Ketika Pengetahuan Tersimpan dalam Naskah, Membaca Kembali Manuskrip Nusantara

Jakarta, Redaksi Satu | Pengetahuan sebuah peradaban tidak selalu diwariskan melalui bangunan besar, prasasti, atau cerita yang disampaikan dari generasi ke generasi.

Sebagian pengetahuan justru bertahan dalam bentuk yang lebih sederhana: lembaran daun lontar, daun gebang, kulit kayu, daluang, kertas, tinta, aksara, dan manuskrip yang melewati perjalanan panjang sejarah.

Dalam Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 3 berjudul “Ketika Pengetahuan Tersimpan dalam Naskah: Membaca Kembali Manuskrip Nusantara di Dalam dan di Luar Negeri”, Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol, Jakarta, 29 Agustus 2026.

Mengajak pembaca melihat manuskrip bukan sekadar benda tua, melainkan sebagai salah satu pintu untuk memahami pengetahuan masyarakat Nusantara. Naskah tersebut diteruskan oleh Biyung AR, Bali, dan diedit oleh Saidi Hartono.

Naskah Bukan Sekadar Tulisan Lama
Dalam perjalanan sejarah, pengetahuan dapat mengalami berbagai perubahan. Kerajaan berakhir, pusat kekuasaan berpindah, bahasa berkembang, aksara tidak lagi digunakan, guru kehilangan murid, dan tradisi mengalami perubahan.

Akibatnya, generasi berikutnya dapat kehilangan kemampuan untuk membaca pengetahuan yang pernah dimiliki generasi sebelumnya.
Namun, sebagian jejak pengetahuan itu tetap bertahan.

Salah satu tempat penting penyimpanannya adalah naskah.
Manuskrip Nusantara menyimpan beragam informasi, mulai dari sejarah, aturan dan hukum, pengobatan, kalender, sastra, agama dan spiritualitas, genealogis, perjalanan, pengetahuan alam, kehidupan sosial, ritual, hingga cara manusia memaknai kehidupan.

Karena itu, manuskrip tidak hanya berbicara mengenai masa lalu. Ia dapat menjadi pintu untuk memasuki dunia pengetahuan masyarakat yang melahirkan, menggunakan, dan mewariskannya.

BACA JUGA  Akibat Serangan Ukraina, Rusia Membantah Kehilangan Desa Andrjivka

Nusantara Memiliki Banyak Tradisi Tulis
Tidak pernah ada satu perpustakaan tunggal yang menyimpan seluruh ingatan Nusantara. Pengetahuan ditulis dan disalin melalui berbagai bahasa, aksara, bahan, tempat, serta zaman.

Ada prasasti yang ditulis pada batu dan logam. Ada lontar dan gebang. Ada daluang dan kertas. Ada pustaha Batak yang menggunakan kulit kayu.

Ada manuskrip Melayu, Sunda Kuno, Jawa, Bali, Bugis-Makassar, Aceh, dan berbagai tradisi tulis lainnya. Setiap manuskrip memiliki riwayatnya sendiri.

Karena itu, membaca manuskrip Nusantara membutuhkan kehati-hatian. Tidak seluruh naskah dapat dibaca menggunakan ukuran yang sama.

Empat Waktu yang Harus Dibedakan
Salah satu persoalan penting dalam kajian manuskrip adalah membedakan antara usia peristiwa, usia komposisi, usia manuskrip, dan usia tafsir.

Pertama, usia peristiwa, yaitu kapan peristiwa yang diceritakan diperkirakan berlangsung.

Kedua, usia komposisi, yakni kapan teks atau cerita mulai disusun.

Ketiga, usia manuskrip, yaitu kapan benda fisik atau salinan yang sekarang dimiliki dibuat.

Keempat, usia tafsir, yakni kapan penafsiran yang sekarang populer mulai berkembang. Keempatnya tidak selalu sama.

