Pathological liar bukan sekadar orang yang pernah berbohong. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan pola kebohongan yang muncul berulang kali, sulit dikendalikan, bahkan ketika seseorang tidak memperoleh keuntungan yang jelas dari kebohongan tersebut.
Perilaku seperti ini dapat menimbulkan persoalan serius dalam kehidupan sehari-hari. Kepercayaan orang lain dapat berkurang, hubungan menjadi penuh kecurigaan, dan komunikasi di lingkungan keluarga, pertemanan, maupun pekerjaan dapat terganggu.
Namun, ada satu hal penting yang tidak boleh disalahpahami. Pathological liar bukan diagnosis resmi dalam dunia kesehatan mental. Istilah tersebut lebih banyak digunakan untuk menggambarkan pola perilaku berbohong yang berlangsung terus-menerus dan menimbulkan dampak terhadap kehidupan seseorang.
Karena itu, tidak tepat memberikan label pathological liar hanya karena seseorang ketahuan berbohong satu atau beberapa kali.
Kebohongan dapat muncul karena berbagai alasan. Seseorang mungkin berbohong untuk menghindari konflik, karena takut atau berada dalam tekanan, ingin mendapatkan penerimaan, atau karena perilaku tersebut sudah menjadi kebiasaan.
Perhatian lebih besar diperlukan ketika kebohongan berubah menjadi pola yang terus berulang dan sulit dihentikan.
Salah satu tanda yang dapat terlihat adalah seseorang sering membuat kebohongan tanpa alasan yang jelas. Cerita yang disampaikan tidak selalu berkaitan dengan uang, jabatan, perhatian, atau keuntungan tertentu.
Misalnya, seseorang mengaku pernah bertemu artis terkenal meskipun sebenarnya tidak pernah mengalami hal tersebut. Cerita itu tidak memberikan keuntungan yang jelas, tetapi tetap disampaikan kepada orang lain seolah-olah benar-benar terjadi.
Tanda lainnya adalah cerita yang terlalu rinci tetapi sulit dibuktikan. Seseorang dapat menjelaskan sebuah kejadian dengan detail mengenai tempat, orang yang ditemui, hingga apa yang terjadi.
Cerita tersebut mungkin terdengar meyakinkan pada awalnya. Namun, ketika informasi diperiksa atau ditanyakan kembali, sejumlah detail dapat berubah, tidak konsisten, atau tidak sesuai dengan fakta yang ditemukan.
Masalah juga dapat terlihat ketika seseorang tetap mempertahankan ceritanya setelah informasi yang berbeda ditemukan.
Ia dapat menyangkal, mengubah sebagian keterangan, menambahkan cerita baru, atau mengalihkan pembicaraan. Pola tersebut dapat membuat orang di sekitarnya semakin sulit menentukan mana informasi yang benar.
Meski demikian, sikap menyangkal tidak otomatis menunjukkan pathological lying. Seseorang yang merasa malu, takut terhadap konsekuensi, atau sedang mengalami tekanan juga dapat menyangkal sebuah tuduhan.
Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan satu respons, melainkan pola perilaku secara keseluruhan.
Kebohongan yang berulang dan sulit dikendalikan menjadi perhatian penting lainnya. Bahkan setelah mengalami masalah karena kebohongannya, seseorang dapat kembali melakukan hal yang sama pada situasi berbeda.
Kondisi tersebut berbeda dengan kebohongan sesekali yang dilakukan karena alasan tertentu. Dalam pola yang lebih bermasalah, kebohongan dapat muncul kembali meskipun sebenarnya tidak ada kebutuhan untuk melakukannya.
Dampaknya kemudian dapat merembet ke berbagai aspek kehidupan.
Dalam pertemanan dan keluarga, orang lain dapat mulai kehilangan kepercayaan. Mereka mungkin menjadi lebih berhati-hati terhadap setiap informasi yang diberikan karena tidak lagi yakin apakah cerita tersebut sesuai kenyataan.
Di tempat kerja, kebohongan juga dapat membuat informasi yang disampaikan seseorang diragukan oleh rekan kerja maupun atasan.
Sementara bagi orang yang sering berbohong, mempertahankan berbagai cerita dapat menjadi beban tersendiri. Kebohongan yang harus ditutupi dengan cerita baru dapat membuat situasi semakin rumit dan berpotensi menimbulkan tekanan atau kecemasan.
Hal yang juga penting dipahami adalah tidak semua orang yang sering berbohong bermaksud memanipulasi atau menyakiti orang lain.
Pada sebagian orang, kebohongan dapat muncul secara spontan. Mereka bahkan mungkin mengalami kesulitan untuk memahami mengapa dirinya terus membuat cerita yang tidak sesuai kenyataan.
Karena itu, memberikan cap atau diagnosis secara sepihak bukanlah solusi.
Menghadapi seseorang yang terus berbohong memang dapat menguras kesabaran. Namun, mempermalukan, membentak, atau menyerangnya di depan orang lain bukan pendekatan yang perlu diutamakan.
Jika menemukan informasi yang tidak sesuai, sampaikan dengan tenang. Jelaskan bahwa fakta yang ditemukan berbeda dari cerita yang disampaikan dan berikan kesempatan untuk menjelaskan.
Untuk persoalan yang menyangkut uang, pekerjaan, kesehatan, keselamatan, atau keputusan penting, jangan menjadikan perkataan seseorang sebagai satu-satunya dasar pengambilan keputusan.
Periksa informasi melalui sumber yang dapat dipercaya jika diperlukan. Untuk urusan penting, bukti atau catatan juga dapat disimpan agar keputusan tidak hanya bergantung pada cerita lisan.
Batasan yang jelas juga diperlukan.
Seseorang tidak wajib meminjamkan uang, mengambil keputusan besar, atau mempercayai informasi penting hanya karena merasa tidak enak untuk menolak. Batasan dapat disampaikan dengan jelas dan diterapkan secara konsisten.
Jika orang tersebut bersedia mendapatkan bantuan, dorong untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.
Profesional kesehatan mental dapat membantu memahami pola perilaku yang terjadi serta melihat berbagai faktor yang mungkin mendasarinya. Penilaian tersebut jauh lebih tepat dibandingkan mencoba menentukan kondisi seseorang hanya berdasarkan kebiasaannya berbohong.
Orang yang berada di sekitarnya juga tidak harus merasa bertanggung jawab untuk menghentikan perilaku tersebut.
Jika kebohongan yang terus terjadi mulai membuat seseorang merasa lelah, marah, cemas, atau bahkan meragukan dirinya sendiri, mencari dukungan dari orang yang dipercaya atau profesional kesehatan mental dapat dilakukan.
Pada akhirnya, menghadapi pathological liar bukan berarti harus membiarkan semua kebohongan.
Empati tetap dapat diberikan, tetapi batasan harus tetap dijaga. Kepercayaan juga tidak harus diberikan tanpa pertimbangan, terutama ketika menyangkut keputusan yang dapat menimbulkan kerugian.
Jika kebohongan sudah berkaitan dengan keselamatan, kekerasan, penipuan, atau kerugian serius, keamanan harus ditempatkan sebagai prioritas.
Yang paling penting, jangan terburu-buru memberi label kepada seseorang. Kebiasaan berbohong saja belum cukup untuk menentukan apakah seseorang mengalami kondisi tertentu.
Jika perilaku tersebut terus berulang dan mulai mengganggu hubungan maupun kehidupan sehari-hari, bantuan profesional dapat menjadi langkah untuk memahami masalah secara lebih menyeluruh.
sumber: alodokter.com




