Satu Rakaat yang Ditunda
Ia wafat pada usia yang dianggap sempurna. Semasa hidup, ia dikenal baik.
Aktif di masyarakat, mudah tersenyum, dan sering berbicara tentang agama.
Saat jenazahnya dishalatkan, banyak yang berbisik, “Beliau orang baik.”
Namun tidak semua ikut mengantar ke kubur. Ada salat yang pernah ia tunda karena merasa masih punya waktu.
Ada janji yang diucapkan ringan lalu dilupakan. Ada hati orang kecil yang terluka, tapi tak pernah sempat ia minta maaf.
Di dalam kubur, ingatannya kembali pada satu sore sederhana. Azan berkumandang. Ia menoleh sebentar, lalu berkata pelan, “Nanti saja.”
Kalimat itu kini menjadi yang paling berat. Ia ingin kembali. Bukan untuk memperpanjang umur.
Bukan untuk memperbaiki nama. Hanya ingin satu rakaat yang dulu ia tunda. Tapi hidup hanya memberi kesempatan sekali.
Dan malam ini, saat kita membaca kisah ini, barangkali azan juga sedang menunggu jawaban: sekarang, atau nanti.



