spot_img

Air Banjir Surut, Tapi Luka Batin Masih Menggenang di Hati Korban Lubuk Minturun Padang

Padang I Redaksisatu – Sebanyak 30 warga terdampak banjir dari Simpang Apa dan Lory Kelurahan Koto Tangah Timur berkumpul di aula panti. Wajah-wajah lelah itu duduk berdekatan, sebagian masih mengenakan pakaian seadanya.

Akibat banjir ada yang kehilangan tempat tidur, ada yang kehilangan dapur, ada yang kehilangan sekolah… tapi hampir semuanya mengaku kehilangan ketenangan. “Kadang takut datang lagi air tu… malam ndak bisa tidur,” ucap seorang ibu sambil mengusap sudut matanya.

Untuk merekalah sesi Trauma Healing dan Tuntunan Ibadah dalam Kondisi Darurat Bencana banjir digelar—bimbingan yang bukan hanya menguatkan pikiran, tetapi juga memulihkan hubungan manusia dengan Tuhannya.

“Musibah Tidak Memutus Hubungan dengan Allah”

Dalam suasana khidmat, Prof. Dr. Yarmis Syukur, M.Pd., Kons., membuka sesi bimbingan spiritual dengan suara yang lembut namun menenangkan saat kunjungan pada 10 Desember 2025 kemarin. Ia mengajak warga menyadari bahwa musibah bukan semata cobaan fisik, tetapi juga undangan untuk kembali mendekat kepada yang Maha Menjaga, .

“Musibah adalah bagian dari ketetapan-Nya,” ujarnya. “Kita tidak diminta untuk kuat sendiri, cukup berserah dan bertawakal. Selalu ada hikmah, meski kadang terbungkus air mata.”

banjir
PWA Sumatera Barat dan FAI UM Sumbar (Prodi HKI dan PAI) Foto bersama di Panti usai memnyerahkan bantuan.

Sementara itu, Dr. Desi Asmaret, M.Ag., memberi penjelasan yang membuat banyak peserta terangguk-angguk. Ia menegaskan bahwa ibadah tidak boleh hilang meskipun rumah, pakaian, atau perlengkapan lenyap diterjang banjir.

Dengan lembut ia mengulang kaidah fikih yang menguatkan hati para penyintas: “Al-dharūrāt tubīḥ al-maḥẓūrāt — kondisi darurat membolehkan hal-hal yang terlarang.” “Kalau pakaian hanyut, shalat tetap bisa dilakukan dengan apa adanya,” jelasnya.

“Jikalau ketakutan pada lingkungan tidak stabil, boleh menjamak dan mengqashar. Yang penting, hubungan dengan Allah jangan putus.”

Bagi sebagian besar peserta, penjelasan itu bukan hanya ilmu—melainkan Sitawa sidingin yang menghibur. Ada ibu yang menahan tangis sambil berkata lirih, “Apo pun hilang, tapi hati indak kosong lai…”. ( Apapun ? semuanya telah hilang, tetapi hanti tidak kosong )

BACA JUGA  Massa ABSB bersama LBH Kalbar dan Solmadapar Minta Kejari Pontianak Bebaskan Mulyanto

 Kompor Gas Membuat Seorang Ibu Menangis

Usai bimbingan, satu per satu bantuan dibagikan. Di balik deretan kardus sederhana itu, ada cerita yang tersembunyi akibat terjangan banjir: kompor gas untuk mereka yang kehilangan dapur, mukena dan sajadah untuk ibu-ibu yang kehilangan perlengkapan ibadah, serta sembako dan bantuan pendidikan untuk anak-anak panti.

Salah satu momen paling menyentuh terjadi ketika sebuah keluarga kategori A—terdampak berat—menerima kompor gas lengkap dengan ventilator dan tabungnya. Ibu itu menunduk lama, sebelum akhirnya menitikkan air mata.

“Indak sangko… kompor juo dibantu. Dapur ambo tu habis, hanyo tinggal lantai,” ( ” Tidak disangka-sangka.. komporpun dibantu juga. Dapur saya itu habis, yang tinggal hanya lantai saja” ) katanya, terbata.

Di sudut lain, beberapa ibu memeluk mukena baru mereka seolah memegang sesuatu yang jauh lebih berharga dari kain dan benang. Seorang di antaranya berbisik penuh syukur:

“Alhamdulillah… dapek juo sholat bulan puaso dan hari raya dengan mukena nan baru.”

Bantuan sederhana ini menjadi cara lembut untuk mengatakan: Engkau tidak sendiri. Kami bersama.

“Bantuan Rohani Ini yang Sering Dilupakan”

Kepala Panti Asuhan ‘Aisyiyah tidak dapat menyembunyikan haru saat memberikan apresiasi.

“Banyak bantuan datang, tapi hampir ndak ado yang ingek bantu makanan rohani – ( Banyak bantuan yang datang, tapi hampir tak seorangpun yang ingat membantu makanan rohani ” ) . Mukena, sajadah, bimbingan untuk sholat… itu yang paling warga butuhkan kini,” tuturnya.

Kata-kata itu menggambarkan kenyataan yang sering terlewat dalam penanganan bencana: fasilitas fisik bisa bangkit, tapi batin perlu ditopang lebih dulu.

Bantuan yang Menguatkan Tubuh, Menyembuhkan Jiwa

Kegiatan ini dilaksanakan oleh kolaborasi MKS PWA Sumatera Barat dan Tim Dosen FAI UM Sumbar (Prodi HKI dan PAI) bersama para pelaksana antara lain:

BACA JUGA  Kejari Tuba, Benar-Benar Bebaskan Pekerja Karet Kasus Penggelapan

Prof. Dr. Yarmis Syukur, M.Pd., Kons,- Dr. Desi Asmaret, M.Ag,- Dra. Indarefis,- Armalena, M.A, Ns. Meta Rikandi, S.Kep., M.Kep.

Tidak ada yang berorasi. Tidak ada panggung besar. Namun dari ruangan sederhana itu, pulanglah 30 orang dengan hati yang sedikit lebih ringan dan iman yang sedikit lebih kokoh. ( Desi / Jeben )

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img