Leluhur Tidak Hanya Meninggalkan Benda, Pengetahuan Peradaban

Nusantara Perlu Dibaca Kembali
Penulis: Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol

Jakarta, Redaksi Satu | Peradaban Nusantara tidak hanya dapat dibaca melalui peninggalan berupa candi, prasasti, perahu, naskah, sawah, pelabuhan maupun berbagai artefak yang masih dapat ditemukan hingga kini.

Di balik benda-benda tersebut terdapat pengetahuan, yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Gagasan tersebut menjadi bagian penting dalam tulisan “Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 1: Leluhur Tidak Hanya Meninggalkan Benda”, karya Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol, yang ditulis di Jakarta pada 29 Agustus 2026 dan diteruskan oleh Biyung AR, Bali.

Tulisan tersebut mengajak masyarakat melihat peninggalan leluhur tidak sekadar sebagai benda bersejarah, tetapi sebagai jejak dari proses panjang manusia dalam memahami alam, membangun kehidupan, mengembangkan teknologi, serta mengatur hubungan sosial.

Menurut perspektif yang ditawarkan, sebuah perahu misalnya, bukan hanya benda yang digunakan untuk berlayar. Di baliknya terdapat pengetahuan mengenai kayu, angin, arus, keseimbangan, gelombang hingga teknik pelayaran.

Demikian pula dengan sawah. Hamparan lahan pertanian tidak hanya menunjukkan aktivitas bercocok tanam, tetapi menyimpan pengetahuan mengenai tanah, air, musim, pembagian kerja dan pengaturan kehidupan masyarakat.

Sementara prasasti tidak hanya dapat dipandang sebagai batu bertulis. Di dalamnya dapat ditemukan jejak bahasa, aksara, aturan, kekuasaan serta cara sebuah masyarakat menyimpan dan meneruskan ingatan.

BACA JUGA  Penebangan Kayu Segi di Desa Ujung Pandang, Diduga Ada Pemalsuan Tandatangan Warga

Karena itu, warisan leluhur sesungguhnya memiliki dua lapisan penting. Lapisan pertama adalah sesuatu yang dapat dilihat secara langsung, sedangkan lapisan kedua berupa pengetahuan yang tidak selalu tampak tetapi memungkinkan sebuah peradaban tumbuh.

Pertanyaan mengenai peninggalan masa lalu pun tidak cukup berhenti pada “benda apa ini?”.

Pertanyaan yang lebih mendalam adalah pengetahuan apa yang memungkinkan benda, teknologi atau sistem tersebut lahir dan digunakan oleh masyarakat.

Sebuah bangunan kuno, misalnya, tidak mungkin berdiri dengan sendirinya. Sebelum batu disusun, manusia harus memahami bahan, ukuran, struktur, lokasi, teknik pengerjaan dan berbagai kondisi lingkungan yang mendukung pembangunan.

Begitu pula sistem pertanian
membutuhkan kemampuan membaca kemiringan tanah, sumber air, perubahan musim serta kebutuhan masyarakat.

Pengetahuan tersebut kemudian berkembang menjadi sistem yang diwariskan, dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Demikian juga para pelaut masa lalu. Untuk mampu menyeberangi lautan, mereka harus membaca angin, gelombang, arus, bintang dan berbagai tanda alam.

BACA JUGA  2 Serpihan Roket Milik Cina Diserahkan ke BRIN Pontianak

Kemampuan tersebut merupakan pengetahuan yang terbentuk melalui pengalaman panjang. Dalam konteks inilah pengetahuan tidak selalu harus berbentuk buku.

Masyarakat masa lalu memiliki berbagai cara untuk menyimpan, menggunakan dan mewariskan pengetahuan.

Pengetahuan dapat ditemukan dalam prasasti dan manuskrip. Namun pengetahuan juga dapat hidup melalui tutur, pekerjaan, adat, teknologi, simbol, aturan dan laku kehidupan sehari-hari.

Seorang pembuat perahu dapat memiliki pengetahuan yang sangat kompleks, tentang pembuatan kapal tanpa pernah menuliskan sebuah buku mengenai teknik tersebut.

Seorang petani juga dapat mengenali perubahan musim melalui pengalaman, yang dikumpulkan selama bertahun-tahun dan diwariskan secara turun-temurun.

Demikian pula sebuah masyarakat dapat mempunyai aturan dalam mengelola air, hutan atau laut yang terus dijalankan bersama meskipun aturan tersebut tidak selalu dituangkan dalam bentuk dokumen tertulis.

Karena itu, membaca pengetahuan sebuah peradaban membutuhkan cara pandang yang lebih luas. Tidak cukup hanya membaca teks, tetapi juga perlu membaca tutur, benda, lanskap, simbol, lembaga dan laku.

