spot_img

Di Palanta Surau

Malam itu, sejumlah orang, berpakaian celana hitam galembong, baru saja beristirahat setelah melakukan latihan silat di halaman palanta surau.

Di palanta surau, tampak salah seorang pria, duduk bersandar pada dinding surau. Pria itu  dipanggil Ismet oleh teman-temannya dengan nama Ismet.

Ismet yang duluan beristirahat, menggeser duduknya ke depan guru dan bertanya.

BACA JUGA  Terlambat Untuk Lancar

“Guru.. Saya terus berdzikir, tapi hati saya tetap susah. Apalagi masalah ekonomi. Ini sangat membuat saya gelisah?” tanya Ismet dengan wajah putus asa pada sang guru.

“Sejak kapan kamu tukar Tuhanmu? ” jawab sang guru.

“Tidak pernah saya menukarnya guru!, Tuhan  saya  tetaplah Allah, ” jawabnya.

BACA JUGA  Cimory Group akan Berinvestasi di Sumbar

“Itu kan kata bibirmu saja, tapi hatimu tidaklah begitu. ” kata Sang Guru.

“Maksud guru? ” tanyanya bingung.

“Setiap saat, di dalam hatimu, yang besar itu bukanlah Allah,  akan tetapi kesusahan. Buktinya kamu tidak mampu menghindar ataupun menyingkirkan “susah” itu di hatimu.

BACA JUGA  Mengapa Dulu Aku Tak Mengirim Al-Fatihah

Bagimu yang besar itu hanyalah “susah”. Tegasnya susah itu lebih besar dan berkuasa di dalam hatimu daripada Tuhan itu sendiri.

“Bahkan ke mana-mana susah itulah yang menguasai hatimu. Bukan Allah yang Maha Rahman dan Rahim,” kata sang guru menegaskan .

“Lantas bagaimana lagi guru?” tanyanya.

BACA JUGA  Akibat Banjir Pengguna Jalan Nyaris Bentrok Dengan Warga

“Sibukanlah hatimu dengan Allah, jangan kamu disibukan oleh susah itu, agar susah itu tidak menjalar dalam darah dan menggerogoti setiap gerak hidupmu,” jawab sang guru.

Selang beberapa waktu, murid yang lain di Palanta Surau itu, Eka Tukul mengajukan pertanyaan yang senada.

“Guru, saya selalu berdoa akan kebaikan kehidupan ekonomi keluarga saya. Bahkan telah lakukan sholat tahajud dan sholat hajat di tengah malam,” jawab Eka Tukul.

BACA JUGA  Yayasan Darul Hikmah Pasbar Bercita-cita Sukses Juara Tahfiz Alquran Nasional

“Dengan mengerjakan sholat itu saya berharap agar hidup ini berubah lebih baik. Tapi kenapa Allah belum juga mengabulkan permintaan dalam do’a saya itu, ” keluh Eka Tukul.

”Jika kau benar benar meminta, apakah kau sangka, sulit bagi Allah mengabulkan doamu itu?,” sang guru di Palanta Surau balik bertanya.

“Tentu saja tidak guru!, lantas kenapa Allah belum mengabulkan juga?,” tanya Eka.

BACA JUGA  Menjaga Wibawa Guru di Tengah Sensitivitas Pendidikan

“Saya pikir, bukan Allah yang tidak mau mengabulkan doamu. Tetapi kamulah yang selalu mengusir Allah jauh-jauh ke langit. Engkau tidak pernah memberi kesempatan Allah untuk hadir di hatimu,” ucap Sang Guru.

“Engkau lupa dan mungkin mengingkari bahwa yang mendenyutkan jantungmu adalah Dia. Dialah Allah Yang Maha mengetahui dan Maha segala-galanya”, terang sang guru.

BACA JUGA  Forum Komunikasi Pondok Al-Quran Bukittinggi Gelar Mubes Untuk Pemilihan Pengurus Periode 2022 - 2025

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img