“Jika saja seorang bayi yang baru lahir, bisa langsung hebat main bola kaki? Aku yakin kau pasti lari ketakutan melihatnya, lanjut Sang guru. Tetapi karena pemain bola kaki hebat tadi berlatih gigih dan menekuni permainan bola kaki itu dari kecil,. Maka jadilah dia sukses dan hebat sebagai pemain bola kaki ternama, terang Sang guru.

Sekarang saya bertanya pada mu, ujar Sang guru, jika kamu diumpamakan sebagai toko,  merek apa yang bisa saya pasang di pintu tokomu? Sementara tokomu itu kosong. Tidak satupun yang bisa di jual di toko itu !, tuding Sang guru.

“Galahmu pendek semua. Bagaimana mau mendapatkan buah?” Tukas Sang Guru, tajam, sehingga membuat mata si tamu berair, karena tudingan gurunya.

“Dari pada kau menangis menyesali nasib. Lebih baik kau panggil nasibmu itu. Bilang padanya. “Hai Sib, sebaiknya kau jangan jelek- jelek begitu. Nanti aku malu pada semua orang..!” Katakan saja begitu pada nasib mu itu. Jelas Sang guru sambil mengibas-ngibaskan nyamuk yang mengintai dengan kain sarungnya.

Bukankah Allah telah mempercayakan mau buat merubah.. dirimu?. Lalu apa lagi yang kau rengek- rengekan kepada Allah?” Tanya sang Guru.

“Mungkin yang lebih baik sekarang, engkau bayangkan seorang bayi yang baru lahir menendang bola ke gawang dan mencetak gol. Pasti engkau akan tersenyum.” Kata sang Guru sambil menepuk bahunya, dan berdiri ingin pergi berwudhu untuk sholat sunat sebelum tidur.

BACA JUGA  Bertemu Duta Maritim Indonesia, LaNyalla Komitmen Dorong RUU Daerah Kepulauan

Sambil berjalan pergi mandi, sang Guru tersenyum senyum. Karena  pada tahun menjelang pemilu ini banyak bayi berjenggot dan bertubuh kekar seperti orang dewasa. Labelnya pemain bola kaki hebat.

Tapi bisanya hanya sekedar menggelinding- gelindingkan bola saja, tidak memiliki kompetensi di bidangnya. Bahkan diantaranya ada yang tidak pandai sama sekali menendang bola secara terarah ke gawang.

Sekalipun foto wajahnya dengan senyum yang mempesona di balehonya dengan moto aduhai, bayi-bayi berjenggot terpampang di sentaro negeri ini.

*Ah..mungkin mereka sedang mencoba mengadu nasib, mana tahu terjaring menjadi pemain bola kaki hebat.”Bisik hati sang guru.

Oleh Mulyadi