumentasi, serta bagaimana cerita tersebut berubah sepanjang waktu.
Jangan Mencari Kehebatan Terlebih Dahulu
Seri 7 juga mengingatkan adanya godaan ketika masyarakat membaca masa lalu: keinginan untuk segera membuktikan bahwa leluhur lebih maju, lebih tua, lebih hebat, atau telah mengetahui sesuatu lebih dahulu dibandingkan bangsa lain.
Kebanggaan terhadap leluhur merupakan sesuatu yang manusiawi. Namun apabila kebanggaan mendahului pemeriksaan, seseorang dapat dengan mudah hanya memilih bukti yang mendukung keyakinannya.
Karena itu, pesan yang ditekankan adalah:
Jangan mencari kehebatan terlebih dahulu. Cari pengetahuannya. Jika ternyata hebat, bukti akan memperlihatkannya.
Jika ternyata terdapat kekeliruan, diperlukan keberanian untuk mengoreksinya. Dan apabila jawabannya belum diketahui, diperlukan kerendahan hati untuk terus mencari.
Pengetahuan Dapat Berubah
Kategori pengetahuan yang disusun dalam Seri 7 bukanlah kotak yang membeku.
Hipotesis dapat memperoleh bukti baru.
Tafsir dapat diperkuat atau dilemahkan. Sesuatu yang semula hanya terdokumentasi dapat kemudian diuji.
Bahkan kesimpulan yang sebelumnya didukung kuat oleh bukti, dapat dikoreksi apabila ditemukan data baru yang lebih kuat.
Dari sini muncul sebuah prinsip penting: Pengetahuan yang sehat tidak takut berubah ketika bukti berubah.
Sikap tersebut bukan kelemahan. Justru kemampuan mengoreksi diri merupakan bagian penting dari proses memperoleh pengetahuan yang lebih baik.
Dari Pemilahan Menuju Keputusan. Tujuan mempelajari Pengetahuan Peradaban Nusantara bukan sekadar membuat klasifikasi.
Setelah pengetahuan diperiksa dan dipilah, muncul pertanyaan berikutnya: apa yang harus dilakukan terhadap pengetahuan tersebut?
Seri 7 menawarkan sedikitnya lima kemungkinan.
Pertama, dipertahankan, apabila masih memiliki nilai dan relevansi.
Kedua, dikoreksi, apabila mengandung kekeliruan tetapi masih memiliki bagian yang berguna.
Ketiga, dikembangkan, apabila mempunyai dasar yang bernilai dan dapat dipertemukan dengan pengetahuan baru.
Keempat, ditinggalkan, apabila terbukti tidak berguna, merugikan, atau tidak lagi dapat dipertanggungjawabkan.
Kelima, menciptakan yang baru, apabila persoalan zaman sekarang tidak dapat dijawab hanya dengan pengetahuan lama.
Di titik inilah warisan masa lalu bertemu dengan kebutuhan masa depan.
Dari Jejak Menuju Dampak
Seri 7 kemudian memperlihatkan perjalanan besar Pengetahuan Peradaban Nusantara dari seri-seri sebelumnya.
Rangkaian tersebut dapat dibaca sebagai:
JEJAK → SUMBER → PENGALAMAN → PENGETAHUAN → PEMERIKSAAN → PEMILAHAN → BUDI → LAKU → DAMPAK → PEWARISAN DAN PERUBAHAN.
Namun rangkaian tersebut bukan hukum yang selalu berjalan lurus.
Manusia dapat kembali kepada sumber, mengoreksi tafsir, menemukan bukti baru, mengubah keputusan, dan membangun pengetahuan yang lebih baik.
Dengan demikian, peradaban bukan sekadar kumpulan peninggalan. Peradaban adalah proses manusia dalam memahami, menguji, memilih, menggunakan, mewariskan, sekaligus memperbarui pengetahuan.
Pagar Pemilahan
Seri 7 memberikan sejumlah “pagar” agar proses membaca warisan tidak terjebak pada klaim yang berlebihan.
Ada sumbernya tidak berarti seluruh isinya benar.
Terdokumentasi tidak sama dengan terbukti.
Tafsir tidak sama dengan fakta.
Hipotesis tidak sama dengan kesimpulan.
Kepercayaan tidak sama dengan bukti empiris.
Tradisional tidak otomatis bermanfaat.
Modern tidak otomatis lebih benar.
Berasal dari luar tidak otomatis buruk.
Berasal dari Nusantara tidak otomatis benar.
Dan yang tidak kalah penting:
Koreksi tidak sama dengan penghinaan terhadap leluhur.
Pagar-pagar tersebut menjadi penting karena kecintaan terhadap warisan seharusnya tidak membuat manusia kehilangan kemampuan untuk memeriksa.
Peradaban yang Dewasa
Pada akhirnya, Seri 7 membawa pembaca kepada sebuah refleksi tentang kedewasaan peradaban.
Peradaban yang dewasa bukan peradaban yang membenarkan seluruh masa lalunya. Namun bukan pula peradaban yang memutus hubungan dengan masa lalu.
Peradaban yang dewasa adalah peradaban yang mampu mengingat tanpa terpenjara, menghormati tanpa mengkultuskan, memeriksa tanpa merendahkan, mengoreksi tanpa kehilangan jati diri, belajar tanpa berhenti berpikir, dan menciptakan tanpa melupakan akar.
Tujuan akhirnya bukan membawa manusia kembali hidup di masa lalu. Tujuannya adalah membawa pengetahuan yang bernilai dari masa lalu untuk membantu manusia menjawab tantangan masa depan.
Dengan cara pandang tersebut, warisan Nusantara tidak berhenti sebagai benda, cerita, atau kenangan. Ia dapat menjadi sumber pembelajaran yang terus diperiksa, dikembangkan, dan ditransformasikan sesuai kebutuhan zaman.
Pengetahuan masa lalu bukan untuk memenjarakan masa depan. Pengetahuan masa lalu adalah salah satu jalan untuk membangun masa depan yang lebih sadar.
Oleh Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol Jakarta, 29 Agustus 2026. Diteruskan Biyung AR, Bali
Penulis: Saidi Hartono.




