Anak Diajarkan Sopan Santun, Orang Dewasa Mempertontonkan Perang Narasi di Media Sosial

 

Oleh: Muhamad Sarman
Pemerhati Media Sosial
LSM KPMP (Komando Pejuang Merah Putih)

Sejak anak masih kecil, kita mengajarkan banyak hal tentang kebaikan.

Boyolali, Redaksisatu.id – Anak diajarkan mengucapkan salam, menghormati orang yang lebih tua, berbicara dengan sopan, tidak menghina teman, tidak berkata kasar, serta menghargai perbedaan. Di sekolah, mereka mendapatkan pendidikan agama, budi pekerti, etika dan ilmu pengetahuan sebagai bekal untuk menjalani kehidupan.

Orang tua pun berharap anak-anak mereka tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, memiliki akhlak yang baik dan mampu menempatkan diri di tengah masyarakat.
Namun, ada sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan bersama:
Apa yang terjadi ketika pendidikan sopan santun yang diberikan kepada anak di rumah dan di sekolah berhadapan dengan kenyataan yang mereka lihat setiap hari di media sosial?
Di sinilah persoalan pendidikan karakter pada zaman digital menjadi semakin kompleks.

Anak-anak adalah generasi yang sedang belajar dari kita.

Anak Diajarkan Menjaga Ucapan
Anak kecil sering kali ditegur ketika mengucapkan kata-kata yang tidak pantas.
“Jangan berkata seperti itu.”
“Jangan menghina teman.”
“Kalau berbeda pendapat, bicaralah baik-baik.”
“Jangan menyakiti orang lain dengan ucapan.”
Pesan-pesan semacam itu terus ditanamkan sejak dini.

BACA JUGA  Sultan Pontianak Dukung Proses Hukum, Bantah Pernyataan KPK

Tetapi ketika anak membuka media sosial, mereka dapat menemukan sesuatu yang berbeda. Orang dewasa saling menyerang dengan narasi. Perbedaan pilihan politik menjadi pertengkaran. Perbedaan pandangan berubah menjadi saling mencela. Kritik tidak jarang disampaikan dengan bahasa yang keras.
Bahkan ruang publik digital terkadang dipenuhi oleh saling sindir, saling tuding dan saling merendahkan.

Pertanyaannya, apakah anak memahami semua itu sebagai sesuatu yang salah?
Belum tentu.
Bagi anak yang sedang berada dalam proses belajar, apa yang sering mereka lihat dapat dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Orang Dewasa Lupa Bahwa Media Sosial Bukan Ruang Pribadi
Salah satu persoalan terbesar di era digital adalah munculnya anggapan bahwa media sosial merupakan ruang bebas untuk mengatakan apa saja.

Padahal, ketika seseorang menulis sesuatu di media sosial, ia tidak pernah benar-benar berbicara sendirian.
Tulisan itu bisa dibaca orang tua.
Bisa dibaca guru.
Bisa dibaca tetangga.
Bisa dibaca anak-anak.
Bisa dibaca oleh masyarakat dari berbagai latar belakang.

Bahkan sebuah unggahan yang dibuat dalam hitungan detik dapat bertahan jauh lebih lama daripada emosi yang melahirkannya.
Karena itu, kebebasan berekspresi seharusnya berjalan bersama tanggung jawab.

Kita tentu tidak ingin ruang digital menjadi ruang yang membungkam perbedaan pendapat. Kritik terhadap kebijakan dan perdebatan publik merupakan bagian dari kehidupan demokratis.
Tetapi kritik tidak harus berubah menjadi penghinaan. Perbedaan pendapat tidak harus berubah menjadi permusuhan. Dan kebebasan berbicara tidak berarti seseorang bebas mengabaikan etika.

