Mengapa Pohon Gayam Identik dengan Ayam Nusantara!

Pasuruan, Redaksi Satu | Bamboo Spirit Nusantara melalui Guntur Bisowarno kembali mengungkapkan Pohon Gayam mengembangkan budaya terhadap alam Nusantara.
Dalam gagasan tersebut, Pohon Gayam tidak semata-mata dipandang sebagai tumbuhan yang memiliki nama, bentuk, jenis, dan karakter biologis. Lebih jauh, keberadaannya dibaca melalui pengalaman manusia dalam menjalani kehidupan, melakukan laku lampah, tindakan, bakti, serta pengabdian terhadap alam dan sesama.
Guntur Bisowarno menyebut gagasan itu sebagai bagian dari pembacaan terhadap “Pohon G-AYAM” dan “Ayam Jago Nusantara”, yang dikaitkan dengan makna Guntur sebagai simbol kearifan dan kebijaksanaan alamiah.

Melalui sebuah gagasan yang menempatkan Pohon Gayam sebagai tanda, pertanda, sekaligus ruang refleksi tentang lahirnya kesadaran peradaban.

Dalam gagasan tersebut, Pohon Gayam tidak semata-mata dipandang sebagai tumbuhan yang memiliki nama, bentuk, jenis, dan karakter biologis. Lebih jauh, keberadaannya dibaca melalui pengalaman manusia dalam menjalani kehidupan, melakukan laku lampah, tindakan, bakti, serta pengabdian terhadap alam dan sesama.

Guntur Bisowarno menyebut gagasan itu sebagai bagian dari pembacaan terhadap “Pohon G-AYAM” dan “Ayam Jago Nusantara”, yang dikaitkan dengan makna Guntur sebagai simbol kearifan dan kebijaksanaan alamiah.

Bagi Bamboo Spirit Nusantara, alam merupakan ruang belajar yang tidak pernah berhenti memberikan tanda. Gunung, bukit, gumuk, lembah, pohon, mata air, air, sungai, kedung, rawa, pantai hingga laut memiliki keberadaan fisik sekaligus menyimpan pengalaman kehidupan yang dapat dibaca melalui perjalanan manusia.

BACA JUGA  Omah Budaya Kahangnan Saksi Sosok Jataka dalam Pewayangan

Karena itu, alam Nusantara tidak hanya ditempatkan sebagai objek yang diamati, melainkan sebagai bagian dari ruang kehidupan yang mempunyai hubungan erat dengan manusia, kebudayaan, pengetahuan, serta pembentukan tata nilai.

Pohon, misalnya, secara fisik dapat dikenali melalui karakter biologis dan botani. Namun dalam pembacaan kebudayaan Nusantara, pohon juga dapat menjadi media untuk memahami hubungan manusia dengan ruang hidup, waktu, keseimbangan, keberlanjutan, serta tanggung jawab terhadap alam.

Dari sudut pandang tersebut, Pohon Gayam menjadi pintu masuk untuk membaca kembali bagaimana masyarakat Nusantara sejak dahulu membangun hubungan dengan lingkungan di sekitarnya.

Pembacaan itu tidak berhenti pada asal-usul taksonomi, genus, spesies, ataupun persebaran tumbuhan berdasarkan wilayah. Gagasan yang dibawa Bamboo Spirit Nusantara justru mengajak melihat lapisan yang lebih dalam, yakni bagaimana manusia mengalami, menjalani, dan memaknai keberadaan alam melalui kehidupan sehari-hari.

Pengalaman laku lampah menjadi penting karena pengetahuan tidak hanya lahir dari teori. Pengetahuan juga tumbuh dari pengalaman, tindakan, pengamatan, pengabdian, serta hubungan langsung manusia dengan lingkungan tempat kehidupannya berlangsung.

Dalam kerangka tersebut, kearifan kebijaksanaan alamiah dipahami sebagai proses membaca tanda-tanda kehidupan melalui hubungan yang terus-menerus antara manusia dan alam.

Sementara itu, istilah “Ayam Jago Nusantara” dalam gagasan Guntur Bisowarno ditempatkan sebagai simbol keberanian untuk bangun, sadar, bergerak, dan menjalankan kehidupan. Ia menjadi metafora tentang kesadaran manusia untuk mengenali waktu dan tanggung jawabnya.

