Petang Yang  Meminta Jawaban

Petang Yang  Meminta Jawaban

Cerpen: oleh Ismilianto

Petang itu turun tanpa suara. Langit menguning seperti halaman tua yang hendak ditutup.

Ia duduk di beranda, memandangi jalan yang sepi. Seharian ia berlari— mengejar angka, nama, dan pengakuan sejagat.

Semuanya telah tercapai, tapi dadanya tetap terasa kosong, seperti gelas bening yang lupa diisi.

Azan Magrib mengalir dari kejauhan. Nada itu tak memanggil langkah, tapi memanggil ingatan kita.

Tentang janji-janji yang pernah diucap dalam sujud, tentang doa-doa yang dulu begitu jujur sebelum dunia menjadi gaduh.

Ia teringat seorang lelaki tua di kampungnya.

Tak pernah bicara tentang mimpi indah, namun hidupnya bagaikan doa yang berjalan.

Saat lelaki itu wafat, orang-orang berdatangan menangis tanpa diminta.

Bukan karena siapa dia, melainkan karena siapa yang ia ringankan bebannya di hadapan Allah.

Petang itu ia paham satu hal: hidup ini bukan soal seberapa tinggi kita berdiri, tetapi seberapa dalam kita menunduk dan bersujud.

Ia bangkit, melangkah ke dalam rumah. Air wudhu menyentuh kulitnya seperti pengakuan bahwa hidup pasti berakhir.

Dan petang, yang semula sunyi, berubah menjadi saksi— bahwa hari ini, ia memilih jalan pulang pada pemiliknya.

Pesan moral: Hidup akan selalu menawarkan pencapaian, namun hanya kerendahan hati dan kebaikanlah yang akan memberi makna.

Pulanglah dengan kebaikan, sebelum waktu memaksa kita pulang tanpa pilihan.

BACA JUGA  Timbangan Yang Tak Pernah Diberikan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img