BACA JUGA  Hakordia 2025, Kejaksaan Komitmen Berantas Korupsi di Kalbar

Sebuah tradisi dapat berusia jauh lebih tua daripada manuskrip yang sekarang tersedia. Sebaliknya, manuskrip yang tua juga tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh peristiwa yang diceritakan benar-benar terjadi sebagaimana dituturkan. Prinsip inilah yang menjadi salah satu kunci membaca manuskrip secara kritis.

La Galigo dan Tradisi Bugis
Salah satu contoh penting adalah La Galigo, warisan besar tradisi Bugis. Dalam membaca La Galigo, perlu dibedakan antara tradisi, teks, dan manuskrip fisiknya.

Salah satu himpunan manuskrip La Galigo yang penting adalah NBG-Boeg 188 yang tersimpan di Leiden. Manuskrip tersebut berkaitan dengan proses penyalinan dan penghimpunan pada abad ke-19, terutama yang melibatkan Colliq Pujié dan B.F. Matthes.

Hal ini memperlihatkan satu prinsip penting: usia tradisi tidak sama dengan usia manuskrip. Melalui tradisi La Galigo, peneliti dapat mempelajari berbagai jejak mengenai genealogis, hubungan sosial, nilai, kosmologi, serta gambaran dunia masyarakat yang mewariskannya.

Namun manuskrip abad ke-19 tidak dapat begitu saja disebut sebagai benda yang berasal dari masa ketika kisah-kisah tersebut berlangsung. Sejarah teks dan sejarah benda harus dibedakan.

Pustaha Batak dan Pengetahuan yang Digunakan
Tradisi Batak memberikan contoh lain mengenai bagaimana manuskrip menyimpan pengetahuan. Pustaha bukanlah satu buku dengan isi yang seragam. Setiap manuskrip perlu diperiksa secara individual.

Dalam berbagai pustaha ditemukan poda atau petunjuk mengenai sejumlah bidang pengetahuan, antara lain perhitungan waktu, pengobatan, ritual, divinasi, serta berbagai petunjuk kehidupan masyarakat.

Kajian terhadap sejumlah naskah Batak juga menunjukkan adanya pengetahuan mengenai pengobatan dan perbintangan. Namun, keberadaan sebuah sistem pengetahuan di dalam naskah harus dibedakan dari pembuktian kebenaran setiap klaim yang terdapat di dalamnya.

BACA JUGA  Legatisi Indonesia Minta Kapolda Kalbar Tindaklanjuti 3 Oknum Polisi Diduga Terlibat PETI

Bahan pengobatan, misalnya, dapat dikaji melalui botani dan farmakologi. Ritual dapat dipelajari melalui sejarah dan antropologi. Sementara ramalan atau klaim metafisis membutuhkan kategori pemeriksaan yang berbeda.

Dengan demikian, menghormati manuskrip tidak berarti harus membenarkan seluruh isi yang terdapat di dalamnya.
Sanghyang Siksa Kandang Karesian

Contoh penting lainnya berasal dari tradisi Sunda Kuno, yakni Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Kropak 630, yang kini tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Naskah yang ditulis pada daun gebang menggunakan, bahasa Sunda Kuno tersebut mencantumkan penanggalan 1440 Saka atau 1518 Masehi.

Teks tersebut terdiri atas 22 bagian dan antara lain membicarakan aturan sosial, pedoman moral, serta kehidupan masyarakat pada zamannya.

Riwayat manuskrip juga menjadi bagian penting untuk dibaca. Naskah tersebut diketahui berada dalam koleksi yang diberikan Raden Saleh kepada Bataviaasch Genootschap pada abad ke-19 dan kini menjadi bagian dari koleksi Perpustakaan Nasional.

Satu manuskrip memperlihatkan begitu banyak lapisan informasi: bahan, aksara, bahasa, tanggal, aturan, masyarakat, riwayat kepemilikan, hingga perjalanan benda tersebut dari satu tempat ke tempat lainnya.

Bujangga Manik dan Perjalanan ke Oxford
Manuskrip Nusantara juga memperlihatkan bagaimana warisan dokumenter dapat berada jauh dari wilayah kebudayaan asalnya.
Bujangga Manik merupakan naskah Sunda Kuno yang diperkirakan berasal sekitar akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16.