BACA JUGA  Penghayatan Kebudayaan Miliki 1000 Pawiyatan Seperti apa Ini Penjelasannya!!

Suara ayam jago pada pagi hari, dalam pembacaan simbolik tersebut, dapat dimaknai sebagai tanda pergantian waktu sekaligus pengingat bahwa kehidupan selalu bergerak dari satu keadaan menuju keadaan berikutnya.

Dari sinilah gagasan “G-AYAM” mendapatkan ruang pemaknaan yang lebih luas. Gayam, ayam, dan Guntur tidak semata-mata dibaca sebagai kata atau nama benda, tetapi sebagai rangkaian simbol budaya yang digunakan untuk mengajak manusia kembali memperhatikan hubungan antara alam, kesadaran, dan perjalanan peradaban.

Bamboo Spirit Nusantara kemudian menempatkan sumber-sumber alam sebagai bagian dari “Sumber Mata Air Kearifan Kebijaksanaan Alamiah Ilahiah Ilmiah Budaya Peradaban Nusantara”. Gagasan tersebut mempertemukan pengalaman alam, nilai spiritual, pengetahuan, serta kebudayaan dalam satu ruang pembacaan.

Gunung dan bukit, misalnya, dapat menjadi ruang penghayatan tentang keteguhan. Lembah mengajarkan tentang ruang dan keseimbangan. Sungai memperlihatkan perjalanan air yang terus bergerak. Mata air mengingatkan tentang sumber kehidupan. Sementara laut memperlihatkan keluasan ruang yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan manusia Nusantara.

Dengan demikian, setiap wujud alam dapat menjadi bahan pembelajaran apabila manusia mampu melihatnya tidak hanya dari bentuk fisiknya, tetapi juga dari pengalaman kehidupan yang tumbuh bersamanya.

Guntur Bisowarno melalui gagasan tersebut juga mengajak agar budaya Nusantara tidak hanya dipahami sebagai peninggalan masa lalu. Budaya dapat dibaca sebagai pengetahuan yang terus hidup, berkembang, dan mengalami transformasi melalui hubungan manusia dengan alam serta perubahan zaman.

Peradaban, dalam perspektif ini, tidak semata-mata diukur dari pembangunan fisik atau kemajuan teknologi. Peradaban juga berkaitan dengan kemampuan manusia menjaga hubungan yang seimbang antara dirinya, alam, sesama manusia, serta nilai-nilai yang menjadi dasar kehidupannya.

BACA JUGA  "Gayam" Pohon Peradaban Nusantara: Menanam Pohon, Merawat Air

Pohon Gayam akhirnya ditempatkan sebagai salah satu tanda untuk membuka ruang perenungan tersebut. Dari sebuah pohon, manusia dapat bergerak menuju pembacaan yang lebih luas tentang kehidupan, kearifan, kebijaksanaan, pengetahuan, dan tanggung jawab menjaga sumber kehidupan.

Melalui gagasan “Pohon Gayam, Tanda Pertanda Guntur Terbitnya Peradaban Ayam Nusantara”, Bamboo Spirit Nusantara hendak membuka ruang dialog bahwa alam bukan sekadar benda yang berada di sekitar manusia.

Alam merupakan bagian dari perjalanan peradaban yang dapat menjadi sumber pengalaman, pengetahuan, nilai, dan kesadaran untuk membangun manusia Nusantara yang mampu membaca kehidupan secara lebih utuh.

Masukkan QOTE Bahwa Ayam Jago Berkokok tidak melihat JAM JAMAN, Ayam Jago Nusantara Berkokok itu Merespon CAHAYA SINAR (Matahari, INGSUN cahayabWIWITAN ing DADA)

Manusia Nusantara mampu membaca Hidup Penghidupan Kehidupan secara lebih Utuh Terpadu, Kolaboratif, Sinergitas, Inovatif, Transformatif, Holistik, Komprehensif Sejati. (Penulis Saidi Hartono).

Html code here! Replace this with any non empty text and that's it.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img