Pengetahuan Nusantara Diuji dengan Akal dan Data

Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 5: Membedakan Pengalaman, Intuisi, Tadsir, Kepercayaan, dan Fakta. Penulis: Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol. Jakarta, 29 Agustus 2026
Diteruskan oleh Biyung AR, Bali.

Jakarta, Redaksi Satu | Perjalanan memahami, Pengetahuan Peradaban Nusantara kembali, memasuki ruang yang lebih dalam.

Setelah membahas bagaimana pengetahuan tumbuh dari pengalaman dan berkembang menjadi bagian dari kehidupan bersama, Seri 5 mengajak pembaca memasuki wilayah yang sangat dekat dengan kehidupan manusia: rasa, intuisi, pengalaman batin, tafsir, kepercayaan, hingga fakta.

Melalui tulisan berjudul “Ketika Rasa Menjadi Sumber Pertanyaan”, Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol mengajak masyarakat melihat pengalaman manusia secara lebih jernih. Rasa tidak harus ditolak, tetapi rasa juga tidak dapat secara otomatis ditempatkan sebagai bukti kebenaran.

Pertanyaan sederhana menjadi pintu masuk pembahasan. Ketika seorang pelaut merasa cuaca akan berubah, petani merasakan musim berbeda, atau seorang pengrajin mengatakan bahan yang dihadapinya tidak seperti biasanya, pengalaman tersebut tentu memiliki nilai. Namun, pengalaman itu belum dengan sendirinya menjelaskan penyebab ataupun memastikan bahwa tafsir terhadap pengalaman tersebut benar.

Di sinilah pentingnya membedakan antara mengalami sesuatu dan memberikan penjelasan atas sesuatu yang dialami. Seseorang dapat benar-benar mengalami suatu peristiwa dalam kesadarannya, tetapi kesimpulan mengenai penyebab peristiwa tersebut masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Seri 5 kemudian menawarkan lima lapisan yang perlu dipisahkan ketika manusia berhadapan dengan suatu pengalaman, yakni sensasi, persepsi, pengalaman, tafsir, dan klaim.

BACA JUGA  Sekjen DPD RI Beri Pembekalan CPNS 2022

Sensasi berkaitan dengan apa yang diterima tubuh dan indera. Persepsi merupakan cara otak mengenali serta menyusun sensasi tersebut. Pengalaman berkaitan dengan sesuatu yang disadari dan dialami seseorang. Setelah itu muncul tafsir, yaitu makna yang diberikan terhadap pengalaman tersebut, sebelum akhirnya berkembang menjadi klaim mengenai kenyataan.

Persoalan muncul ketika seluruh lapisan tersebut dicampur menjadi satu. Kalimat “saya merasakan” kemudian dianggap sama dengan “hal itu benar-benar terjadi sebagaimana saya tafsirkan.” Padahal, keduanya berada pada wilayah yang berbeda.

Pembahasan mengenai intuisi juga menjadi bagian penting dalam Seri 5. Intuisi tidak selalu harus dimaknai sebagai sesuatu yang misterius.

Dalam banyak bidang kehidupan, intuisi dapat lahir dari pengalaman panjang yang membuat seseorang mampu mengenali pola secara cepat, bahkan sebelum ia mampu menjelaskan alasan di balik penilaiannya.

Seorang dokter berpengalaman, pelaut, petani, pengrajin, atlet, prajurit maupun pemimpin dapat memiliki kepekaan terhadap pola tertentu berdasarkan pengalaman yang telah mereka lalui. Kepekaan tersebut dapat menjadi sumber hipotesis dan pertimbangan awal.

Namun, intuisi tetap bukan bukti secara otomatis. Manusia memiliki kecenderungan mengingat kejadian yang sesuai dengan dugaannya dan melupakan kejadian ketika dugaannya ternyata keliru.

Manusia juga dapat melihat pola pada kejadian yang sebenarnya tidak memiliki hubungan. Harapan, ketakutan, sugesti, keyakinan, pengalaman masa lalu, lingkungan sosial, hingga informasi yang diterima dapat memengaruhi cara seseorang menafsirkan sebuah pengalaman.

