Lampung Selatan | redaksisatu.id – Klarifikasi pernyataan bupati saat acara penyerahan SK.THLS Sat. Pol.PP di Aula Sebuku pada hari Senin 21/02/2022 Kalianda. Jumat,(25/02/2022)
Menyikapi pemberitaan media online redaksisatu.id edisi Kamis,(24/02/2022) dengan judul ” Akan Mematikan Orang Atau Rizkinya Bila Mengganggu Pekerjaan Bupati ” pemberitaan tersebut menurut Kominfo terkesan negatif, dan arogan.
Sehingga Kepala Dinas Kominfo Sefri Masdian melakukan Klarifikasi pernyataan mewakili bupati Lampung Selatan, hal itu disampaikannya pada wartawan redaksisatu.id saat ditemui diruang kerjanya Kamis, (24/02/2022)
Menurut Sefri Masdian, Nanang Ermanto sebagai Bupati Kabupaten Lampung Selatan tidak pernah mengatakan “akan mematikan orang yang berani mengganggu kinerjanya” sebagaimana diberitakan oleh media online redaksisatu.id, ujar Sefri.

Dirinya menduga, pernyataan narasumber yang diwawancarai oleh wartawan media online redaksisatu.id itu, agak keliru, walau ucapannya sama tapi maknanya berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Bupati saat itu, kata Sefri.
“Mungkin nara sumbernya keliru dalam menterjemahkan maknanya sehingga artinya bisa berbeda dengan apa yang disampaikannya ke media,” kata sefri.
Menurut Sefri, makna dari pernyataan Bupati saat itu lebih menekankan pada kekompakan, gotong-royong, motivasi, kerjasama, tidak mengkotak-kotak maupun mengadu domba.
Dan itu ditekankan pada jajarannya disetiap kali kesempatan agar para jajarannya dapat bekerja sesuai dengan koridor dan terpacu untuk melakukan terobosan atau inovasi-inovasi untuk memajukan Lampung Selatan.
“Kegagalan suatu organisasi adalah manajemen konflik dan adu domba serta membangun sistem kotak-mengkotak, saya tidak mau melihat itu, pasti ketauan dengan saya.
Kalo enggak ketauan, kalo enggak mati orangnya, mati rejekinya,” jelas Sefri mengutip penggalan rekaman asli Bupati Nanang Ermanto saat berbicara di Aula Sebuku, itu yang dimaksud bupati saat disampaikan Bupati dihadapan ratusan Sat Pol.PP, pada Senin, (21/02/2022) yang lalu.
” Sefri membandingkan dengan yang tertulis pada media online redaksisatu.id tersebut dengan rekaman suara pak Bupati, kan berbeda” menurut Sefri.
“Namun, Sefri tidak mendengarkan rekaman pidato Bupati yang dimaksudnya itu pada wartawan redaksisatu.id, saat menyampaikan klarifikasi sanggahannya atas pemberitaan tersebut,
Masih menurut Sefri, apabila ada informasi yang sekiranya janggal atau aneh, sebaiknya dilakukan konfirmasi pada sumbernya atau crosscheck terlebih dahulu,” pinta Sefri.
“Ya intinya, masyarakat juga harus lebih bijak dalam memilih infomasi, sumbernya pun harus jelas, jangan mudah di adu domba, jangan mudah terprovokasi yang nantinya akan berdampak pada rusaknya persatuan dan kesatuan,”pungkasnya.

Dibagian lain, Sairudin Kepala Perwakilan media redaksisatu.id Propinsi Lampung, menyambut baik klarifikasi yang disampaikan oleh Kadis Kominfo mewakili Bupati Lampung Selatan, artinya ada resfon positif terhadap persoalan yang ada, hal itu penting agar tidak terjadi miss komunikasi.
Namun Sairudin menyanggah kalau dikatakan nara sumbernya tidak jelas, karena data tersebut diperoleh dari Sat.Pol PP, yang hadir diacara tersebut dan yang mendengarkan perbicaraan itu lebih dari tiga ratus orang, dan wartawan redaksisatu.id memiliki rekaman dari Pol.PP tersebut.
Sairudin berharap pada seluruh pejabat daerah janganlah alergi dengan kritik dalam pemberitaan media, asal bentuknya bukan fitnah atau hoaxs, sejauh data dan faktanya akurat boleh saja dipublikasikan.
Jangan pula kalau terbit pemberitaan yang sipatnya kritik, dianggap sebagai musuh atau dianggap sebagai adu domba, dan provokasi marilah kita saling koreksi dan saling mengingatkan satu sama lain dalam krangka membangun dan wartawan harus dapat bertanggung jawab atas berita yang dia buat.
Justru yang sering jadi persoalan dilapangan ketika wartawan akan melakukan konfirmasi terhadap pejabat atas suatu temuan wartawan yang akan diberitakan, terkadang oknum pejabatnya tidak mau merespon, bahkan wartawan seakan dicuekin begitu saja, padahal klarifikasi itu unsur yang sangat penting untuk disampaikan pada wartawan.
Nah repotnya setelah beritanya terbit, barulah para pihak kelimpungan, disitu wartawan terkesan yang disalahkan, padahal sebelum berita diterbitkan, wartawan bisa berkali – kali berupaya untuk melakukan konfirmasi tapi sering tidak mendapatkan jawaban, bahkan banyak oknum pejabat yang sengaja menghindari wartawan.
Sairudin berharap kedepan bisa terjalin komunikasi yang lebih baik lagi antara wartawan dengan seluruh pejabat khususnya yang ada di Bumi Rua Jurai ini, agar tetap tercipta situasi yang kondusif, mari kita sama – sama membangun Lampung Selatan sesuai dengan peran kita masing – masing, agar Lampung Selatan lebih baik dan maju lagi.( RS/Sai/Kmf)



