Iklan
Iklan
BerandaUncategorizedVonis Ringan Terhadap 22 Terdakwa Pembakaran Rumah Ibadah Ahmadiyah Dipertanyakan?

Vonis Ringan Terhadap 22 Terdakwa Pembakaran Rumah Ibadah Ahmadiyah Dipertanyakan?

REDAKSI SATU.ID|Jakarta-Vonis terhadap terdakwa dalam kasus perusakan Masjid Miftahul oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pontianak (PN) Kalimantan Barat telah menjadi banyak pertanyaan tentang peradilan di Indonesia, Kamis (13/01). Dimana tempat ibadah ini dibangun oleh kelompok Ahmadiyah di Desa Balai Harapan, Kecamata Tempuak, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat dengan penjatuhan hukuman yang ringan.

Namun sebelumnya, Majelis Hakim PN Pontianak telah membacakan vonis pertama, kepada 22 terdakwa dengan menggunakan pasal dakwaan melanggar pasal 160 KUHP bagi 3 orang terdakwa tentang kejahatan menghasut. Sedangkan 19 terdakwa lainnya divonis dengan pidana melanggar pasal 170 ayat (1) KUHP, yakni melakukan kekerasan secara bersama-sama terhadap orang atau barang.

Vonis tersebut mendapat perhatian dan kritik dari pengamat hukum Petrus Selestinus Koordinator Pergerakan Advokat Nusantara (Perekat Nusantara), Senin (17/01) di Jakarta.

Menurut Petrus, hal tersebut sangat mengherankan dari proses hukum pada peristiwa pidana yang didominasi oleh tindakan kekerasan atas dasar SARA. Termasuk pula mengganggu posisi negara sebagai penjamin kemerdekaan bagi tiap-tiap penduduk untuk memeluk dan beribadah sesuai agama dan kepercayaannya masing-masing.

“Mereka (terdakwa-red) hanya dikenakan pasal Tindak Pidana biasa yaitu pasal 160 dan pasal 170 ayat (1) KUHP dengan vonis ringan hanya 4 bulan 15 hari pidana penjara. Ini jauh dari rasa keadilan masyarakat dan tidak memberi efek jera apapun bagi pelaku,” kritik Petrus.

Lanjutnya, kata dia, sebagai sebuah lembaga Peradilan yang berpijak pada UUD’ 1945 maka Penyidik Polisi, Jaksa Penuntut Umum dan Hakim sudah seharusnya melakukan konstruksi kasus pengrusakan Masjid Miftahul Huda dan pembakaran rumah warga Komunitas Ahmadiyah di Desa Balai Harapan, Kecamatan Tempuak, Kabupaten Sintang. Dimana harus dinilai sebagai peristiwa pidana atau kejahatan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan)

BACA JUGA  Polres Bukittinggi Berhasil Tangkap 3 Pemuda Penyalahguna Narkoba

“Dasar hukumnya ada dalam ketentuan UU No.40 Tahun 2008,Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, UU No. 39 Tahun 1999, Tentang HAM dan pasal 82A jo. pasal 59 ayat (3) UU No. 16 Tahun 2017 Tentang Ormas di samping pasal 160 dan pasal 170 ayat (1) KUHP. Jadi beberapa Ormas sesungguhnya telah melakukan tindakan yang menjadi wewenang aparat Penegak Hukum dalam kejahatan yang dikualifikasi sebagai kejahatan SARA,” jelasnya.

Menurut Petrus, proses penyidikan dan penuntutan yang syarat dengan kompromi bahkan konspirasi, telah merendahkan wibawa hukum, kedaulatan negara dan prinsip negara hukum. Sebab kata dia, dalam peristiwa pidana atau kejahatan SARA, mereka mengkonstruksikan menjadi peristiwa pidana biasa dengan menerapkan pasal sangkaan dan dakwaan melanggar pasal 160 dan pasal 170 ayat (1) KUHP demi mengabaikan kejahatan SARA dan HAM.

