spot_img

NEGERI HEMAT PADA GURU

Negeri Hemat Pada Guru

Cerpen: oleh Ismilianto

Pak Sastro menghapus papan tulis perlahan. Debu kapur menempel di jemarinya, seperti sisa-sisa mimpi yang belum sempat diwujudkan.

Di dinding kelas terpajang ayat yang sudah pudar warnanya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādilah: 11)

Ia sering membacanya, namun hari ini terasa paling berat. Di luar kelas, negeri ini sibuk bicara keamanan.

Anggaran ditambah. Fasilitas dilengkapi. Tunjangan dinaikkan.

Pak Sastro tak iri. Ia hanya heran. Sebab di kelas sederhana itulah, semua itu bermula.

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sesungguhnya aku diutus hanyalah sebagai seorang pendidik.” (HR. Ibnu Mājah)

Kalimat itu ia ajarkan pada murid-muridnya. Tapi di negeri ini, menjadi pendidik justru sering berarti: bersiap hidup paling akhir diperhatikan.

Suatu siang, seorang murid bertanya, “Pak, kenapa guru honorer gajinya kecil?” Pak Sastro terdiam.

Ia ingin menjawab dengan teori ekonomi. Namun lisannya hanya mampu berkata, “Mungkin karena negeri ini lupa, bahwa pena lebih dulu bekerja sebelum yang lainnya.”

Padahal, jauh di utara sana— di Finlandia, guru adalah profesi paling dihormati. Gajinya tinggi. Seleksinya ketat.

Karena negara itu percaya: kualitas bangsa ditentukan di ruang kelas, bukan di ruang rapat.

Di Jepang, guru tak hanya digaji layak, mereka dibentuk sebagai teladan moral. Anak-anak membersihkan kelas, karena guru lebih dulu mengajarkan tanggung jawab, bukan hanya hafalan.

Di Singapura, negara memastikan guru hidup bermartabat, agar mereka fokus mendidik, bukan sibuk bertahan hidup.

Negeri-negeri itu tak miskin slogan. Mereka miskin basa-basi. Pak Sastro memandang murid-muridnya satu per satu.

Di wajah mereka, ia melihat masa depan. Namun ia juga melihat bahaya besar:

BACA JUGA  Dinas Pendidikan Diduga Memaksa Guru Membeli Tiket IMTF 150 Ribu

Negeri yang berani tanpa guru sejahtera adalah negeri yang sedang menabung kehancurannya sendiri.

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

Tapi bagaimana jalan itu akan ditempuh, jika orang yang menuntunnya dipaksa berjalan paling berat?

Malam itu, Pak Sastro menulis di buku kecilnya: “Jika suatu hari bangsa ini kehilangan arah, jangan salahkan generasi mudanya.

Tanyakan dulu, bagaimana negara memperlakukan gurunya.” Dan mungkin, di situlah kebijakan seharusnya dimulai.

PESAN MORAL:

Negara yang besar bukan yang paling keras menjaga keamanan,tetapi yang paling serius menjaga ruang kelas.

Sebab senjata menjaga hari ini, namun guru menentukan seratus tahun ke depan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img