Pertanyaan Ki Guntur: Tentang Hidup, Penghidupan, Kehidupan Manusia dan Tuhan

Penulis Jurnalis Kairos-Kairozo: Saidi Hartono.

Pasuruan, Redaksi Satu | Pertanyaan tentang hubungan manusia dengan “Tuhan Yang Maha Esa” kembali membuka ruang perenungan tentang makna hidup, penghidupan, kehidupan, dan asal-usul manusia. 

Gagasan tersebut disampaikan Ki Guntur Bisowarno, Pimpinan Bamboo Spirit Nusantara, dalam pembacaan filosofis mengenai Lingga Yoni, Adam dan Hawa, jiwa, cahaya, serta hubungan manusia dengan alam.

Menurut Ki Guntur Bisowarno, Lingga Yoni sejatinya dapat dibaca bukan hanya sebagai simbol fisik, tetapi sebagai pintu masuk kesatuan hidup, penghidupan, kehidupan untuk memahami, Rabu (8/9/26).

Dalam pembacaan tersebut, muncul pertanyaan apakah Lingga dan Yoni dapat dimaknai sebagai simbol Adam dan Hawa, dua unsur yang hadir sebagai pasangan dan saling melengkapi dalam perjalanan hidup, penghidupan, kehidupan.

Pertanyaan itu kemudian berkembang, pada pemaknaan Hawa sebagai belahan jiwa Adam.

Jika jiwa dipahami sebagai percikan cahaya, maka muncul pertanyaan yang lebih mendasar: dari manakah percikan cahaya itu berasal?

“Jika jiwa adalah percikan cahaya, apakah percikan itu benar-benar terpisah dari Sumber Cahaya?” demikian salah satu pertanyaan yang menjadi ruang perenungan dalam gagasan tersebut.

BACA JUGA  Kembang Kanthil Terkandung Arti Ini Ulasan dari Ki Guntur

Catatan: “Tak Dualitas/Kesatuan/Tunggal/ESA”

Bagi Ki Guntur Bisowarno, pertanyaan semacam itu tidak harus buru-buru dijawab. Justru pertanyaan dapat menjadi jalan untuk membuka kesadaran manusia dalam membaca hidup, Penghidupan, kehidupan.

Pertanyaan besarnya kemudian diarahkan kepada hubungan manusia, dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Apakah Tuhan Yang Maha Tunggal, Tuhan Yang Maha Esa, benar-benar berpisah dengan kita sebagai manusia sejati setiap saat?

Pertanyaan tersebut membawa pembahasan, dari wilayah simbol menuju wilayah perenungan tentang hubungan antara manusia, jiwa, alam, dan sumber hidup penghidupan kehidupan.

Manusia secara lahiriah memang memiliki tubuh, nama, identitas dan batas-batas hidup, penghidupan, kehidupan.

Namun, apakah keterpisahan secara lahiriah tersebut berarti manusia benar-benar terpisah dari sumber hidup, penghidupan, kehidupannya?

Untuk menjelaskan pertanyaan itu, muncul sebuah perumpamaan sederhana yang dekat dengan hidup penghidupan kehidupan sehari-hari, yaitu hubungan antara daun dan pohon.

BACA JUGA  Sosok Edwar Setiawan Kontestan Pilkada Mukomuko 2024

“Daun tumbuh dari pohon. Ia menjadi bagian dari kehidupan pohon, menerima proses kehidupan, kemudian pada waktunya mengalami perubahan.

Ketika daun rontok, ia jatuh ke bumi. Ada yang tertiup angin, ada yang jatuh ke tanah, dan ada pula yang terbawa air sungai.

Lalu muncul pertanyaan besar: apakah daun benar-benar berpisah dari pohonnya ketika ia rontok?

Secara bentuk, daun memang telah terlepas dari pohon. Namun jika dilihat sebagai sebuah proses hidup penghidupan kehidupan, daun tetap berada dalam siklus hidup penghidupan kehidupan yang berasal dari pohon dan kemudian kembali menjadi bagian dari alam.

Perumpamaan daun dan pohon tersebut menjadi penting dalam gagasan Ki Guntur Bisowarno, karena mengajak manusia membedakan antara keterpisahan bentuk dan asal hidup penghidupan kehidupan.