BACA JUGA  Joe Biden: Desak PM Israel Hentikan Peperangan di Gaza

Manuskripnya kini tersimpan di Bodleian Library, University of Oxford, Inggris, dengan kode MS Jav. B. 3 (R).

Catatan koleksinya menunjukkan bahwa manuskrip tersebut telah berada di Bodleian sejak 1627.

Teks Bujangga Manik menceritakan perjalanan seorang tokoh Sunda melintasi berbagai wilayah Jawa hingga Bali. Berbagai nama tempat, gunung, sungai, dan wilayah muncul dalam kisah perjalanan tersebut.

Karena itu, sebuah manuskrip sastra tidak hanya dapat dibaca sebagai karya sastra. Ia juga dapat menjadi sumber untuk mempelajari geografi, perjalanan, jaringan wilayah, lingkungan, dan cara manusia memandang ruang.

Nagarakretagama dan Pentingnya Membaca Konteks
Contoh lain datang dari Jawa Kuno melalui Nagarakretagama, yang juga dikenal sebagai Desawarnana, karya Mpu Prapanca yang disusun pada 1365.

Namun sekali lagi, tahun penyusunan teks tidak otomatis sama dengan usia salinan fisik yang bertahan hingga sekarang.
Nagarakretagama memberikan banyak informasi mengenai lingkungan Majapahit, perjalanan kerajaan, kehidupan keagamaan, wilayah, serta tata kehidupan pada abad ke-14.

Akan tetapi, teks tersebut lahir dalam lingkungan kekuasaan Majapahit. Karena itu, Nagarakretagama merupakan sumber sejarah yang sangat penting, tetapi tidak dapat diperlakukan sebagai kamera netral yang merekam seluruh kenyataan.

Informasinya perlu dibandingkan dengan prasasti, data arkeologi, sumber lain, serta konteks sejarahnya. Prinsipnya sederhana: sumber yang sangat penting belum tentu merupakan sumber yang sepenuhnya netral.

BACA JUGA  Polisi Tindak 24 Kasus PETI di Kapuas Hulu

Ketika Manuskrip Nusantara Berada di Berbagai Negara
Perjalanan sejarah membuat warisan dokumenter Nusantara kini tersebar di berbagai tempat. Sebagian berada di Indonesia, sementara sebagian lainnya berada di Belanda, Inggris, dan berbagai koleksi dunia.

Leiden menjadi salah satu pusat penting koleksi manuskrip yang berkaitan dengan Indonesia. Bodleian Oxford menyimpan Bujangga Manik. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menyimpan banyak manuskrip penting, termasuk Sanghyang Siksa Kandang Karesian.

Namun keberadaan manuskrip Nusantara di luar Indonesia tidak dapat langsung dijelaskan hanya dengan satu narasi. Riwayat masing-masing benda perlu diperiksa.

Ada manuskrip yang diberikan, dibeli, dikumpulkan, disalin untuk kepentingan penelitian, berpindah dalam struktur kolonial, maupun berpindah dalam konteks konflik dan operasi militer.

Karena itu, tidak tepat mengatakan bahwa seluruh manuskrip Nusantara di luar negeri memiliki satu sejarah perpindahan yang sama.

Namun pada saat yang sama, ketimpangan kekuasaan dalam sejarah kolonial juga tidak dapat diabaikan. Kuncinya adalah provenans atau penelusuran riwayat kepemilikan dan perpindahan setiap benda berdasarkan bukti.

Provenans: Membaca Perjalanan Sebuah Benda
Ketika sebuah manuskrip diteliti, sejumlah pertanyaan penting perlu diajukan.
Naskah apa?
Berasal dari mana?
Siapa yang memiliki atau menyimpannya sebelumnya?
Siapa yang memperolehnya?
Kapan diperoleh?
Dalam keadaan apa?
Bagaimana benda tersebut berpindah?
Dan bukti apa yang mendukung riwayat tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan itu membantu peneliti memahami provenans sebuah manuskrip.

Tanpa provenans, kita mungkin mengetahui benda yang ada di hadapan kita, tetapi belum tentu mengetahui perjalanan panjang yang membentuk sejarahnya.

