Redaksisatu.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan langkah positif negara untuk memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang layak.
Perhatian Negara kepada rakyatnya
Program ini adalah bentuk kepedulian negara terhadap masa depan generasi bangsa, dan patut diapresiasi sebagai kebijakan yang berpihak pada rakyat.
Makanan Bergizi Gratis (MBG) ini dijalankan secara nasional oleh Badan Gizi Nasional sebagai bagian dari kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto.
Secara resmi, anggaran yang ditetapkan adalah Rp10.000 per porsi untuk makanan penerima dan Rp5.000 per porsi untuk operasional pengelola.
Masyarakat pada dasarnya tidak menolak program ini. Yang menjadi perhatian adalah pentingnya transparansi dan kesesuaian antara anggaran yang ditetapkan dengan realisasi di lapangan.
Fokus Utama pada Anggaran Rp10.000 untuk Makanan Penerima
Anggaran Rp10.000 per porsi ditetapkan sebagai biaya makanan yang diterima oleh setiap penerima manfaat. Angka ini menjadi dasar harapan bahwa makanan yang diberikan memiliki nilai gizi dan kualitas yang sesuai.
Namun, jika dalam praktiknya makanan yang direalisasikan bernilai di bawah Rp10.000, maka selisihnya menjadi perhatian publik.
Sebagai ilustrasi sederhana:
Jika direalisasikan Rp9.000 per porsi
Selisih Rp1.000 × 3.000 penerima = Rp3.000.000 per hari
Rp3.000.000 × 22 hari kerja = Rp66.000.000 per bulan
Jika direalisasikan Rp8.000 per porsi
Selisih Rp2.000 × 3.000 penerima = Rp6.000.000 per hari
Rp6.000.000 × 22 hari kerja = Rp132.000.000 per bulan
Jika direalisasikan Rp7.000 per porsi
Selisih Rp3.000 × 3.000 penerima = Rp9.000.000 per hari
Rp9.000.000 × 22 hari kerja = Rp198.000.000 per bulan
Jika direalisasikan Rp6.000 per porsi
Selisih Rp4.000 × 3.000 penerima = Rp12.000.000 per hari
Rp12.000.000 × 22 hari kerja = Rp264.000.000 per bulan
Dari ilustrasi tersebut terlihat bahwa bahkan selisih Rp1.000 sekalipun dapat menjadi angka yang besar ketika terjadi dalam skala ribuan penerima dan berlangsung setiap hari.
Anggaran Rp5.000 untuk Operasional Pengelola Adalah Hal yang Wajar
Anggaran Rp5.000 per porsi diperuntukkan bagi operasional pengelola, termasuk biaya tenaga kerja, transportasi, peralatan, dan kebutuhan dapur lainnya.
Dalam dunia usaha, adanya margin atau keuntungan adalah hal yang wajar dan dapat dipahami. Pengelola membutuhkan keberlanjutan usaha agar MBG tetap berjalan.
Oleh karena itu, perhatian utama bukan pada operasional pengelola, melainkan pada kesesuaian anggaran makanan yang menjadi hak penerima manfaat.
Transparansi Adalah Kunci Menjaga Kepercayaan Publik
Program MBG adalah program yang baik dan memiliki tujuan mulia. Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaannya.
Jika anggaran Rp10.000 benar-benar direalisasikan dalam bentuk makanan yang sesuai, maka program ini akan menjadi kebanggaan bersama.
Sebaliknya, jika terdapat selisih antara anggaran dan realisasi secara signifikan dan berkelanjutan, maka wajar jika publik mempertanyakan dan meminta keterbukaan.
Karena pada akhirnya, anggaran tersebut berasal dari uang negara, dan uang negara adalah amanah dari rakyat.
DISCLAIMER
Tulisan ini merupakan narasi edukatif dan ilustrasi perhitungan berdasarkan angka anggaran resmi yang telah dipublikasikan. Perhitungan yang disampaikan adalah simulasi untuk membantu pemahaman publik, bukan merupakan tuduhan atau pernyataan bahwa kondisi tersebut pasti terjadi.
Penulis mendukung penuh tujuan Program Makan Bergizi Gratis sebagai program yang bermanfaat bagi masyarakat. Harapannya, program ini dapat berjalan secara transparan, akuntabel, dan tepat sasaran, sehingga kepercayaan publik tetap terjaga dan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh penerima.



