Malang, Redaksi Satu | Rangkaian pagelaran Wayang Kulit, Ringgit Purwo Klasik di Oak Lawang Hotel, Malang, Jawa Timur.
Menjadi ruang perjumpaan antara seni pedalangan, kisah pewayangan, filosofi kehidupan, serta upaya membaca kembali nilai-nilai budaya Nusantara melalui lakon-lakon yang sarat makna.
Rangkaian tersebut berlangsung dalam beberapa momentum sepanjang 2026. Salah satunya pada 31 Januari hingga 1 Februari 2026, ketika digelar Pagelaran Wayang Kulit Ringgit Purwo Klasik dengan lakon “Bodronoyo Mbangun Kahyangan.”
Tradisi Budaya Ringgit Purwo Klasik tersebut menjadi bagian dari perhatian dan pengembangan budaya yang dilakukan Guntur Bisowarno, Ketua Bamboo Spirit Nusantara Support System, melalui sebuah support system yang menempatkan seni budaya sebagai ruang pembelajaran dan perenungan kehidupan.
OAK Lawang Hotel Salah Satu Saksi Pagelaran Wayang Dalang Ki Dadang Tri Handoko
Pagelaran tersebut menghadirkan dalang tunanetra Ki Dadang Tri Handoko, dari Desa Nepoh, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, yang berada dalam asuhan Guru Dalang Ki Sudarto Carito, dari Sanggar Budaya Sekar Sari, Purwosari, Pasuruan, Jawa Timur.
Pertunjukan tidak hanya ditempatkan sebagai tontonan, tetapi juga sebagai ruang untuk melihat bagaimana tradisi pedalangan mampu menghadirkan pengetahuan melalui simbol, karakter, dialog, laku kehidupan, serta hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.
Momentum berikutnya berlangsung pada 14 Februari 2026 di tempat yang sama. Ki Dadang Tri Handoko kembali tampil sebagai dalang dengan dukungan sistem yang sama, dalam sebuah special project operator management yang digerakkan oleh Guntur Bisowarno selaku Ketua Bamboo Spirit Nusantara Support System.
Pada kesempatan tersebut, lakon yang diangkat adalah kisah Dewi Anggraeni dan Bambang Ekalaya atau Bambang Palgunadi, dengan tema “Wahyu Anugerah Cinta Kasih Sayang Sejati.”
Pemilihan momentum tersebut menjadi semakin bermakna karena berlangsung bertepatan dengan Hari Valentine yang secara populer dikenal sebagai hari kasih sayang, sekaligus ditempatkan dalam perspektif Hari Cinta Tanah Air.
Melalui lakon Ekalaya, cinta tidak hanya dimaknai sebagai hubungan antarmanusia, tetapi juga sebagai keteguhan hati, penghormatan terhadap guru, kesetiaan terhadap laku, serta kecintaan terhadap nilai kehidupan yang diyakini.
Rangkaian tersebut kemudian berlanjut pada 17 Agustus 2026, masih di Oak Lawang, dengan support system yang sama. Ki Dadang Tri Handoko kembali tampil sebagai dalang, sementara Ki Sudarto Carito tetap menjadi guru dalang yang menaungi perjalanan kesenian tersebut.
Dalam momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia itu, lakon yang diangkat adalah “Drupadi Rajasuya Wanita Pinilih.”
Pemilihan lakon tersebut kembali membuka ruang perenungan mengenai perempuan, kepemimpinan, keteguhan, pilihan hidup, serta nilai kemanusiaan yang hadir melalui dunia pewayangan.
Di antara rangkaian lakon tersebut, kisah Bambang Ekalaya atau Bambang Palgunadi menjadi salah satu cerita yang memiliki kedalaman khusus dalam pembacaan filosofis.
Dalam tradisi pewayangan Jawa, Bambang Ekalaya dikenal pula sebagai Bambang Palgunadi, seorang raja muda dari Negara Paranggelung.
Ia digambarkan bukan sebagai bagian dari lingkungan bangsawan Kuru di Hastina, melainkan berasal dari lingkungan masyarakat Nishada yang dalam sejumlah kisah dikaitkan dengan kehidupan pemburu hutan.
Kisahnya bermula dari keinginan Ekalaya untuk berguru kepada Eyang Dorna, tokoh yang dikenal memiliki kemampuan tinggi dalam ilmu memanah.
Dalam kisah pedalangan, kemampuan tersebut digambarkan melalui ajian atau ilmu memanah yang sangat luar biasa.
Ekalaya datang dengan niat tulus untuk belajar. Namun keinginannya tersebut tidak mendapatkan penerimaan sebagaimana yang diharapkannya. Ia ditolak oleh Eyang Dorna karena latar belakang dirinya dan karena Dorna telah memiliki janji kepada Arjuna untuk menjadikannya pemanah unggulan.
Penolakan tersebut tidak membuat Ekalaya berhenti. Ia kembali ke hutan dan memilih jalan belajar melalui ketekunan, latihan, disiplin, serta keyakinan yang tumbuh dari dalam dirinya sendiri.
Dalam kesendiriannya, Ekalaya membuat sebuah patung dari tanah liat yang menyerupai Eyang Dorna. Patung tersebut ditempatkan di hutan dan diperlakukan sebagai simbol gurunya.
