Iklan
Iklan
BerandaKEJAKSAANBarang Terlarang Narkotika senilai Rp 3 Miliar Dimusnahkan

Barang Terlarang Narkotika senilai Rp 3 Miliar Dimusnahkan

NANGA BULIK | Redaksisatu.id – Barang terlarang jenis Narkotika jenis sabu senilai Rp 3 miliar dimusnahkan. Sabu yang masih berbentuk bongkahan kristal putih itu direbus bersama cairan pembersih lantai, kemudian dibuang ke septic tank.

Kasat Narkoba Polres Lamandau, AKP I Made Rudia mengungkapkan bahwa barang jenis sabu yang berasal dari Pontianak yang diamankan di Jalan Trans Kalimantan pada 1 Desember lalu tersebut merupakan barang kualitas nomor satu.

“Bentukannya masih berupa bongkahan kristal berukuran besar. Di pasaran harganya antara Rp 1-1,5 juta per gram,” katanya.

BACA JUGA  DPO ke 14 Ditangkap Tim Tabur Intelijen Kejaksaan Kalbar

Hal ini terbukti saat dilakukan pengecekan keaslian barang, alat tes langsung bisa membaca dengan cepat, cairan tester yang sebelumnya berwarna bening kekuningan berubah jadi berwarna ungu pekat saat tercampur dengan bubuk kristal putih tersebut.

“Sesuai dengan perintah dari kejaksaan untuk dilakukan pemusnahan, maka hari ini kita laksanakan kita tangkap dengan jumlah sekitar 2 kilogram lebih. Ini sudah disisihkan sebagian untuk barang bukti di pengadilan,” ungkap Kapolres Lamandau AKBP Arif Budi Purnomo.

Dijelaskannya bahwa pemusnahan barang  terlarang tersebut dilakukan agar tidak terjadi penyalahgunaan. Pemusnahan telah dilakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku dengan disaksikan oleh sejumlah pihak yang berwenang.

“Sabu tersebut dimusnahkan dengan cara direbus bersama cairan pembersih lantai, kemudian dibuang ke septic tank,” jelasnya.

Kepala BNNK Kabupaten Lamandau, Riko Porwanto mengapresiasi jajaran Polres Lamandau yang tidak pernah lelah untuk terus memberantas peredaran barang terlarang ini di wilayah Kabupaten Lamandau.

Apalagi saat ini peredaran Narkoba di Lamandau sudah masuk hingga perkebunan, pertambangan, dan desa-desa.

“Mengapa masih ada yang jual? Karena ada pemakai. Coba tidak ada yang makai, tidak akan laku, tidak ada yang jual lagi  Maka perlu kerja sama kita semua untuk mencegah dan memberantas peredaran narkoba di wilayah kita, harus dilakukan deteksi dini dan pencegahan sejak awal,” tegas Riko.

Penggagalan pengiriman sabu skala besar seperti ini telah menyelamatkan banyak orang, menyelamatkan generasi muda. Jika per orang memakai sabu sekitar 0,2 mgili gram maka ada 10 ribu jiwa yang terselamatkan dengan penangkapan sabu ini.

“Karena narkoba tidak hanya membahayakan pemakainya saja, tapi juga orang lain. Sebab perkara sabu dan miras bisa menjadi pemicu seseorang melakukan tindak kejahatan atau kriminal. Dan ini sudah terjadi di Lamandau, gara-gara sabu dan miras lalu membunuh temannya, mencuri, berkelahi dan banyak lagi,” ungkapnya.

Saat pemusnahan, pemilik sabu yakni dua wanita berdaster serta satu orang pria tampak ikut menyaksikan.

Diketahui bahwa Satresnarkoba Polres Lamandau menggagalkan peredaran narkotika lintas provinsi dengan menangkap tiga tersangka serta barang bukti narkoba jenis sabu dengan berat 2 kilogram lebih.

Menariknya kali ini pelakunya adalah para perempuan setengah baya berdaster.

