Berangkat dari Bamboo Spirit Nusantara, dengan pohon Jampinang di lereng gunung Arjuno, gunung Resi Maha Agung, peristiwa cerita, berita dibawah ini.
Malang, Redaksi Satu | Pohon Jampinang dalam kerangka pemikiran Sedulur Papat Limo Pancer, tidak ditempatkan sekadar sebagai simbol, melainkan sebagai Tanda Sloka Sastra Realita.
“Yang digunakan untuk membaca hubungan antara manusia, kesadaran, energi kehidupan, tindakan, serta perubahan yang terus berlangsung dalam kehidupan.
Melalui Pohon Jampinang, berbagai unsur dalam Sedulur Papat Limo Pancer dapat dipandang sebagai satu kesatuan yang saling berhubungan. Setiap unsur tidak berdiri sendiri, tetapi memiliki peran dalam membentuk sebuah perjalanan kesadaran manusia.
Pohon Jampinang menjadi gambaran tentang bagaimana sesuatu yang ditanam, dirawat, dan dihidupkan akan mengalami proses pertumbuhan.
Dalam tafsir budaya ini, pertumbuhan tersebut dapat dibaca sebagai perjalanan manusia dalam mengenali dirinya, menjaga keseimbangan, menggerakkan potensi, menyatukan pengalaman, hingga menemukan pusat kesadarannya.
Sebagai Tanda Sloka Sastra Realita, Pohon Jampinang menjadi alat bantu untuk memahami energi dan aksi-interaksi yang bersifat proaktif, produktif, serta transformatif.
Artinya, kesadaran tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi diterjemahkan menjadi laku, tindakan, karya, dan perubahan.
Pohon tersebut sekaligus menggambarkan bahwa kehidupan memiliki proses. Ada sesuatu yang ditanam, ada yang dijaga, ada yang tumbuh, ada yang berkembang, dan pada akhirnya memberikan manfaat bagi kehidupan di sekitarnya.
Dalam konteks Sedulur Papat Limo Pancer, proses tersebut dapat dikaitkan dengan perjalanan Eling, Sabar, Greget, Manunggal, hingga Pancer. Kesadaran menjadi akar, keseimbangan menjadi penjaga pertumbuhan, greget menjadi daya gerak, manunggal menjadi penyatuan, sedangkan Pancer menjadi pusat kesadaran manusia.
Dengan demikian, Pohon Jampinang dapat dibaca sebagai sebuah peta pertumbuhan kesadaran.
Ia mengajak manusia untuk tidak hanya bertanya tentang siapa dirinya, tetapi juga bagaimana dirinya tumbuh, bergerak, berhubungan, dan memberikan arti bagi kehidupan.
Pemaknaan tersebut membawa Pohon Jampinang ke dalam wilayah refleksi budaya dan filosofis.
Ia menjadi sebuah cara untuk membaca realitas kehidupan melalui simbol, pengalaman, tindakan, serta hubungan manusia dengan sumber kehidupan.
Pada akhirnya, Pohon Jampinang menjadi gambaran perjalanan dari menanam kesadaran, menjaga kehidupan, menggerakkan potensi, menyatukan pengalaman, hingga menemukan jati diri sebagai Pancer.
Dalam ungkapan yang lebih sederhana, Pohon Jampinang adalah gambaran bahwa kehidupan yang ditanami kesadaran akan tumbuh menjadi laku, laku menjadi pengalaman, pengalaman menjadi pemahaman, dan pemahaman mengantarkan manusia kembali mengenali “Akunya Aku” jatidirinya, bahagia dalam tadir. (Sumber: Bamboo Spirit Nusantara-Jurnalis Kairos-Kairozo: Saidi Hartono).