BACA JUGA  Truk Pengangkut Solar Tabrak Tiang PLN dan Rumah Warga di Mentebah

Memulangkan Benda, Sekaligus Memulangkan Pengetahuan
Perdebatan mengenai repatriasi benda budaya merupakan persoalan penting. Namun terdapat persoalan lain yang tidak kalah mendasar.

Bagaimana jika manuskripnya masih ada, tetapi masyarakat tidak lagi mampu membacanya?
Bagaimana jika naskah telah didigitalisasi, tetapi belum dipelajari secara mendalam?
Bagaimana jika manuskrip secara fisik kembali ke Indonesia, tetapi pengetahuan di dalamnya tetap terkunci?

Karena itu, pekerjaan pelestarian tidak berhenti pada pemindahan benda. Masih terdapat pekerjaan panjang: mendata, merawat, mendigitalisasi, membaca, mentransliterasi, menerjemahkan, membandingkan, meneliti, mengajarkan, dan menghidupkan kembali pengetahuan yang masih bernilai.

Dengan demikian, memulangkan naskah merupakan satu pekerjaan.
Namun memulangkan pengetahuan ke dalam kesadaran masyarakat adalah pekerjaan yang jauh lebih besar.

Jangan Mencari Kehebatan, Cari Pengetahuannya
Ketika membuka manuskrip lama, kita tidak perlu memulainya dengan keinginan untuk membuktikan bahwa leluhur telah mengetahui segala sesuatu.

Yang lebih penting adalah mengajukan pertanyaan secara jernih.
Apa yang tertulis?
Kapan ditulis?
Kapan manuskripnya dibuat?
Siapa yang menulis atau menyalinnya?
Untuk siapa?
Dalam konteks apa?
Pengetahuan apa yang terkandung di dalamnya?
Apa yang dapat diperiksa?
Apa yang merupakan tafsir?
Apa yang merupakan simbol?
Apa yang merupakan kepercayaan?
Dan apa yang masih bernilai bagi kehidupan hari ini?

Dengan cara tersebut, penghormatan kepada leluhur dapat berjalan bersama ketelitian ilmiah.

Naskah sebagai Jembatan Antargenerasi
Naskah dapat menyeberangi zaman. Ia dapat berpindah kerajaan, pulau, bahasa, bahkan benua. Namun selama masih dapat dibaca, sebuah naskah belum sepenuhnya diam.

BACA JUGA  Pejabat Utama Polda Kalbar Gelar Silaturahmi kepada Tokoh Agama dan Ulama

Ia membawa jejak suara manusia dari masa yang telah berlalu.
Tugas generasi sekarang bukan membuat suara itu mengatakan apa yang ingin kita dengar.

Tugas kita adalah membacanya, memeriksanya, memahami konteksnya, memisahkan data dari tafsir, dan menemukan pengetahuan yang masih dapat berbicara kepada zaman sekarang.

Namun naskah hanyalah salah satu tempat pengetahuan disimpan.
Masih terdapat pengetahuan yang tidak pernah menjadi buku.

Pengetahuan itu hidup dalam tangan pembuat perahu, dalam ingatan petani, dalam kemampuan membaca laut, dalam cara masyarakat mengelola air dan hutan, dalam bahasa, tutur, keterampilan, ritual, pengalaman, serta laku kehidupan.

Dari sinilah pertanyaan berikutnya muncul:
Bagaimana pengetahuan dapat bertahan ratusan tahun tanpa pernah dituliskan?
Dan bagaimana kita membedakan antara pengetahuan, pengalaman, simbol, dan kepercayaan yang hidup di dalamnya?
Pertanyaan tersebut menjadi pintu menuju Pengetahuan

Peradaban Nusantara Seri 4.
SERI 4 KETIKA PENGETAHUAN HIDUP TANPA BUKU
Dari Tutur, Keterampilan, Alam, hingga Laku Kehidupan
Penulis: Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol. Jakarta, 29 Agustus 2026. Diteruskan oleh: Biyung AR, Bali. Editor: Saidi Hartono.

iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img