Redaksi Satu | Perjalanan Indonesia menuju satu abad kemerdekaan pada 2045, tidak hanya berbicara tentang pembangunan fisik dan kemajuan teknologi.
Ada pertanyaan yang lebih mendasar: manusia Indonesia seperti apa yang ingin dibentuk, dan peradaban seperti apa yang akan diwariskan kepada generasi mendatang?
Pertanyaan besar itulah yang menjadi salah satu pijakan gagasan SALAM NUSANTARA 2045, yang dicetuskan dan digagas Ki Guntur Bisowarno sebagai sebuah gerakan pembelajaran, dialog, aksi, jejaring dan dokumentasi untuk membaca perjalanan Indonesia dari 1945 menuju 2045.
Dalam Grand Design SALAM NUSANTARA, program ini membawa gagasan “Pawiyatan, Aksi, Jejaring, dan Impact untuk Peradaban Nusantara.” Horizon strategisnya dirancang selama 2026–2045 dengan kurikulum awal berupa 100 Pawiyatan.
SALAM NUSANTARA tidak diposisikan sekadar sebagai program media sosial. Rancangannya memiliki dua kaki utama, yakni PAWIYATAN sebagai ruang belajar dan pertukaran pengetahuan, serta AKSI sebagai penerapan nyata di daerah masing-masing.
Keduanya kemudian dipertemukan melalui dokumentasi, teknologi, jejaring dan pengukuran dampak. Formula yang ditawarkan adalah Pawiyatan – Kesadaran – Jejaring – Aksi – Impact – Pawiyatan kembali.
Membaca Satu Abad Perjalanan Indonesia
Tahun 2045 menjadi momentum strategis karena menandai 100 tahun Indonesia merdeka.
SALAM NUSANTARA menggunakan rentang 1945–2045 sebagai bingkai refleksi perjalanan bangsa. Sebanyak 100 Pawiyatan dirancang menjadi ruang dialog untuk mempertemukan pengalaman masa lalu, realitas hari ini dan gagasan masa depan.
Pertanyaan utamanya bukan semata tentang capaian pembangunan, tetapi mengenai manusia Indonesia dan peradaban yang ingin diwariskan setelah satu abad kemerdekaan.
Visi tersebut diarahkan pada terwujudnya ekosistem pawiyatan dan kolaborasi Nusantara yang menumbuhkan manusia berkesadaran, berbudaya, ekologis, adaptif terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mampu membangun kehidupan mandiri dan berkelanjutan menuju 2045.
SALAM sebagai Nilai Kehidupan
Nama SALAM tidak hanya menjadi identitas program. Ia dirumuskan sebagai prinsip: Sadar, Alam, Lestari, Adaptif, dan Mandiri.
Kesadaran diarahkan pada hubungan manusia dengan diri sendiri, sesama, alam, budaya dan kehidupan. Alam ditempatkan sebagai ruang kehidupan sekaligus pembelajaran.
Sementara kelestarian mencakup lingkungan, kebudayaan, pengetahuan dan generasi. Adaptif berarti mampu menghadapi perubahan ilmu pengetahuan, teknologi dan AI, sedangkan mandiri berarti membangun kapasitas, pengetahuan, ekonomi dan solusi secara berkelanjutan.
Dalam kerangka SALAM, Nusantara tidak hanya dimaknai sebagai wilayah geografis. Nusantara dipandang sebagai ruang perjumpaan berbagai manusia, budaya, bahasa, ekosistem, pengetahuan dan pengalaman kehidupan yang membentuk jaringan peradaban.
Prinsipnya dirumuskan sebagai lokal dalam tindakan, Nusantara dalam jejaring, dan universal dalam kemanusiaan.
Dari Belajar Menuju Gerakan Nyata
SALAM NUSANTARA dirancang agar proses pembelajaran tidak berhenti pada diskusi.
Pawiyatan dapat berlangsung melalui live streaming, saresehan, dialog, wawancara, pembacaan budaya, diskusi ilmiah, dialog generasi, dialog komunitas hingga refleksi.
Dari ruang belajar tersebut, gagasan diterjemahkan menjadi aksi sosial, aksi budaya, aksi ekologis, kegiatan komunitas dan praktik lokal.
Berbagai bentuk aksi yang ditawarkan antara lain SALAM Sungai, SALAM Mata Air, SALAM Budaya, SALAM Bambu, SALAM Muda, dan SALAM AI.
Peserta SALAM dengan demikian tidak hanya diarahkan menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku yang membawa pembelajaran ke wilayah dan komunitas masing-masing.
Ki Guntur dan Poros Gerak
Dalam Grand Design, Ki Guntur Bisowarno tercatat sebagai salah satu penggerak awal bersama Ki Hari dan Ki Code.
Ki Guntur ditempatkan pada poros GERAK, yang mewakili komunitas, jejaring, budaya, lingkungan, Bambu Spirit Nusantara dan kolaborasi. Fungsi poros ini adalah menggerakkan akar menjadi jejaring dan aksi.
