spot_img

TERLAMBAT UNTUK LANCAR

Terlambat Untuk Lancar

Cerpen: oleh Ismilianto

Aku baru benar-benar menyesal di usia ketika rambut mulai memutih dan suara azan terdengar lebih dekat daripada masa depan.

Dulu aku selalu punya alasan. Sekolah, kerja, lelah, malu.

Ngaji kutunda, seolah Al-Qur’an bisa menunggu kapan pun aku siap.

Suatu pagi, di masjid kampung, imam menunjukku. “Bapak saja yang baca Al-Fatihah.”

Tanganku dingin. Huruf-huruf yang dulu kukenal lari satu per satu dari ingatan.

Aku tersenyum, menolak dengan alasan suara sedang tak baik, padahal hatiku yang sakit.

Di rumah, kubuka mushaf lama. Huruf-huruf Arab itu menatapku tenang, seolah berkata: “Kami tidak pernah menjauh, kamulah yang terlalu lama pergi.”

Baru saat itu aku paham, ngaji bukan sekadar melafalkan huruf, ngaji adalah jalan pulang agar doa tahu ke mana harus naik.

Allah berfirman: “Dan sungguh Kami mudahkan Al-Qur’an untuk diingat, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)

Aku menangis, bukan karena sulit membaca, tetapi karena sadar: betapa banyak salatku selama ini yang tak sepenuhnya kupahami.

Kini aku belajar dari awal, pelan, terbata, seperti anak kecil yang baru mengenal huruf.

Malu? Iya.

Tapi lebih malu lagi jika kelak bertemu Allah dengan kitab yang tak pernah benar-benar kubaca.

Ternyata ngaji itu bukan urusan pandai atau bodoh, bukan soal usia atau waktu, melainkan soal mau atau terus menunda.

Dan penyesalan terbesar bukan karena terlambat mulai, tetapi karena sempat mengira Al-Qur’an tidak terlalu penting dalam hidupku.

BACA JUGA  Kemenag Harus Menjadi Oase Semua Agama

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img