Redaksisatu.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hari ini sudah sampai ke tangan anak-anak, termasuk cucu saya sendiri. Pada tanggal 25 Februari 2026, cucu saya yang masih balita menerima satu telur asin, satu roti, satu saset kurma, dan satu saset keju.
Jika dihitung dengan harga pasaran umum, nilainya MBG kurang lebih sekitar Rp 8.000 Sehari sebelumnya, ia menerima satu susu kotak, satu roti, dan satu saset kurma.
Ini fakta. Ini bukan cerita dari media sosial. Ini nyata.
Program MBG yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto ini memang sudah berjalan dan menyentuh rakyat. Anak-anak benar-benar menerima makanan. Bagi keluarga kecil, ini tentu membantu. Setidaknya ada tambahan gizi, ada perhatian negara terhadap generasi penerus.

Namun di sinilah mulai muncul perbedaan pendapat.
Bagi mereka yang terlibat langsung dalam proyek MBG, tentu program ini dipuji dan didukung. Mereka melihat program berjalan, ekonomi bergerak, dan ada aktivitas yang memberi manfaat.
Sebaliknya, bagi rakyat yang melihat dari sisi lain, muncul pertanyaan yang tidak bisa dihindari. Jika anggaran MBG per anak misalnya Rp15.000, sementara nilai makanan yang diterima sekitar Rp7.500, maka rakyat bertanya: kemana sisanya?
Pertanyaan ini bukan bentuk kebencian. Ini adalah bentuk kepedulian.
Rakyat Indonesia sudah terlalu sering menyaksikan program MBGyang niatnya baik, tetapi pelaksanaannya menyisakan tanda tanya. Bukan karena rakyat tidak mendukung, tetapi karena rakyat ingin keadilan dan kejujuran.
Harus diakui, anggaran program tentu tidak hanya untuk membeli makanan. Ada biaya tenaga kerja, distribusi, pengemasan, transportasi, dan operasional. Itu semua wajar. Tidak ada yang mempersoalkan itu.
Namun yang rakyat harapkan hanya satu: transparansi.
Karena uang yang digunakan bukan uang pribadi pejabat, melainkan uang negara. Dan uang negara berasal dari pajak rakyat.
Di sinilah pentingnya kejujuran dalam pengelolaan.
Program MBG adalah program mulia. Memberi makan anak adalah investasi masa depan bangsa. Tidak ada orang waras yang menolak anak-anak diberi makan bergizi.
Tetapi program yang baik harus dijaga bersama. Pemerintah wajib menjalankan dengan jujur. Pelaksana wajib bekerja dengan amanah. Dan rakyat berhak mengawasi.
Perbedaan pendapat yang muncul hari ini bukan tanda perpecahan. Justru ini tanda bahwa rakyat masih peduli. Rakyat masih memperhatikan. Rakyat masih berharap negara berpihak kepada mereka.
Yang berbahaya bukan kritik. Yang berbahaya adalah ketika rakyat sudah tidak peduli lagi.
Selama anak-anak benar-benar menerima manfaat, dan selama anggaran dikelola dengan jujur, maka program ini akan menjadi kebanggaan bangsa.
Namun jika kepercayaan rakyat dikhianati, maka program sebaik apapun akan kehilangan maknanya.
Karena pada akhirnya, yang sedang kita bangun bukan hanya program makan gratis.
Kita sedang membangun kepercayaan. Dan kepercayaan, sekali hilang, jauh lebih mahal dari sekadar satu telur asin dan sepotong roti.



