Boyolali, redaksisatu.id – Bupati Blora Arief Rohman menyempatkan diri melakukan ziarah ke Makam Mbah Nyai Blora yang berada di Dukuh Geneng, Kelurahan Mliwis, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Kamis siang, 15 Januari 2026.
Ziarah ke makan Mbah Nyai Bloro tersebut dilakukan usai menghadiri peringatan Hari Desa Nasional yang digelar di Kabupaten Boyolali bersama Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) Republik Indonesia, Yandri Susanto.
Kegiatan berlangsung dengan khidmat dan penuh nuansa spiritual. Bupati Blora hadir bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Blora, sebagai bagian dari upaya napak tilas sejarah sekaligus bentuk penghormatan kepada tokoh-tokoh pendiri Kabupaten Blora.
Ziarah Bersama Forkopimda, Wujud Penghormatan Sejarah
Kegiatan diawali dengan doa bersama di area makam Mbah Nyai Blora. Suasana berlangsung tenang, sarat makna, dan penuh kekhusyukan. Bagi Bupati Arief Rohman, kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bentuk penghormatan terhadap nilai sejarah dan jasa para leluhur Blora.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Blora menyampaikan bahwa ziarah ke makam tokoh pendiri daerah memiliki makna strategis untuk memperkuat identitas dan jati diri daerah, terutama di tengah tantangan pembangunan modern.
“Ziarah ini menjadi pengingat bahwa Kabupaten Blora berdiri atas perjuangan, pengorbanan, dan keteladanan para pendahulu. Nilai-nilai itu harus terus hidup dalam setiap kebijakan dan langkah pembangunan,” ujar Arief Rohman.
Apresiasi untuk Masyarakat Penjaga Situs Sejarah
Melalui Gus Hanafi, tokoh masyarakat setempat yang juga pengasuh pondok pesantren Istiqomah desa Mliwis Kec. Cepogo, Boyolali, turut mendampingi kegiatan ziarah.
Bupati Blora menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada warga Dukuh Geneng dan sekitarnya. Masyarakat dinilai telah berperan aktif dalam menjaga, merawat, dan melestarikan Makam Mbah Nyai Blora sebagai situs sejarah dan spiritual.
Menurut Bupati, keterlibatan masyarakat dalam merawat situs sejarah merupakan bentuk nyata pelestarian budaya dan kearifan lokal.
Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa nilai sejarah tidak hanya dijaga oleh pemerintah, tetapi juga hidup di tengah masyarakat.
Mbah Nyai Blora dan Jejak Sejarah Kabupaten Blora
Mbah Nyai Blora merupakan tokoh perempuan penting dalam sejarah berdirinya Kabupaten Blora. Ia dikenal sebagai ibunda dari Raden Jaya Dipa, Bupati pertama Kabupaten Blora yang bergelar Tumenggung Jaya Dipa, serta istri dari Sunan Pojok Blora yang juga dikenal sebagai Pangeran Pojok atau Tumenggung Suro Bahu.
Wafat di Perjalanan, Dimakamkan di Cepogo
Dalam catatan sejarah lisan yang berkembang di masyarakat, Mbah Nyai Blora wafat saat melakukan perjalanan pulang menuju Mataram bersama putranya.
Di tengah perjalanan, beliau meninggal dunia di wilayah Cepogo, Boyolali, dan kemudian dimakamkan di lokasi yang kini menjadi tempat ziarah tersebut.
Keberadaan makam ini menjadi bukti eratnya hubungan sejarah antara Blora dan wilayah sekitarnya, termasuk Boyolali. Makam Mbah Nyai Blora tidak hanya menjadi situs religi, tetapi juga simbol perjalanan panjang sejarah Blora.
Ziarah sebagai Penguat Nilai Keteladanan
Bupati Arief Rohman menegaskan bahwa kegiatan ziarah memiliki makna edukatif, terutama bagi generasi muda. Nilai keteladanan, keikhlasan, kesabaran, dan perjuangan yang diwariskan oleh para pendiri daerah perlu terus dikenalkan agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
“Sejarah bukan untuk dikenang semata, tetapi menjadi pijakan moral dan etika dalam membangun daerah,” ungkapnya.
Ziarah ini juga diharapkan dapat memperkuat sinergi antara pembangunan fisik dan pembangunan karakter masyarakat, sejalan dengan semangat Hari Desa Nasional yang menempatkan desa sebagai fondasi utama pembangunan nasional.
Situs Ziarah yang Terus Dijaga dan Dihormati
Ziarah makam pejuang jaman kerajaan adalah tradisi dari masa ke masa untuk mengenang, mendoakan, dan menghormati jasa-jasa mereka dalam memperjuangkan bangsa, agama, atau wilayah, sekaligus memupuk semangat nasionalisme, patriotisme, dan nilai-nilai kejuangan agar dapat diteruskan oleh generasi penerus. Kegiatan ini melibatkan doa, tabur bunga, dan refleksi atas pengorbanan para leluhur.
Hingga kini, Makam Mbah Nyai Blora tetap menjadi salah satu situs ziarah bersejarah yang dihormati dan dijaga kelestariannya oleh masyarakat. Banyak peziarah dari berbagai daerah yang datang untuk berdoa sekaligus mengenang jasa tokoh pendiri Blora.
Melalui ziarah yang dilakukan Bupati Blora bersama Forkopimda ini, diharapkan kesadaran akan pentingnya sejarah dan nilai-nilai luhur pendiri daerah semakin menguat, serta menjadi warisan berharga bagi generasi penerus Kabupaten Blora.(MSar)



