Cerpen “Aku Tidak Kau Buka Lagi” karya Ismilianto mengajak kita merenungi hubungan yang sering kali tanpa sadar kita renggangkan: hubungan dengan Al-Qur’an. Di tengah derasnya kesibukan, ambisi, dan gemerlap dunia, manusia kerap merasa masih memiliki banyak waktu—hingga akhirnya waktu itulah yang justru meninggalkannya.
Kisah ini bukan sekadar cerita tentang seorang lelaki tua yang menyesal di ujung usia. Ia adalah cermin bagi siapa saja yang pernah menunda, yang pernah berkata “nanti”, yang merasa masih ada kesempatan untuk kembali.
Dengan bahasa yang sederhana namun menyentuh, cerpen ini mengetuk hati pembaca untuk bertanya: sudahkah kita benar-benar menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat hidup, atau justru kita telah lama membiarkannya tertutup dan terlupakan?
Semoga kisah ini menjadi pengingat lembut sebelum penyesalan benar-benar datang.
Aku Tidak Kau Buka Lagi
Malam itu sunyi sekali. Di ruang tamu yang lampunya redup, seorang lelaki tua duduk sendiri.
Rambutnya mulai memutih. Nafasnya sesak. Dokter sudah berulang kali mengingatkan: waktunya mungkin tidak lama lagi.
Ia memandangi lemari kayu di sudut ruangan. Di sana, tersimpan sebuah mushaf Al-Qur’an. Bersampul hijau tua. Bersih. Terlalu bersih.
Tangannya gemetar saat mengambilnya. Debu tipis menempel di pinggirannya. “Sejak kapan aku tidak menyentuhmu?” bisiknya pelan.
Dulu, waktu masih muda, ia rajin membacanya. Saat kuliah, ia hafal beberapa surah. Saat pertama kali punya anak, ia berjanji akan membesarkan mereka dengan Al-Qur’an.
Tapi hidup berjalan cepat. Bisnis. Ambisi. Jabatan. Kesibukan. Gengsi.
Ia berteman dengan layar ponsel berjam-jam. Ia hafal notifikasi. Ia hafal jadwal rapat. Ia hafal harga saham. Tapi ia lupa ayat-ayat Rabbnya.
Ia selalu berkata, “Nanti kalau sudah longgar, aku akan lebih dekat dengan Al-Qur’an.” Tapi “nanti” itu tidak pernah datang.
Beberapa malam kemudian, ia bermimpi. Ia berada di sebuah tempat yang gelap dan sempit. Tanah menutup tubuhnya. Ia mencoba berteriak, tapi suaranya hilang. Nafasnya berat.
Tiba-tiba, ada suara yang sangat ia kenal… tapi terasa asing.
“Aku pernah menjadi sahabatmu… mengapa kau tinggalkan aku?”
Di hadapannya berdiri sosok bercahaya. Indah. Menenangkan. Tapi wajahnya seperti menyimpan kesedihan.
“Aku adalah Al-Qur’an yang dulu sering kau baca. Aku yang dulu menenangkan hatimu. Aku yang dulu kau janjikan untuk kau jadikan teman seumur hidup.”
Lelaki itu menangis dalam mimpi itu. “Aku sibuk… aku lelah… aku—” “Engkau punya waktu untuk segalanya,” suara itu lembut tapi menusuk, “kecuali untukku.”
Ia teringat ayat Allah: “Dan Rasul berkata: ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.’” (QS. Al-Furqan: 30)
Ia gemetar. Apakah ia termasuk yang mengeluhkan itu di hadapan Rasulullah SAW? Ia terbangun dengan dada sesak. Air matanya membasahi bantal.
Subuh belum tiba. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membuka mushaf itu sebelum membuka ponsel.
Huruf-huruf itu seperti hidup. Seakan-akan berkata, “Aku tidak pernah meninggalkanmu. Engkaulah yang pergi.”
Ia membaca terbata-bata. Lidahnya kaku. Hatinya terasa berat. Tapi setiap ayat seperti memecah dinding keras yang selama ini membungkus jiwanya.
Ia sadar… Selama ini ia merasa kesepian. Merasa gelisah. Merasa hidupnya kosong. Padahal ia yang memutuskan hubungan dengan sahabat