Ketika Politik Menjadi Tontonan Anak-Anak
Persoalan ini semakin terasa ketika media sosial dipenuhi perdebatan politik.
Politik memang merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Perbedaan pilihan dan pandangan politik adalah sesuatu yang wajar.
Namun yang perlu menjadi perhatian adalah cara perbedaan tersebut dipertontonkan kepada publik.

BACA JUGA  PMKRI Tolak Gelar "Pahlawan" Soeharto, Sampaikan 6 Tuntutan

Ketika orang dewasa saling berdebat dengan bahasa yang kasar, saling menyerang secara personal, atau membangun narasi yang bertujuan menjatuhkan pihak lain, anak-anak yang menyaksikannya dapat menangkap sebuah pesan yang keliru: “Kalau berbeda pendapat, kita boleh menyerang.” Padahal sejak kecil mereka diajarkan sebaliknya. Mereka diajarkan bahwa perbedaan adalah sesuatu yang harus dihargai.

Mereka diajarkan bahwa masalah dapat dibicarakan. Mereka diajarkan untuk meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
Lalu mengapa ketika sudah dewasa, sebagian orang justru merasa semakin bebas dalam menggunakan kata-kata?

Jangan Salahkah Anak Ketika Mereka Meniru
Kita sering khawatir ketika melihat anak berkata kasar. Kita khawatir ketika anak mulai mengikuti perilaku yang tidak sesuai dengan nilai yang diajarkan.

Tetapi sebelum menyalahkan anak, mungkin ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri:
Dari mana mereka belajar?
Anak belajar dari orang tua.
Anak belajar dari guru.
Anak belajar dari lingkungan.
Dan pada zaman sekarang, anak juga belajar dari layar yang berada di tangan mereka setiap hari.

Karena itu, tidak adil jika kita menuntut anak untuk selalu menjaga perilaku, sementara orang dewasa memberikan contoh yang bertolak belakang.

Pendidikan karakter tidak akan kuat apabila hanya diberikan melalui buku pelajaran.
Pendidikan karakter harus terlihat dalam kehidupan nyata. Anak bukan hanya mendengar apa yang kita katakan. Mereka juga memperhatikan apa yang kita lakukan.

Tantangan Pendidikan di Era Digital
Inilah tantangan besar pendidikan pada zaman sekarang. Dahulu, pendidikan anak lebih banyak dipengaruhi oleh keluarga, sekolah dan lingkungan sekitar. Sekarang, ada satu lingkungan baru yang pengaruhnya sangat besar: ruang digital. Di dalamnya terdapat ilmu pengetahuan, hiburan, informasi dan pendidikan, tetapi juga terdapat berbagai macam konten yang belum tentu sesuai untuk anak.

Karena itu, pendidikan anak tidak cukup hanya dengan mengajarkan membaca dan menulis.
Anak juga perlu diajarkan literasi digital.
Mereka harus belajar memahami bahwa tidak semua informasi yang muncul di internet adalah fakta. Tidak semua video yang viral layak ditiru.
Tidak semua komentar harus dibalas. Tidak semua perdebatan harus diikuti. Dan tidak semua orang yang memiliki banyak pengikut harus dijadikan panutan.

BACA JUGA  Viral Soal Harga BBM Malaysia Harus Dijelaskan Transparan

Tanggung Jawab Bukan Hanya Milik Orang Tua
Orang tua tentu memiliki tanggung jawab besar dalam mendampingi anak menggunakan teknologi. Namun persoalan ini terlalu besar apabila seluruh bebannya diletakkan di pundak orang tua.

Sekolah memiliki peran.
Masyarakat memiliki peran.
Pengguna media sosial memiliki peran.
Platform digital memiliki tanggung jawab.
Dan pemerintah juga memiliki tanggung jawab dalam membangun ruang digital yang aman dan sehat.

Dalam konteks Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Digital memiliki peran dalam urusan komunikasi dan informasi, pengembangan ekosistem digital, pengawasan ruang digital, keamanan siber, perlindungan data pribadi serta komunikasi publik.

