Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus digaungkan sebagai solusi peningkatan kualitas generasi bangsa. Di atas kertas, program ini tampak ideal dan menyentuh sisi kemanusiaan.
Namun di balik semangat tersebut, muncul pertanyaan penting yang patut direnungkan bersama: Apakah negara benar-benar menempatkan anggaran Program ( MBG) pada sektor yang paling berdampak bagi masa depan bangsa?
Pertanyaan ini bukan untuk menolak program negara tentang (MBG) melainkan untuk menimbang ulang prioritas kebijakan publik secara rasional dan jujur.
Anggaran Besar Harus Diiringi Logika Kebijakan
Berdasarkan berbagai perhitungan, anggaran MBG diperkirakan mencapai:
°Rp10.000–15.000 per porsi,
°±200 hari pelaksanaan per tahun
°Sasaran sekitar 80 juta penerima
Jika dikalkulasikan, maka kebutuhan anggaran MBG bisa mencapai Rp335 triliun per tahun.
Angka ini tentu sangat besar, bahkan melebihi anggaran sejumlah kementerian strategis. Di sisi lain, publik jarang diajak membandingkan angka ini dengan sektor pendidikan tinggi yang justru menjadi penentu masa depan bangsa.
Pandangan Akademisi: Kuliah Gratis Lebih Rasional
Dosen Universitas Slamet Riyadi (UNSRI), Dr. Al Ghazali Wulakada, SH, MH, memberikan pandangan menarik terkait perbandingan anggaran tersebut. Menurutnya, jika negara memilih menggratiskan pendidikan tinggi, maka perhitungannya justru jauh lebih rasional.
“Jika biaya kuliah per mahasiswa diasumsikan sebesar Rp48 juta per tahun dan jumlah lulusan atau mahasiswa aktif sekitar 3,7 juta orang per tahun, maka total anggaran yang dibutuhkan negara hanya sekitar Rp177,6 triliun,” jelasnya.
Angka ini berarti hampir setengah dari anggaran Makan Bergizi yang mencapai Rp335 triliun per tahun. Dengan kata lain, secara fiskal: Menggratiskan kuliah jauh lebih murah dibanding memberi makan bergizi secara massal.
Makan Habis Hari Ini, Pendidikan Menentukan Masa Depan
Rakyat tidak ada yang menolak terkait pentingnya asupan gizi. Namun kebijakan publik jangan hanya kepentingan jangka pendek, harus dilihat juga dari dampak jangka panjangnya.
Perbandingannya begini: Makan gratis, Habis dalam beberapa jam, Tidak menciptakan kecerdasan, Rawan kebocoran anggaran, Dampaknya jangka pendek.
Sedangkan Sebaliknya, pendidikan tinggi gratis.:
°Menciptakan sumber daya manusia unggul
°Memutus rantai kemiskinan
°Meningkatkan produktivitas nasional
°Memberi efek ekonomi berlipat ganda
Negara-negara maju membangun bangsanya bukan dengan memberi makan gratis secara massal, melainkan dengan pendidikan murah, riset kuat, dan akses kuliah luas.
Negara Selalu Punya Pilihan Anggaran
Pernyataan yang sering dilupakan adalah: anggaran bukan soal ada atau tidak, tapi soal prioritas.
Jika negara mampu menyediakan Rp335 triliun untuk makan gratis, maka seharusnya:
°Menggratiskan kuliah bukan hal mustahil.
°Menurunkan UKT bukan perkara sulit
°Meningkatkan kualitas kampus negeri sangat mungkin dilakukan
Persoalannya bukan pada kemampuan fiskal, melainkan keberanian menentukan arah kebijakan.
Pilihan Ada di Tangan Negara, Rakyat tidak menolak program sosial, Namun rakyat juga ingin kebijakan yang adil, rasional, dan berdampak panjang.
Seperti yang disampaikan Dr. Al Ghazali Wulakada, SH, MH, negara sejatinya memiliki pilihan:
°Menghabiskan anggaran besar untuk konsumsi sesaat
°Atau berinvestasi pada kecerdasan
Karena pada akhirnya, bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang hanya kenyang hari ini, melainkan bangsa yang cerdas, mandiri, dan mampu berdiri di atas kaki sendiri.(MSar)