“Ini jelas merupakan sebuah model konspirasi dalam penegakan hukum dengan menerapkan pasal-pasal yang tidak ada korelasinya dengan substansi peristiwa pidana. Padahal yang terjadi yaitu adanya tindakan permusuhan oleh sekelompok Orang atau ormas terhadap sekelompok masyarakat lainnya atas dasar suku, agama, ras atau golongan secara brutal dan sewenang-wenang dengan mengambil alih wewenang penegak hukum,” ungkap Petrus.

Petrus juga menjabarkan, bahwa tindakan sekelompok masyarakat (Ormas) yang merusak bangunan, mengancam keselamatan nyawa manusia.  Bahkan secara hukum meniadakan hak atas kebebasan komunitas Ahmadiyah dalam menjalankan Ibadah agama dan kepercayaannya.

“Seharusnya kepada mereka diperhadapkan dengan ancaman pidana berat, seperti dimaksud dalam pasal 82A UU No.16 Tahun 2017 Tentang Ormas, berupa pidana penjara maksimum 20 (dua puluh) tahun, UU No. 39 Tahun 1999 Tentang HAM dan UU No.40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis,” bebernya.

BACA JUGA  Apel Siaga SAR, Jajaran Satbrimob Polda Banten

“Vonis ringan kasus kekerasan atas sekelompok Masyarakat atas nama agama terhadap kelompok masyarakat yang berbeda keyakinan keagamaan (minoritas) atau kasus-kasus penodaan agama terhadap agama minoritas, dengan vonis penjara ringan dalam kasus Terdakwa Yahya Waloni dan kasus Masjid Ahmadiyah Sintang. Hal ini memperlihatkan betapa negara belum bersikap adil dan bijaksana pada kelompok agama minoritas,” jelasnya.

Menurut Petrus, negara justru berada dalam posisi mengingkari komitmennya, dimana negara baru bisa menjamin kebebasan warga negaranya untuk memeluk agama dan kepercayaannya. Akan tetapi negara belum bisa memberikan jaminan atas kemerdekaan untuk menjalankan ibadah menurut agama dan kepercayaannyaannya itu, seperti pada kejahatan persekusi, intoleransi dan tindakan vigilante masih terus terjadi terhadap kelompok agama minoritas.

“Padahal konstitusionalitas jaminan atas kebebasan unuk memeluk agama dan kepercayaan itu setara dengan jaminan atas kemerdekaan melaksanakan ibadah agama dan kepercayaannya itu. Tidak ada gunanya jika negara hanya menjamin warganya untuk bebas memeluk agama dan kepercayaan, tetapi negara abai memberikan jaminan kemerdekaan bagi warganya untuk menjalankan ibadah menurut agama dan kepercayaannya itu,” urainya panjang lebar.

Kata dia, Pasal 29 UUD’ 45 ayat (2) menyatakan, bahwa: Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayannya itu.

“Penjatuhan hukuman yang jauh dari rasa keadilan publik terutama para korban dalam kasus SARA, merupakan pertanda buruk dimana sejumlah aparatur di dalam Lembaga Peradilan (Penyidik Polisi, Jaksa Penuntut Umum dan Hakim) diduga telah terpapar ideologi intoleran dan radikal,” sesalnya.

Terakhir katanya, indikatornya ada sikap memihak dan toleran para hakim terhadap pelaku kejahatan SARA, Intoleran dan Vigilante selama proses hukum.

“Buktinya vonis ringan pelaku Kejahatan SARA di Sintang dan Kejahatan Ujaran Kebencian terhadap terdakwa Yahya Waloni yang hanya divonis 5 (lima) bulan penjara,” pungkasnya. (red)

BACA JUGA  ERICK THOHIR : Transformasi BUMN Membuka Lebar Peluang Bagi Generasi Muda

Trending

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.