BACA JUGA  Kejaksaan Agung Panggil Direktur PT EJM dan PT BA dugaan Korupsi Tambang Bauksit di Kalbar

Pendekatan tersebut menjadi penting ketika membicarakan Nusantara. Wilayah kepulauan ini memiliki ribuan pulau dengan lingkungan, bahasa, kebudayaan dan perjalanan sejarah yang sangat beragam.

Masyarakat pesisir tentu mempunyai pengalaman berbeda dengan masyarakat pegunungan. Begitu pula masyarakat yang hidup di sekitar sungai besar mempunyai, tantangan dan pengetahuan berbeda dengan masyarakat yang tinggal di kepulauan kecil.

Karena keberagaman tersebut, tidak tepat jika seluruh masyarakat Nusantara dianggap memiliki satu pola berpikir yang sama.

Yang lebih penting adalah mencari pola-pola pengetahuan peradaban yang berkembang di berbagai wilayah Nusantara.

Dengan cara itu, persamaan dapat ditemukan tanpa menghapus perbedaan. Keragaman justru menjadi bagian penting dalam memahami bagaimana pengetahuan berkembang di kepulauan ini.

Warisan peradaban Nusantara juga tidak tumbuh dalam ruang tertutup. Selama berabad-abad masyarakat kepulauan ini berhubungan dengan berbagai wilayah dan peradaban melalui pelayaran, perdagangan, migrasi, agama, politik dan pertukaran pengetahuan.

Berbagai gagasan datang dari luar. Teknologi berpindah, bahasa bertemu, kepercayaan berkembang dan komoditas dipertukarkan. Namun masyarakat tidak selalu menerima semuanya secara mentah.

BACA JUGA  Kejaksaan Tinggi Kalbar Kembali Tahan 1 Orang terkait Tipikor Rp8 Miliar Proyek Bandara Rahadi Oesman Ketapang

Sebagian gagasan diterima, sebagian ditolak, sebagian disesuaikan, dan sebagian lainnya diolah menjadi sesuatu yang baru sesuai kebutuhan masyarakat setempat.

Karena itu, dalam membaca sejarah peradaban Nusantara, pertanyaan tentang apa yang benar-benar asli bukanlah satu-satunya pertanyaan penting.

Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana sesuatu yang datang dari luar, diolah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Kemampuan untuk menerima, menyesuaikan dan mengolah berbagai pengaruh tersebut dapat dipahami sebagai salah satu bentuk daya olah peradaban.

Pengetahuan sendiri belum otomatis menjadi peradaban, hanya karena diketahui oleh seseorang.

Pengetahuan mulai membentuk peradaban, ketika masuk ke dalam kehidupan bersama dan memengaruhi cara manusia mengambil keputusan.

Dalam proses tersebut, pengetahuan dapat berkembang menjadi nilai dan kepentingan, kemudian memengaruhi keputusan dan kekuasaan, melahirkan aturan, membentuk lembaga, menghasilkan teknologi serta infrastruktur dan akhirnya menjadi laku bersama.

BACA JUGA  Hukum yang Tersendat di Hadapan Orang Kuat: Jeritan Korban Koperasi BLN

Dari proses panjang itulah masyarakat membangun berbagai sistem untuk mengelola air, tanah, laut, perdagangan, permukiman, pemerintahan dan hubungan sosial.

Karena itu, peradaban tidak hanya dapat ditemukan pada bangunan monumental. Sawah dapat menyimpan pengetahuan, begitu pula hutan yang dikelola, perahu, aturan pemanfaatan laut hingga cara masyarakat menyelesaikan konflik.

Apa yang terlihat pada akhirnya merupakan hasil. Sementara yang perlu dicari adalah pengetahuan, nilai dan sistem yang bekerja di belakang hasil tersebut.

Namun membaca warisan leluhur juga membutuhkan sikap kritis. Menghormati leluhur tidak berarti seluruh warisan masa lalu harus, diterima tanpa pemeriksaan.

Pengetahuan lama dapat mengandung hal yang tepat, tetapi dapat pula memiliki keterbatasan.

Tradisi dapat menyimpan kebijaksanaan, tetapi pada saat yang sama mungkin mengandung kepentingan, ketimpangan, konflik atau praktik yang tidak lagi sesuai dengan kehidupan masa kini.

Karena itu, kajian mengenai peradaban tidak dimaksudkan untuk mencari pembenaran terhadap masa lalu.

BACA JUGA  Klarifikasi Kejaksaan Negeri Ketapang terkait Isu Ledakan saat Pemusnahan BB

Sebaliknya, warisan tersebut perlu diperiksa, dipahami, dibandingkan dan ditempatkan dalam konteks zamannya.

