Mengapa Dulu Aku Tak Mengirim Al-Fatihah

Mengapa Dulu Aku Tak Mengirim Al-Fatihah

Aku baru bertanya pada diriku sendiri, saat suara mereka mulai jarang terdengar di rumah.

Bukan karena jauh, tetapi karena waktu telah mengubah segalanya.

Dulu aku sibuk menjadi orang tua yang kuat. Mengatur, menasihati, menuntut yg banyak pada mereka.

Aku pastikan mereka sekolah, makan, berpakaian pantas. Kupikir itu sudah cukup.

Aku lupa satu hal kecil yang ternyata paling besar nilainya: mengirim Al-Fatihah untuk mereka dengan hati yang benar-benar pasrah.

Setiap selesai salat, aku bergegas berdiri. Tak pernah kuhadiahkan doa khusus, tak pernah kusebut nama mereka satu per satu di hadapan Allah.

Padahal Rasulullah SAW bersabda: “Doa orang tua untuk anaknya adalah doa yang tidak tertolak.” (HR. Ahmad)

Kini aku mengerti, Al-Fatihah bukan sekadar bacaan, ia adalah pagar halus yang melindungi anak-anak dari jalan yang tak mampu kita awasi.

Allah berfirman: “Dan orang-orang yang berkata: ‘Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kamipasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk mata.’” (QS. Al-Furqan: 74)

Aku menyesal, bukan karena mereka tumbuh dengan kekurangan dunia, tetapi karena aku terlalu percaya pada nasihat dan amarah, lalu lupa pada doa.

Kini setiap sujudku lebih lama. Setiap Al-Fatihah kusebutkan nama mereka pelan-pelan, meski ada yang sudah jauh, meski ada yang tak lagi kecil.

Dan di sinilah aku ingin bercerita tentang satu kisah nyata yang gemilang.

Di sebuah desa sederhana, ada seorang ibu yang tak pandai memberi nasihat panjang.

Pendidikannya biasa, hartanya tak berlebih.

Namun ia memiliki satu kebiasaan yang tak pernah ditinggalkan: setiap selesai salat, ia membaca Al-Fatihah untuk anak-anaknya dan menyebut nama mereka satu per satu.

BACA JUGA  Beri Aku Guru, Niscaya Aku Bangun Negeri!

Ketika anak-anaknya merantau, ia tak banyak mengeluh. Ia hanya berkata,

“Anakku tidak bersamaku, tapi namanya selalu bersamaku di hadapan Allah.”

Tahun-tahun berlalu. Anak pertamanya menjadi dosen, yang kedua menjadi dokter, yang ketiga pengusaha jujur, dan yang bungsu tumbuh sebagai anak yang lembut akhlaknya.

Saat ditanya rahasianya, ibu itu hanya tersenyum, “Aku tak punya apa-apa selain Al-Fatihah dan air mata.”

Saat itulah aku benar-benar paham: doa orang tua tidak selalu terlihat cepat, tetapi selalu datang dengan tepat.

Dan jika hari ini kita masih diberi waktu, jangan ulangi kelalaianku.

Sebelum bangkit dari sajadah, kirimkan Al-Fatihah untuk anak-anak kita.

Pesan Moral:

Menjadi orang tua bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan dunia anak-anak, tetapi tentang menjaga mereka dengan doa yang tulus.

Nasihat, amarah, dan aturan sering kali kita anggap cukup, padahal ada kekuatan sunyi yang jauh lebih besar: doa yang lahir dari hati yang pasrah kepada Allah.

Al-Fatihah yang dibacakan dengan menyebut nama anak-anak adalah bentuk cinta paling dalam, penjagaan paling halus, dan warisan terbaik yang tak lekang oleh jarak dan waktu.

Selagi masih ada kesempatan, jangan tunda mendoakan anak-anak kita, karena doa orang tua mungkin tak selalu terasa segera, tetapi tak pernah sia-sia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img