Dua poros lainnya adalah Ki Hari sebagai AKAR, yang mewakili nilai, pengalaman, budaya dan kearifan, serta Ki Code sebagai KONEKSI, yang membawa AI, teknologi, dokumentasi, informasi dan komunikasi digital.
Ketiganya kemudian dirumuskan dalam formula:
AKAR – GERAK – KONEKSI : SALAM NUSANTARA.
Teknologi dan AI untuk Pengetahuan
SALAM NUSANTARA juga memasukkan perkembangan teknologi dan AI ke dalam ekosistem pembelajaran.
AI dirancang untuk membantu transkripsi, dokumentasi, pengarsipan, pencarian pengetahuan, pengelompokan tema, pemetaan jejaring, penerjemahan, pengembangan materi, pembuatan ringkasan, literasi digital dan pengolahan data impact.
Namun, dokumen menegaskan posisi manusia tetap utama: AI membantu membaca pola, sedangkan manusia menentukan konteks, nilai, keputusan dan tanggung jawab.
Empat Fase Menuju 2045
Grand Design SALAM NUSANTARA membagi perjalanan 2026–2045 menjadi empat fase.
Fase I, 2026–2029: Menemukan. Fokus pada pemetaan komunitas, budaya, ekologi, dokumentasi pengetahuan, identitas SALAM dan pembangunan baseline.
Fase II, 2030–2034: Menghubungkan. Fokus pada jejaring Nusantara, kolaborasi, fasilitator daerah, pertukaran pengetahuan dan replikasi pawiyatan.
Fase III, 2035–2039: Menggerakkan. Fokus pada aksi komunitas, pendidikan, ekologi, ekonomi lokal, inovasi dan teknologi.
Fase IV, 2040–2045: Mewariskan. Fokus pada konsolidasi, regenerasi, model peradaban, arsip, evaluasi, publikasi dampak dan warisan bagi generasi berikutnya.
Dampak Menjadi Ukuran Utama
Salah satu hal penting dalam rancangan ini adalah ukuran keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh jumlah penonton.
SALAM NUSANTARA menggunakan lima lapisan pengukuran: Reach, Engagement, Learning, Action, dan Impact.
Artinya, program ingin melihat bukan hanya berapa banyak masyarakat yang terjangkau, tetapi juga siapa yang berpartisipasi, apa yang dipelajari, tindakan apa yang lahir dan perubahan apa yang mampu bertahan.
Pengukuran dilakukan melalui Baseline, Midline dan Endline, dengan evaluasi strategis pada 2026, 2030, 2035, 2040 dan 2045. Hasil akhirnya diarahkan menjadi SALAM NUSANTARA IMPACT REPORT 2045.
100 Pawiyatan untuk Membaca Indonesia
Sebanyak 100 Pawiyatan menjadi bagian penting dari rancangan kurikulum SALAM NUSANTARA.
Tujuh ranah besar yang dikembangkan mencakup manusia dan kesadaran; alam, ekologi dan ruang hidup; budaya, bahasa, sastra dan memori; pengetahuan, pendidikan dan teknologi; ekonomi, kesejahteraan dan kemandirian; masyarakat, gotong royong dan tata kelola; serta peradaban, kolaborasi dan roadmap 2045.
Dari tema tentang manusia Nusantara, gunung, hutan, mata air dan sungai, hingga budaya, pendidikan, AI, ekonomi lokal, gotong royong, kepemudaan dan masa depan Indonesia 2045, keseluruhannya diarahkan untuk menjadi ruang belajar lintas generasi dan lintas komunitas.
Peradaban Bukan Sekadar Target
Grand Design SALAM NUSANTARA pada akhirnya menghubungkan perjalanan 1945 → 2026 → 100 Pawiyatan → Pawiyatan + Aksi → Jejaring Nusantara → Knowledge Map → Impact Data → Civilization Nusantara 2045.
Target strategisnya mencakup arsip digital SALAM, dokumentasi budaya, peta komunitas, peta pengetahuan Nusantara, jejaring fasilitator, program aksi daerah, modul pawiyatan, literasi AI dan digital, SALAM Knowledge Map, SALAM Impact Dashboard, SALAM Civilization Impact Report 2045 serta Ourstory Nusantara 1945–2045.
Pada akhirnya, SALAM NUSANTARA membawa pesan bahwa perjalanan menuju 2045 bukan sekadar mengejar sebuah angka tahun.
Peradaban dibangun melalui percakapan, tindakan, jejaring manusia, pengetahuan yang diwariskan dan keberanian untuk terus belajar.
Karena itu, SALAM NUSANTARA dirumuskan bukan sekadar program menuju 2045, tetapi cara berjalan menuju 2045.
Dari alam kita belajar.
Dari budaya kita berakar.
Dengan ilmu kita memahami.
Dengan teknologi kita terhubung.
Dengan aksi kita membuktikan.
Dengan bersama kita mewariskan. (Editor Saidi Hartono).