Dari sana, pertanyaan tentang manusia pun menjadi semakin dalam.

Jika manusia diibaratkan seperti daun, sementara sumber kehidupan diibaratkan sebagai pohon, apakah manusia benar-benar terpisah dari sumbernya hanya karena tubuh dan hidup, penghidupan, kehidupannya, memiliki batas?

BACA JUGA  Sepasang Lansia di Katingan Hidup Dalam Kondisi Memperihatinkan

Ataukah keterpisahan itu hanya terjadi pada tingkat bentuk, sementara, hidup penghidupan kehidupan tetap berada dalam sebuah hubungan yang lebih luas?

Pertanyaan tersebut kemudian bertemu dengan gagasan tentang jiwa sebagai percikan cahaya.

Jika percikan berasal dari cahaya, apakah percikan tersebut kehilangan hubungan dengan sumbernya?

Atau justru perjalanan manusia adalah perjalanan untuk menyadari kembali hubungan tersebut?

Ki Guntur Bisowarno menempatkan pertanyaan ini sebagai, bagian dari upaya membaca kembali pengetahuan hidup, penghidupan, kehidupan melalui hubungan manusia dengan alam dan kebudayaan.

Lingga Yoni, Adam Hawa, jiwa, cahaya, daun dan pohon kemudian dapat dipandang sebagai simbol-simbol yang membuka satu pertanyaan dalam keberagaman bentuk.

Dalam perspektif tersebut, perbedaan bukan selalu berarti keterpisahan mutlak.

BACA JUGA  Kapolri Pimpin Sertijab 23 Pejabat Polri, Termasuk 10 Kapolda

Seperti daun yang memiliki bentuk sendiri tetapi berasal dari pohon, manusia memiliki kehidupan individual namun tetap berada dalam jaringan kehidupan yang jauh lebih luas.

Karena itu, pertanyaan tentang manusia sejati bukan hanya “siapa saya?”, tetapi juga “dari mana saya berasal dan apakah saya pernah benar-benar terpisah dari sumber hidup, penghidupan, kehidupan?”

“Ilmu Tuhan Luas, Waktu Kita Terbatas, Selisihnya Kita Malas”

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika manusia modern semakin jauh, dari alam dan semakin sering melihat dirinya sebagai sesuatu yang berdiri sendiri.

Padahal alam terus memperlihatkan bahwa, kehidupan berlangsung melalui hubungan.

“Daya Dharma Dhana”

Pohon membutuhkan tanah, air, cahaya dan udara. Daun menjadi bagian dari pohon. Ketika daun jatuh, ia kembali memasuki siklus alam.

Dari peristiwa sederhana itu, manusia dapat belajar bahwa perubahan bentuk belum tentu berarti hilangnya hubungan.

Maka, melalui pemikiran Ki Guntur Bisowarno, pertanyaan tentang Lingga Yoni dan Adam Hawa dapat dibaca sebagai bagian dari pencarian makna yang lebih luas tentang hidup, penghidupan, kehidupan.

BACA JUGA  Jangan Ulangi Kesalahanku

Apakah kita benar-benar terpisah dari Tuhan Yang Maha Esa?

Apakah jiwa benar-benar terpisah dari Sumber Cahaya?

Apakah daun yang rontok benar-benar kehilangan pohonnya?

Dan akhirnya: Apakah manusia sejati benar-benar pernah terpisah dari Sumber Hidup, Penghidupan, Kehidupan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak ditawarkan sebagai kesimpulan tunggal, melainkan sebagai ruang perenungan.

Sebab mungkin, dalam perjalanan pengetahuan peradaban, yang paling penting bukan hanya menemukan jawaban, tetapi berani mengajukan pertanyaan yang mampu membawa manusia kembali membaca dirinya, alamnya, dan sumber hidup, penghidupan dan kehidupannya.

Ki Guntur Bisowarno – Pimpinan Bamboo Spirit Nusantara menempatkan pertanyaan tersebut, sebagai bagian dari ikhtiar membaca kembali pengetahuan hidup, penghidupan dan kehidupan melalui perspektif peradaban Nusantara.

BACA JUGA  Ratusan Juta Raib, Pengusaha Asal Ujung Pandang Lapor Polisi

 

Html code here! Replace this with any non empty text and that's it.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img