Malang, Redaksi Satu | Seni pedalangan Jawa kembali mendapat energi baru, melalui sosok Ki Dadang Tri Handoko dalang termuda berusia (32) tahun.
Dalang muda berbakat yang tengah menjadi perhatian dalam, persiapan pagelaran Wayang Kulit Ringgit Purwo Klasik.
Persiapan pagelaran tersebut berlangsung di Hotel Oak, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Suasana persiapan menjadi ruang pertemuan antara tradisi, pengalaman para sesepuh, dan semangat generasi muda dalam menjaga keberlangsungan seni pedalangan.
Kehadiran Ki Dadang Tri Handoko, menjadi bagian penting dalam proses regenerasi seni pedalangan Jawa.
Di tengah perubahan zaman dan perkembangan berbagai bentuk hiburan modern, keberadaan generasi muda yang memilih menekuni dunia pedalangan menjadi sesuatu yang memiliki arti tersendiri.
Wayang kulit tidak hanya dikenal sebagai seni pertunjukan. Di dalamnya terdapat cerita, karakter, simbol, bahasa, musik, tata artistik, hingga berbagai nilai kehidupan yang diwariskan melalui perjalanan panjang kebudayaan Jawa.
Karena itu, proses regenerasi seorang dalang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memainkan wayang.
Seorang dalang juga dituntut memahami cerita, karakter tokoh, irama pertunjukan, serta pesan kehidupan yang hendak disampaikan kepada penonton.
Ki Dadang Tri Handoko dikenal sebagai warga Kaweruh Batin Tulis Tanpa Papan Kasunyatan.
Lingkungan penghayatan tersebut menempatkan kaweruh, kebatinan, dan pemaknaan kehidupan sebagai bagian dari proses pembentukan karakter.
Dalam perjalanan kebudayaannya.
Dirinya mendapat ruang belajar dan pendampingan dari Ki Dalang Sudarto Carito, yang dikenal sebagai sesepuh Kaweruh Batin Tulis Tanpa Papan Kasunyatan.
Pertemuan antara sesepuh dan generasi muda itu menghadirkan sebuah relasi yang menarik.
Pengalaman panjang seorang sesepuh bertemu dengan energi, kreativitas, dan semangat generasi penerus.
Bagi dunia seni tradisi, hubungan semacam itu memiliki arti penting. Pengetahuan yang diwariskan tidak selalu hadir dalam bentuk teori, tetapi juga melalui keteladanan, pengalaman, proses latihan, dan keterlibatan langsung dalam kehidupan kebudayaan.
Dalam konteks itulah persiapan pagelaran Wayang Kulit Ringgit Purwo Klasik, menjadi lebih dari sekadar persiapan sebuah pertunjukan.
Pagelaran tersebut, menjadi bagian dari perjalanan untuk menjaga agar seni pedalangan tetap memiliki ruang hidup. Tradisi tidak berhenti pada masa lalu, tetapi terus menemukan generasi yang mampu meneruskannya.
Wayang Kulit Ringgit Purwo Klasik yang dipersiapkan tersebut berakar dari Tradisi Baru Kuno Modern HORAIZO KLASIK Jejer Jejek Purwosari, Pasuruan, Jawa Timur, Ki Dalang Kejadian Peristiwa dan Kisah Ki Guntur Bisowarno Budayawan Manusia Sastra Budaya Canggih Kawasan Gunung Arjuno Induk Peradaban Dunia.
Tradisi tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya pedalangan Jawa yang terus dirawat dan dikembangkan.
Jejak tradisi itu sekaligus menunjukkan bahwa setiap pagelaran wayang memiliki latar sejarah dan kebudayaan yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat pendukungnya.
Bagi Ki Dadang, menjadi dalang bukan semata-mata memainkan wayang di hadapan penonton.
Dunia pedalangan juga menjadi ruang untuk menyampaikan nilai kehidupan melalui cerita, karakter tokoh, simbol, dialog, serta filosofi yang terkandung dalam setiap lakon.
Seorang dalang berada di tengah hubungan antara cerita dan penonton. Melalui tokoh-tokoh wayang, berbagai persoalan kehidupan dapat disampaikan dengan bahasa budaya yang telah dikenal masyarakat selama berabad-abad.
Di situlah kekuatan seni pedalangan tetap menemukan relevansinya. Cerita lama dapat dibaca kembali melalui perspektif zaman yang terus berubah.
Regenerasi menjadi salah satu tantangan penting bagi keberlangsungan seni tradisi.
Tanpa adanya generasi penerus, pengetahuan yang telah diwariskan selama berabad-abad berpotensi mengalami keterputusan.
Kehadiran Ki Dadang Tri Handoko menjadi salah satu gambaran bahwa masih terdapat generasi muda yang bersedia mengambil jalan kebudayaan melalui dunia pedalangan.
Usia muda bukan menjadi penghalang untuk memasuki ruang tradisi. Sebaliknya, energi generasi muda dapat menjadi kekuatan untuk membawa seni pedalangan menjangkau ruang dan penonton yang lebih luas.
Persiapan di Kabupaten Malang tersebut menjadi bagian dari perjalanan menuju pagelaran Ringgit Purwo Klasik.
Dalam proses tersebut, dukungan berbagai elemen kebudayaan menjadi penting, termasuk keterlibatan Bamboo Spirit Nusantara Support System TOURSM sebagai bagian dari pendukung perjalanan pagelaran.
Kolaborasi antara sesepuh, dalang muda, komunitas budaya, serta berbagai elemen pendukung diharapkan mampu menciptakan ruang yang lebih luas bagi seni pedalangan.
Ruang tersebut bukan hanya untuk mempertahankan bentuk pertunjukan, tetapi juga untuk memperkenalkan kembali makna dan filosofi wayang kepada generasi masa kini.
Dengan demikian, pelestarian budaya tidak berarti menjadikan tradisi sebagai sesuatu yang beku. Tradisi dapat terus berkembang selama nilai dasarnya tetap dijaga dan diwariskan.
Wayang kulit juga dapat menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Di tangan generasi penerus, cerita dan nilai yang terkandung di dalamnya dapat menemukan cara baru untuk dipahami.
Kisah perjalanan kebudayaan tersebut juga tidak terlepas dari sosok Ki Guntur Bisowarno dalam bingkai Kejadian, Peristiwa dan Kisah, sebagai bagian dari narasi kebudayaan yang terus dicatat dan diperbincangkan.
Bagi RedaksiSatu.id, regenerasi pedalangan bukan sekadar persoalan menghadirkan dalang baru di atas panggung.
Lebih jauh dari itu, regenerasi merupakan proses menjaga pengetahuan, nilai, karakter, filosofi, dan ruh kebudayaan Nusantara agar tetap hidup serta dapat diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Dari persiapan di Kabupaten Malang, perjalanan Ringgit Purwo Klasik kembali mengingatkan bahwa kebudayaan akan tetap hidup ketika ada generasi yang bersedia belajar, berkarya, dan meneruskan jejak para pendahulunya.
Ki Dadang Tri Handoko dan para sesepuh pedalangan kini berada dalam satu ruang kebudayaan: merawat tradisi, membuka ruang regenerasi, dan membawa Ringgit Purwo Klasik menuju panggung generasi masa kini tanpa kehilangan akar sejarahnya.(Jurnalis Kairos-Kairozo: Saidi Hartono).