Setiap hari Ekalaya melakukan penghormatan di hadapan patung tersebut, kemudian berlatih memanah dengan tekun. Patung itu pada akhirnya bukan sekadar benda, tetapi menjadi simbol hubungan batin antara seorang murid dengan ilmu yang ingin dikuasainya.
Ketekunan Ekalaya kemudian digambarkan menghasilkan kemampuan memanah yang luar biasa. Dalam salah satu bagian kisah, kemampuannya diketahui ketika para Pandawa dan Kurawa menemukan seekor celeng yang mati dengan tujuh anak panah berada di dalam mulutnya.
Kemampuan seperti itu kemudian menimbulkan pertanyaan tentang siapa pemanah yang mampu melakukan hal tersebut. Ketika bertemu dengan Ekalaya, mereka menanyakan siapa gurunya.
Ekalaya menjawab bahwa gurunya adalah Eyang Dorna. Jawaban tersebut kemudian mengejutkan Arjuna dan Dorna karena secara kenyataan Dorna merasa tidak pernah memberikan pelajaran secara langsung kepada Ekalaya.
Dorna kemudian mendatangi Ekalaya. Dalam kisah pewayangan yang berkembang, Ekalaya tetap menunjukkan penghormatan sebagai seorang murid kepada orang yang diyakininya sebagai guru.
Konflik kemudian mencapai bagian tragis ketika Dorna meminta dakshina, atau persembahan bakti seorang murid kepada gurunya. Dalam kisah tersebut, Ekalaya diminta menyerahkan ibu jarinya sebagai bentuk bakti.
Ekalaya menerima permintaan tersebut tanpa ragu. Ia memotong ibu jarinya sendiri dan menyerahkannya kepada Dorna sebagai tanda pengabdian seorang murid kepada guru yang selama ini diyakininya.
Peristiwa itu menjadi salah satu bagian paling tragis dalam kisah Ekalaya. Dalam pembacaan cerita, pengorbanan tersebut sekaligus memperlihatkan betapa kuat keyakinan seorang murid terhadap gurunya, meskipun proses berguru itu tidak berlangsung secara konvensional.
Namun dalam perkembangan pedalangan Jawa, kisah Ekalaya tidak berhenti pada hilangnya ibu jari. Dalam sejumlah versi cerita, kesaktiannya tetap melekat dan ia masih mampu memanah dengan cara yang berbeda.
Dari sini muncul pembacaan filosofis bahwa kekuatan ilmu tidak semata-mata berada pada bentuk lahiriah, melainkan pada ketekunan, laku, kesadaran, dan hubungan batin seseorang dengan ilmu yang dipelajarinya.
Dalam perspektif filosofi yang disampaikan dalam rangkaian tersebut, Ekalaya menjadi simbol “Guru Sejati ada di dalam diri.” Patung Dorna yang dibuat Ekalaya dapat dibaca sebagai cermin kesadaran bahwa seorang manusia harus menemukan sumber pembelajaran melalui perjalanan hidupnya sendiri.
Pemaknaan itu kemudian dikaitkan dengan pandangan bahwa alam juga menyediakan pembelajaran. Air dan api, misalnya, tidak harus selalu menunggu seorang guru manusia untuk menjalankan sifat dan hukumnya. Keduanya menjadi bagian dari proses belajar kehidupan.
Dalam kerangka tersebut, perjalanan Ekalaya bukan sekadar cerita tentang seorang pemanah yang kehilangan ibu jari, tetapi juga gambaran mengenai ketekunan, kesetiaan, pengorbanan, pencarian ilmu, serta perjalanan menemukan guru sejati di dalam diri.
Kisah Ekalaya juga memiliki hubungan dengan bagian lain dari perjalanan cerita pewayangan,
ermasuk munculnya Drestajumena yang dalam kisah Baratayuda berhadapan dengan Dorna. Hubungan antartokoh tersebut kemudian dapat dibaca sebagai rangkaian sebab-akibat dan simbol karma dalam tradisi pedalangan.
Bagi Bamboo Spirit Nusantara Support System, rangkaian pagelaran tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan budaya bukan hanya sebagai pertunjukan, tetapi juga sebagai ruang ngobrol, saresehan, pembelajaran, dan pencarian makna melalui wujud budaya.
Melalui Ki Dadang Tri Handoko, Ki Sudarto Carito, serta dukungan manajemen dan support system Guntur Bisowarno, lakon-lakon Ringgit Purwo ditempatkan sebagai media untuk mempertemukan seni, manusia, alam, pengetahuan, dan kesadaran budaya.
Pada akhirnya, kisah Bambang Ekalaya mengajak penonton untuk melihat kembali satu pertanyaan mendasar: ketika seorang manusia tidak mendapatkan jalan belajar sebagaimana yang diharapkannya, apakah perjalanan pengetahuan harus berhenti?
Jawaban yang ditawarkan melalui simbol Ekalaya adalah ketekunan untuk terus berjalan. Guru dapat hadir melalui manusia, alam, pengalaman, peristiwa, bahkan melalui kesadaran yang tumbuh di dalam diri.
Dari sanalah lahir sebuah pesan: Hidup Semesta, belajar dari kehidupan, menemukan Guru Sejati dalam perjalanan diri. (Penulis: Saidi Hartono).




