spot_img

Menyiasati Kejahatan Siber Melalui Pendidikan Karakter ala Stoikisme

Redaksisatu.id – Era Globalisasi dan Ancaman Dunia Siber, Kita hidup di era globalisasi, sebuah zaman ketika batas jarak, ruang, dan waktu kian kabur.

Relasi antar manusia tidak lagi terbatas pada perjumpaan fisik, tetapi juga berlangsung di ruang virtual melalui jejaring internet. Terkena dengan kejahatan siber, Dunia seolah “terlipat” oleh teknologi yang memungkinkan pertukaran informasi lintas wilayah dan negara secara instan.

Kehadiran teknologi siber seperti internet, televisi, dan komputer telah mengubah wajah peradaban manusia. Penggunaannya bersifat masif dan menjangkau seluruh kelompok usia, dari anak-anak hingga orang dewasa.

BACA JUGA  Hari Guru Nasional, 25 November Mengukir Kenangan Jasa Tak Terlupakan

Namun, teknologi ibarat pedang bermata dua. Seperti dikemukakan Anthony Giddens, globalisasi dan teknologi menyerupai juggernaut—lokomotif raksasa yang melaju cepat dan berpotensi merusak bila tak dikendalikan secara bijak.

Ancaman Nyata Kejahatan Siber

Perkembangan teknologi siber membuka ruang bagi lahirnya berbagai bentuk kejahatan digital, terutama yang menyasar kelompok usia rentan. Anak-anak dan remaja kini menjadi target utama.

Laporan Detasemen Khusus 88 pada 7 Januari 2026 mencatat sekitar 70 anak di 19 provinsi terpapar konten kekerasan digital melalui komunitas daring True Crime Community. Konten yang beredar meliputi pembunuhan, perundungan, dan kekerasan ekstrem.

Paparan konten semacam ini berdampak serius terhadap emosi, perilaku, dan cara berpikir anak. Situasi tersebut diperparah oleh lemahnya literasi digital serta minimnya pendampingan orang dewasa.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menegaskan bahwa ruang digital Indonesia belum sepenuhnya aman. Kasus child grooming, pornografi anak, cyberbullying, judi daring, hingga doxing terus meningkat (Kompas, 11 Januari 2026).

Fenomena ini tidak lepas dari pola pengasuhan yang memberi kebebasan tanpa kontrol. Minimnya perhatian, pengawasan, dan pendidikan nilai membuat anak mencari pemenuhan diri di ruang digital, bahkan melalui konten yang bersifat amoral.

Ironisnya, konten-konten tersebut justru kerap tidak hanya sekedar dikonsumsi, tetapi juga dipraktikkan langsung dalam kehidupan nyata.

Pendidikan Karakter sebagai Upaya Preventif

BACA JUGA  Dugaan Korupsi Rp5,5 Miliar, Kejaksaan Geledah Kantor PDAM Tirta Senentang Sintang

Menghadapi maraknya kejahatan siber, solusi teknologis semata jelas tidak cukup. Diperlukan langkah preventif yang menyentuh akar persoalan, yakni karakter manusia. Dalam konteks ini, pendidikan karakter memiliki peran strategis, terutama bila diterapkan sejak usia dini.

Salah satu pendekatan yang relevan adalah pendidikan karakter ala Stoikisme. Sejak era Yunani Kuno, Stoikisme menekankan pembentukan karakter sebagai fondasi kebahagiaan dan kebijaksanaan hidup.

Tokoh Stoik seperti Gaius Musonius Rufus menegaskan bahwa ketangguhan moral hanya dapat dibangun melalui pembiasaan nilai, terutama dalam keluarga.

Keutamaan Stoikisme dalam Dunia Digital

Mengikuti tradisi filsafat Plato, Stoikisme mengenal empat keutamaan pokok: keadilan, keberanian, kontrol diri, dan kebijaksanaan praktis.

Pertama, keadilan, yang dalam konteks digital bermakna integritas. Anak perlu dibimbing untuk menggunakan media secara bertanggung jawab, tidak menyebar kebencian, perundungan, atau konten yang merugikan orang lain.

Kedua, keberanian, yakni keteguhan menolak hal yang merusak martabat manusia. Anak perlu berani mengatakan “tidak” pada konten kekerasan dan tidak menggantungkan jati diri pada validasi dunia maya.

Ketiga, kontrol diri, yaitu kemampuan mengendalikan emosi dan hasrat. Dalam dunia digital, kontrol diri tercermin dari kemampuan membatasi penggunaan gawai, selektif terhadap konten, dan tidak reaktif terhadap provokasi daring.

Keempat, kebijaksanaan praktis, yakni kemampuan menilai situasi dan mengambil keputusan yang tepat. Anak perlu disadarkan bahwa meskipun teknologi tidak sepenuhnya berada dalam kendali mereka, sikap dan respons terhadapnya selalu dapat dipilih secara sadar. Di sinilah peran orang tua menjadi sangat krusial.

BACA JUGA  Usut Tuntas IUP PT IPK Bertentangan dengan Surat Menhut

Penutup

Kejahatan siber pada hakikatnya bukan semata persoalan teknologi, melainkan persoalan karakter. Pendidikan karakter ala Stoikisme menawarkan kerangka etis yang relevan untuk membentengi anak-anak dari dampak negatif dunia digital.

Kejahatan siber ini semakin marak karena kemudahan akses digital dan kerentanan sistem, serta dapat dilakukan dengan beragam metode seperti pengelabuan, peretasan akun, dan manipulasi data.

Kejahatan siber (cyber crime) adalah tindak pidana yang memanfaatkan teknologi komputer dan internet sebagai sarana atau sasaran, mencakup peretasan, penipuan online (phishing, carding, OTP fraud), penyebaran malware (ransomware), pencurian data, hingga penyebaran konten ilegal dan ujaran kebencian (cyberbullying) yang menimbulkan kerugian finansial, reputasi, atau psikologis.

Dengan menanamkan keutamaan sejak dini—di keluarga dan sekolah—kita tidak hanya melindungi anak dari kejahatan siber, tetapi juga menyiapkan generasi yang bijaksana, tangguh, dan bermartabat di tengah arus digital yang terus berubah.[Gebrile Mikael Mareska UduMahasiswa Universitas Sanata Dharma]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img