Penulis Jurnalis Kairos-Kairozo: Saidi Hartono
Redaksi Satu | Sosok Ki Tohari menjadi salah satu topik hangat, yang telah menggabungkan dimensi pemikirannya sangat matang menyinggung masalah Peradaban Nusantara.
Peradaban Nusantara tidak hanya dibangun melalui peninggalan sejarah, seni, bahasa, dan tradisi.
Di balik semua itu, terdapat pula ruang penghayatan manusia terhadap kehidupan, alam, dan nilai-nilai kebudayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah dinamika zaman yang semakin modern, sosok-sosok yang masih tekun merawat ruang penghayatan tersebut terus bermunculan di berbagai daerah.
Salah satunya adalah Ki Tohari, tokoh budaya yang dikenal melalui aktivitas penghayatan dan saresehan budaya di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
Ki Tohari merupakan Pimpinan Sanggar Panuwunan Kasampurnane Budi Luhur yang berada di Dusun Jati Kauman, Desa Cendono, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
Sanggar tersebut menjadi salah satu ruang perjumpaan bagi masyarakat untuk melakukan saresehan, bertukar pandangan, sekaligus menggali kembali nilai-nilai kehidupan yang berangkat dari kearifan budaya Nusantara.
Dalam perjalanan penghayatannya, Ki Tohari menempatkan rasa manusia sebagai salah satu bagian penting dalam memahami kehidupan dan penghidupan.
Baginya, manusia tidak semata-mata dipandang, sebagai makhluk yang menjalani kehidupan secara lahiriah.
Ada ruang batin, kesadaran, pengalaman, serta hubungan manusia dengan lingkungan dan alam yang turut membentuk cara seseorang memahami keberadaannya.
Pandangan tersebut kemudian dituangkan melalui, sebuah ruang penghayatan yang dikenal dengan Saresehan Roso Orep Sejati.
Istilah tersebut menjadi bagian dari cara Ki Tohari dan komunitasnya, membicarakan kehidupan dari sudut pandang rasa, kesadaran, kebijaksanaan, serta pengalaman manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Saresehan Roso Orep Sejati tidak sekadar diposisikan sebagai forum pertemuan.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang dialog untuk menggali makna kehidupan melalui pengalaman, budaya, dan penghayatan masing-masing peserta.
Dalam konteks kebudayaan Nusantara, pola semacam ini memiliki akar panjang. Tradisi masyarakat Nusantara sejak dahulu mengenal berbagai bentuk pertemuan, rembug, dan dialog yang menjadi sarana untuk menyelesaikan persoalan sekaligus menjaga hubungan antarmanusia.
Ki Tohari melihat bahwa penghayatan terhadap kehidupan perlu dilakukan dengan kesadaran, bukan sekadar menerima sesuatu secara mentah.
Ia menggambarkan penghayatan tersebut sebagai upaya manusia memahami rasa hidup, penghidupan, dan kehidupan yang dianggap hakiki menurut pengalaman serta keyakinan penghayatnya.
Dalam penuturannya, pemahaman itu juga dikaitkan dengan sesuatu yang logis, alamiah, natural, dan ilahi.
Namun, seluruh pemaknaan tersebut merupakan perspektif penghayatan Ki Tohari dan lingkungan budayanya.
Karena itu, istilah-istilah tersebut lebih tepat dipahami sebagai bahasa kebudayaan, dan spiritualitas dalam konteks pengalaman mereka.
Menariknya, pemikiran Ki Tohari tidak berdiri sendiri. Ia juga dikenal memiliki jaringan komunikasi kebudayaan, dengan berbagai tokoh yang memiliki perhatian terhadap peradaban Nusantara.
Salah satu jaringan tersebut terhubung, dengan Bamboo Spirit Nusantara, yang digerakkan oleh Ki Guntur Bisowarno.
Pertemuan gagasan antara Ki Tohari dan jaringan Bamboo Spirit Nusantara memperlihatkan, adanya ruang dialog yang lebih luas mengenai kebudayaan, manusia, alam, dan perjalanan peradaban Nusantara.
Dalam perspektif kebudayaan, jaringan seperti ini menarik untuk dicermati karena, mempertemukan pengalaman lokal dengan gagasan yang lebih luas mengenai identitas dan peradaban Nusantara.
Dusun Jati Kauman, Desa Cendono, Kecamatan Purwosari, pun menjadi salah satu titik yang menyimpan aktivitas penghayatan tersebut.
Di tempat itu, saresehan menjadi medium untuk mempertemukan manusia dengan manusia lainnya melalui percakapan, pengalaman, dan pemaknaan terhadap kehidupan.
Bagi Ki Tohari, kebudayaan bukan semata-mata sesuatu yang dipamerkan dalam panggung kesenian atau disimpan sebagai artefak sejarah.
Kebudayaan juga hidup melalui cara manusia berbicara, bersikap, menghormati sesama, membaca lingkungan, dan memahami perjalanan kehidupannya.
Pandangan semacam itu menjadi semakin relevan ketika, masyarakat modern menghadapi perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat.
Kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup membawa banyak kemudahan, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan mengenai bagaimana manusia tetap menjaga hubungan dengan akar budaya dan nilai-nilai kemanusiaannya.
Di sinilah ruang saresehan yang digagas dan dihayati Ki Tohari, memiliki arti tersendiri sebagai ruang dialog kebudayaan.
Bukan untuk mempertentangkan masa lalu dengan masa kini, melainkan mencoba mempertemukan pengalaman leluhur dengan kehidupan manusia masa sekarang.
Jejak Ki Tohari juga menunjukkan bahwa peradaban Nusantara dapat dibaca dari banyak pintu. Ada pintu sejarah, seni, bahasa, tradisi, filsafat, lingkungan, hingga pengalaman spiritual masyarakat.
Saresehan Roso Orep Sejati menjadi salah satu bentuk upaya membaca kehidupan melalui pintu tersebut, dengan rasa dan pengalaman manusia sebagai titik berangkatnya.
Bersama jaringan kebudayaan seperti Bamboo Spirit Nusantara dan Ki Guntur Bisowarno, ruang dialog semacam ini membuka kemungkinan lahirnya percakapan yang lebih luas mengenai masa depan kebudayaan Nusantara.
Pada akhirnya, mengenal Ki Tohari bukan hanya mengenal seorang pimpinan sanggar di pelosok Pasuruan.
Ia juga berarti menyimak sebuah perjalanan penghayatan, mengenai bagaimana manusia berusaha memahami kehidupan melalui budaya, rasa, alam, dan kesadaran.
Dari Dusun Jati Kauman, Desa Cendono, Purwosari, Pasuruan, suara saresehan itu terus mengalir sebagai bagian dari mozaik besar peradaban Nusantara.-
Sebuah peradaban yang tidak hanya diwariskan melalui benda dan sejarah, tetapi juga melalui pengalaman manusia dalam memaknai kehidupan. (Redpel).