BACA JUGA  2 Pria Ditangkap Polda Kalbar Terkait 8 Kg Sabu dan 4.370 Butir Ekstasi

Karena itu, salah satu pesan penting Seri 5 adalah bahwa kuatnya perasaan tidak menentukan benarnya sebuah klaim.

Pembahasan kemudian bergerak menuju mimpi, firasat dan pengalaman batin. Ketiganya merupakan pengalaman yang dapat dialami manusia dan karena itu dapat dicatat, didokumentasikan, dibandingkan, dipelajari, serta dimaknai.

Namun, pengalaman tersebut tidak secara otomatis membuktikan adanya penyebab metafisis tertentu. Sikap yang ditawarkan bukanlah menolak begitu saja, tetapi juga bukan menerima begitu saja.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang sebenarnya dapat kita ketahui dari pengalaman tersebut?

Dalam kerangka itu, Seri 5 membedakan tiga lapisan penting, yaitu pengalaman, makna, dan klaim objektif. Pengalaman berarti seseorang mengalami sesuatu.

Makna berkaitan dengan arti pengalaman tersebut bagi kehidupan pribadi, sosial maupun kultural. Sedangkan klaim objektif menyatakan bahwa suatu peristiwa terjadi di luar pengalaman pribadi dan karenanya membutuhkan bukti yang dapat diperiksa oleh pihak lain.

Ketiga lapisan tersebut tidak harus saling meniadakan. Akan tetapi, ketiganya tidak boleh dicampuradukkan.

Dalam konteks kebudayaan Jawa, istilah “roso” kemudian digunakan sebagai salah satu pintu untuk memahami pengalaman manusia. Namun, Seri 5 memberikan batas penting bahwa roso tidak dapat dianggap sebagai istilah tunggal yang mewakili seluruh masyarakat Nusantara.

BACA JUGA  PUPR Kalbar Bangun Jembatan Gunakan Struktur Pondasi Rusak

Setiap kebudayaan memiliki bahasa, pengalaman, serta kerangka masing-masing dalam memahami kehidupan batin manusia. Karena itu, roso ditempatkan sebagai pintu pertanyaan, bukan sebagai vonis kebenaran.

Pertanyaan yang diajukan menjadi menarik: dapatkah rasa diperiksa tanpa mematikannya, dan dapatkah akal memeriksa tanpa merendahkan pengalaman manusia?

Dari sinilah muncul istilah kerja “roso ilmiah.” Istilah tersebut tidak dimaksudkan sebagai deklarasi lahirnya ilmu baru. Roso ilmiah lebih tepat dipahami sebagai kerangka kerja untuk memeriksa bagaimana manusia merasakan, mengalami, memaknai, menafsirkan, dan menguji pengalaman.

Dengan demikian, yang diperiksa bukanlah dunia gaib untuk kemudian dipaksakan menjadi ilmiah. Yang diperiksa adalah proses manusia dalam memahami pengalaman dan membangun pengetahuan berdasarkan pengalaman tersebut.

Kerangka pemeriksaannya dapat bergerak dari pengalaman atau roso menuju pertanyaan, pemeriksaan, data dan sumber, tafsir, verifikasi, budi, kemudian laku.

Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa rasa memiliki tempat dalam proses pengetahuan, tetapi tidak berdiri sendirian. Rasa menangkap, akal memeriksa, data memberi batas, tafsir mencari makna, verifikasi menguji, budi menimbang, sedangkan laku memperlihatkan bagaimana manusia akhirnya bertindak.

Pada tahap inilah konsep budi memperoleh posisi penting. Pengetahuan dapat memberikan kemampuan kepada manusia, tetapi kemampuan belum tentu menentukan apakah sesuatu baik untuk dilakukan.

BACA JUGA  Permasalahan Lahan Belum Selesai, Keluarga Alm Husinsius Pemilik SHM akan Lakukan Aksi Besar-besaran Rabu 1 April 2026

Budi kemudian mengajukan pertanyaan yang lebih luas: untuk apa pengetahuan digunakan, untuk siapa, apa dampaknya, apakah adil, dan apakah tindakan tersebut dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan demikian, perjalanan pengetahuan tidak berhenti pada kemampuan membuktikan sesuatu. Pengetahuan juga harus membawa manusia menuju tanggung jawab.