Peran tersebut menjadi semakin penting karena ruang digital sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, termasuk kehidupan anak-anak.

Namun perlindungan anak di dunia digital bukan sekadar persoalan melakukan penyaringan terhadap konten. Yang jauh lebih penting adalah membangun budaya digital yang sehat.
Budaya di mana kebebasan berbicara tetap dihormati, tetapi kesantunan tidak ditinggalkan.
Budaya di mana kritik tetap boleh disampaikan, tetapi tidak harus disertai penghinaan.
Budaya di mana perbedaan pandangan tidak otomatis dianggap sebagai permusuhan.

Mari Memberi Contoh Sebelum Memberi Nasihat, Mungkin sudah waktunya kita melakukan introspeksi. Sebelum mengatakan kepada anak: “Jangan berkata kasar.”
Mari kita bertanya apakah bahasa yang kita gunakan di media sosial sudah mencerminkan nasihat tersebut.

Sebelum mengatakan: “Hormati orang lain.”
Mari kita melihat bagaimana kita memperlakukan orang yang berbeda pendapat dengan kita.

Sebelum mengatakan: “Jangan mudah marah.”
Mari kita melihat bagaimana kita merespons komentar yang tidak sesuai dengan pandangan kita. Sebab pendidikan karakter yang paling kuat bukanlah ceramah. Pendidikan karakter adalah keteladanan.

Anak-anak membutuhkan contoh nyata bahwa perbedaan tidak harus berujung permusuhan. Mereka membutuhkan contoh bahwa seseorang bisa tidak setuju tanpa harus menghina.

Mereka membutuhkan contoh bahwa kritik dapat disampaikan tanpa merendahkan.
Dan mereka membutuhkan contoh bahwa kebebasan berbicara selalu memiliki tanggung jawab terhadap orang lain.

Jangan Biarkan Algoritma Menjadi Guru bagi Anak-Anak Kita. Teknologi akan terus berkembang. Media sosial akan terus berubah.
Platform baru akan bermunculan.
Anak-anak kita akan tumbuh dalam dunia yang semakin terkoneksi.

BACA JUGA  PT Mitra Karya Surya Kencana, Mengaku Kantongi Izin Manifes Festronik Limbah B3

Kita tidak mungkin membawa mereka kembali ke dunia tanpa teknologi. Yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan mereka agar mampu hidup di dalamnya dengan karakter yang kuat.
Jangan sampai anak-anak sejak dini diajarkan sopan santun, tetapi ketika mereka membuka media sosial, justru menemukan orang dewasa mempertontonkan perang narasi.

Jangan sampai mereka diajarkan menghargai perbedaan, tetapi setiap hari melihat perbedaan dijadikan alasan untuk saling menyerang.
Dan jangan sampai kita terlalu sibuk menyalahkan generasi muda karena perilakunya, sementara kita lupa bahwa mereka sedang tumbuh dengan meniru dunia yang kita ciptakan sendiri.

Anak-anak adalah generasi yang sedang belajar dari kita. Karena itu, kalau kita ingin mereka menjadi generasi yang santun, maka orang dewasa harus lebih dahulu menunjukkan kesantunan.

Kalau kita ingin mereka menghargai perbedaan, kita harus menunjukkan bagaimana perbedaan dapat disikapi dengan dewasa. Dan kalau kita ingin mereka menggunakan dunia digital secara bijak, maka mari kita mulai dari diri sendiri.
Sebab pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan hanya: “Apa yang kita ajarkan kepada anak?”

Tetapi juga: “Apa yang kita pertontonkan kepada mereka?” Dan mungkin inilah saatnya kita menyadari bahwa pendidikan anak tidak berhenti di ruang kelas.
Pendidikan juga berlangsung setiap kali sebuah layar menyala dan seorang anak melihat bagaimana orang dewasa berbicara kepada sesamanya.

Html code here! Replace this with any non empty text and that's it.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img