“Kita (Polres Lamandau) kembali mengungkap kasus narkoba dengan jumlah barang bukti sabu cukup besar yakni 2.037, 41 gram,” ungkap Kapolres Lamandau AKBP Arif Budi Purnomo saat pers rilis di Aula Joglo Polres Lamandau, Selasa (7/12) .

Dijelaskannya bahwa anggota Satresnarkoba Polres Lamandau menangkap seorang perempuan yang diduga bandar besar narkoba bernama Misjana alias Ana (46) warga Pontianak Kalimantan Barat.

Penangkapan pelaku di Jalan Trans Kalimantan Kilometer 18 Nanga Bulik saat dalam perjalanan dari Pontianak menuju Palangka Raya pada Rabu (1/12) sekitar pukul 02.00 WIB.

Kapolres menyebut bahwa penangkapan itu dilakukan berdasarkan informasi yang masuk pada 30 November 2021. Saat itu diduga akan ada pengiriman narkotika melintas Lamandau.

Kemudian anggota Satresnarkoba dengan dipimpin langsung Kasat Narkoba, I Made Rudia melakukan kegiatan razia.

“Lalu pada Rabu 01 Desember 2021 sekitar jam 02.00 WIB anggota Satresnarkoba melihat ada sebuah mobil travel yang mencurigakan dan memberhentikan mobil tersebut.

Di dalam mobil tersebut terdapat dua orang laki-laki dan satu orang perempuan.

Saat diperiksa, terlihat salah satu penumpang  perempuan berdaster mendekap plastik di ketiaknya yang terhalang oleh jaket.

Ketika diminta membuka plastik tersebut dengan disaksikan penumpang lain ditemukan 11 plastik klip berukuran sedang yang diduga narkotika jenis sabu.

Dari hasil interogasi diperoleh keterangan bahwa sabu tersebut rencananya akan dibawa dan diserahkan kepada pembeli perempuan yang bernama Dahlena alias Mak Sana (37) dan seorang kakek berusia 60 tahun bernama M Abrani alias Abeng.

Kedua orang ini merupakan warga dari Barito Selatan dan tinggal di Banjarmasin. Mereka bersepakat akan bertemu di Palangka Raya. Keduanya telah mentransfer untuk pembelian sabu kepada Ana masing-masing Rp 200 juta dan Rp 250 juta.

“Menindaklanjuti keterangan tersebut, dibentuk tim gabungan untuk melakukan pengejaran dan penangkapan terhadap keduanya. Dan pada hari Jumat tanggal 3 Desember 2021, petugas berhasil menangkap dan mengamankan kedua tersangka (pemesan sabu) di Desa Sungai Terik Gang Rambutan Kecamatan Batu Sopang, Kabupaten Paser Provinsi Kalimantan Timur saat sedang melarikan diri,” bebernya.

Dari pengungkapan kasus ini, petugas mengamankan tiga orang tersangka dan barang bukti berupa 11 bungkus plastik klip ukuran besar dan sedang.

Bungkusan tersebut berisi butiran kristal diduga narkotika golongan I bukan tanaman jenis sabu dengan berat 2.037,41 gram, satu buku rekening bank.

Kemudian, dua rekening koran, tiga buah handphone, uang tunai senilai Rp 3 juta serta satu unit kendaraan roda empat.

“Modus menggunakan emak-emak ini termasuk baru pertama kita ungkap dan tersangka mengaku telah melakukan pengiriman narkoba sebanyak lima kali. Sedangkan dua tersangka lain sebagai pemesan (pemilik), DL mengaku tiga kali membeli dan MA dua kali,” sebutnya.

Diduga perempuan ini murni berbisnis sabu untuk mendapatkan keuntungan besar. Karena saat dilakukan tes urine hasilnya negatif, artinya mereka hanya menjual tapi tidak memakai.

Pasal yang disangkakan terhadap para tersangka,  yakni Pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) atau Pasal 112 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Dengan ancaman minimal 6 tahun penjara dan denda paling sedikit Rp 1 miliar dan maksimal penjara seumur hidup atau hukuman mati dan denda Rp 20 miliar.

[*to-65]

BACA JUGA  Biadab, Oknum Pegawai SPBU 6478321 Arogan Terhadap Wartawan

 

Trending

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.