spot_img

Iman Naik, Akhlak Membumi

Iman Naik, Akhlak Membumi

Cerpen: oleh Ismilianto

Malam itu, hujan turun perlahan di serambi masjid tua. Lampu temaram memantulkan bayang seorang lelaki paruh baya bernama Salman.

Ia dikenal rajin beribadah. Saf terdepan hampir selalu miliknya. Dzikirnya panjang, doanya fasih. Banyak orang mengira, imannya sudah sampai di langit.

Namun suatu sore, seorang anak kecil menjatuhkan sandal di depan masjid. Salman menoleh dengan wajah keras.

Nada suaranya tinggi, tegurannya tajam. Anak itu tertunduk, lalu pergi dengan mata basah.

Salman terdiam. Ada sesuatu yang tiba-tiba menghantam dadanya. Malam itu ia membuka Al-Qur’an, dan matanya jatuh pada satu ayat:

“Dan sungguh, engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”(QS. Al-Qalam: 4)

Ia membaca berulang-ulang. Agungnya Nabi bukan hanya karena ibadahnya, tapi karena akhlaknya.

Salman teringat kisah Rasulullah SAW. Suatu hari, seorang Badui kencing di masjid. Para sahabat hendak memarahi, tapi Nabi SAW melarang mereka.

Beliau menunggu hingga selesai, lalu dengan lembut menasihati. Masjid pun dibersihkan, hati manusia pun dijaga.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurna kan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Salman menunduk. Ia rajin salat, tapi mudah marah. Ia rajin dzikir, tapi hatinya keras.

Esok harinya, Salman melihat anak kecil itu lagi. Ia mendekat, tersenyum, dan mengusap kepalanya.

“Maafkan kakek kemarin,” katanya lirih. Anak itu tersenyum.

Dan anehnya, hati Salman terasa jauh lebih lapang dibandingkan setelah ratusan rakaat sunah.

Malamnya, ia membaca ayat lain: “Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut kepada mereka.

Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu.” (QS. Ali ‘Imran: 159).

BACA JUGA  Menyambut Idul Fitri 1443 H, Pertama Kali Karnaval Perahu Hias Digelar

Saat itu Salman paham. Iman yang naik, seharusnya membuat hati melunak.

Ia teringat kisah Imam Al-Ghazali. Ulama besar, ilmunya setinggi langit. Namun ketika mencapai puncak ketenaran, ia justru mundur dari jabatan dan memilih memperbaiki hati, agar ilmunya tidak mengeras menjadi kesombongan.

Salman pun belajar satu hal: iman bukan soal siapa yang paling sering sujud, tapi siapa yang paling aman dari lisannya, paling lembut sikapnya, dan paling ringan tangannya membantu.

Rasulullah SAW bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi).

Sejak hari itu, Salman tidak merasa perlu terlihat tinggi. Ia hanya ingin membumi.Karena ia tahu, iman sejati tidak membuat seseorang ditakuti, tetapi dirindukan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img