Prinsip penting yang ditawarkan adalah bahwa sesuatu yang tertulis belum tentu benar, sesuatu yang diwariskan belum tentu terbukti, sesuatu yang lama belum tentu bijaksana, sesuatu yang lokal belum tentu asli, dan sesuatu yang berasal dari luar belum tentu buruk.

Sikap kritis tersebut menjadi penting agar pembacaan terhadap sejarah, tidak berubah menjadi romantisme.

Sesuatu yang belum dapat dijelaskan juga, tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti bahwa sebuah dugaan pasti benar.

Dalam konteks kebudayaan, istilah mengenai leluhur juga memiliki kekayaan masing-masing.

Dalam khazanah Sunda, misalnya, dikenal istilah “karuhun” yang merujuk kepada leluhur atau orang-orang terdahulu.

Namun berbagai masyarakat Nusantara mempunyai bahasa dan istilah lokal masing-masing. Karena itu, istilah “leluhur” digunakan dalam kajian lintas kebudayaan dengan tetap menghormati istilah lokal sesuai konteks masyarakat yang menggunakannya.

BACA JUGA  Kabur dari Tempat Karantina, Rachel Vennya Diancam Pidana

Tujuannya bukan menyeragamkan Nusantara. Justru keberagaman istilah, pengalaman dan pengetahuan tersebut menjadi bagian yang perlu dipelajari untuk memahami kekayaan peradaban kepulauan Indonesia.

Dari sinilah muncul sejumlah pertanyaan besar. Ketika menemukan peninggalan masa lalu, masyarakat tidak hanya perlu bertanya siapa yang membuatnya, tetapi juga apa yang mereka ketahui, dari mana pengetahuan itu diperoleh dan bagaimana pengalaman berubah menjadi pengetahuan.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana pengetahuan tersebut diwariskan, bagaimana lingkungan memengaruhinya, bagaimana kekuasaan menggunakannya, apa yang datang dari luar, bagaimana masyarakat mengolahnya, serta apa yang akhirnya bertahan, berubah atau hilang.

“Yang paling penting, seluruh proses tersebut perlu dikaitkan dengan kebutuhan zaman sekarang.

Warisan masa lalu bukan sekadar untuk dikagumi, tetapi dapat menjadi bahan pembelajaran untuk menghadapi persoalan kehidupan modern.

Menghormati leluhur tidak berarti manusia harus kembali menjadi manusia masa lalu. Menghormati leluhur juga tidak berarti seluruh warisan mereka harus dianggap benar.

Penghormatan yang lebih bermakna adalah dengan mencari pengetahuan yang berserak, memeriksa apa yang diwariskan, memilah yang bernilai, mengoreksi yang keliru, mengembangkan yang masih berguna dan menciptakan pengetahuan baru untuk menjawab zaman.

BACA JUGA  Polisi Berhasil Amankan Pelaku TPPO, Begini Modus Pelaku

Pada akhirnya, pesan utama Seri 1 ini mengingatkan bahwa leluhur tidak hanya meninggalkan benda.

Di balik benda terdapat pengetahuan, dan di balik pengetahuan terdapat manusia dengan pengalaman panjang dalam menghadapi alam serta membangun kehidupan bersama.

Ketika pengetahuan tersebut berubah menjadi nilai, aturan, lembaga, teknologi dan laku bersama, di situlah proses terbentuknya sebuah peradaban dapat mulai dibaca secara lebih utuh.

Dari pertanyaan tentang benda, manusia kemudian diarahkan untuk membaca pengetahuan. Dari pengetahuan, kita dapat melihat sistem. Dari sistem, kita dapat memahami bagaimana masyarakat membangun peradaban.

Pertanyaan besar yang kemudian terbuka adalah bagaimana pengetahuan berubah menjadi, peradaban dan bagaimana warisan pengetahuan tersebut dapat dibaca secara kritis untuk kepentingan generasi masa kini dan masa depan.

Tulisan Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 1: Leluhur Tidak Hanya Meninggalkan Benda karya Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol, Jakarta, 29 Agustus 2026, menjadi awal dari rangkaian pemikiran yang akan berlanjut pada seri berikutnya. (Editor Saidi Hartono Jurnalis Kairos-Kairozo).

Seri 2: “Dari Pengetahuan Menjadi Peradaban” akan membawa pembahasan lebih jauh mengenai proses bagaimana pengetahuan tidak berhenti sebagai pengalaman individu, tetapi berkembang menjadi nilai, sistem, aturan, teknologi dan kehidupan bersama.

iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img