Seri 5 selanjutnya menawarkan tiga lingkar pemeriksaan yang dapat digunakan ketika menghadapi sebuah pengalaman atau klaim. Pertama adalah diri, yakni apakah seseorang benar-benar memahami apa yang dialaminya.

Kedua adalah realitas, yaitu apakah terdapat jejak, data atau akibat yang dapat diperiksa. Ketiga adalah orang lain, yakni apakah pengamatan tersebut dapat dibandingkan, dikritik atau diperiksa oleh pihak lain.

Prinsipnya sederhana: semakin besar sebuah klaim, semakin kuat pula bukti yang dibutuhkan.

Pagar berpikir tersebut menjadi penting dalam membaca warisan pengetahuan Nusantara. Sesuatu yang dirasakan tidak otomatis merupakan fakta. Sesuatu yang dipercaya tidak otomatis menjadi kenyataan objektif. Sesuatu yang tertulis juga tidak otomatis benar.

Demikian pula sesuatu yang diwariskan dari generasi ke generasi tidak serta-merta terbukti hanya karena telah berlangsung lama. Bahkan sesuatu yang belum dapat dijelaskan tidak dapat dijadikan bukti bahwa sebuah dugaan pasti benar.

BACA JUGA  Inovasi dan Konsistensi Yang Baru Kunci Industri Pariwisata di Solok Selatan

Cara berpikir tersebut bukan dimaksudkan untuk merendahkan tradisi, kepercayaan ataupun pengalaman leluhur. Sebaliknya, pendekatan itu justru membuka kesempatan untuk membaca warisan Nusantara secara lebih bertanggung jawab.

Warisan budaya dapat dihormati sekaligus diperiksa. Pengalaman dapat didengarkan sekaligus diuji. Tradisi dapat dipahami sekaligus ditempatkan dalam konteks sejarah dan sosialnya.

Dengan cara tersebut, Pengetahuan Peradaban Nusantara tidak berhenti pada kekaguman terhadap masa lalu. Ia bergerak menuju usaha memahami bagaimana pengetahuan terbentuk, bagaimana diwariskan, bagaimana ditafsirkan, dan bagaimana dapat diuji kembali oleh generasi berikutnya.

Pesan utama Seri 5 pada akhirnya bukan untuk membuang rasa karena belum dapat dijelaskan. Namun, manusia juga tidak boleh menjadikan ketidaktahuan sebagai bukti kebenaran.

Rasa boleh membuka pintu, tetapi pengetahuan membutuhkan pemeriksaan.

Gagasan tersebut sekaligus menjadi jembatan menuju Seri 6 yang akan membawa pembaca pada pertanyaan berikutnya: bagaimana warisan, tradisi, naskah, pengalaman dan berbagai klaim dapat diperiksa dengan disiplin yang konsisten.

Seri berikutnya akan mengangkat tema “Ketika Warisan Harus Diperiksa”, dengan pembahasan mengenai sumber dan konteks menuju perbandingan dan verifikasi.

BACA JUGA  Alumni LCC Night Club Galang Kemanusiaan Peduli Cianjur

Rangkaian Pengetahuan Peradaban Nusantara ini pada akhirnya mengajak pembaca bukan sekadar untuk percaya atau tidak percaya, melainkan untuk belajar membedakan, bertanya, memeriksa, memahami, dan bertanggung jawab terhadap pengetahuan yang diterima.

Sebab dalam perjalanan sebuah peradaban, kemampuan untuk bertanya dengan jernih sama pentingnya dengan kemampuan untuk mewariskan pengetahuan. Penulis: Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol, Diteruskan Biyung AR, Bali. Editor: Saidi Hartono.

Bersambung- SERI 6 Ketika Warisan Harus Diperiksa Dari Sumber dan Konteks Menuju Perbandingaan dan Verifikasi.

 

iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img