Redaksi Satu | Kekecewaan yang dirasakan Anita legislator asal Kupang ini, pada saat kunjungan kerja (kunker) di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Anggota DPR RI Komisi X, Anita Jacoba Gah, ia menyoroti lemahnya pendataan kondisi infrastruktur pendidikan di Nusa Tenggara Timur.
Ia mengaku kecewa karena pemerintah provinsi belum memiliki data, yang rinci dan akurat terkait tingkat kerusakan sekolah, mulai dari SD hingga SMA/SMK.
Hal itu disampaikan Anita, saat melakukan kunjungan kerja Komisi X di Kupang, Rabu (22/04/2026), dilansir dari Parlemen.
dalam rangka meninjau langsung kondisi pendidikan serta kebutuhan perbaikan fasilitas sekolah.
Menurutnya, ketiadaan data yang valid menjadi hambatan serius dalam mengusulkan bantuan revitalisasi dari pemerintah pusat.
Ia menilai, seharusnya pemerintah daerah sudah memiliki pemetaan jelas terkait jumlah sekolah yang mengalami kerusakan ringan, sedang, hingga berat di setiap jenjang pendidikan.
Anita menjelaskan bahwa secara nasional, kuota bantuan revitalisasi sekolah yang masih tersedia saat ini terbatas, yakni sekitar 7.000 unit.
Sementara itu, berdasarkan informasi dari Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP), terdapat sekitar 3.000 sekolah di NTT yang dilaporkan mengalami kerusakan.
Namun, angka tersebut dinilai belum cukup karena belum disertai rincian spesifik.
Ia menegaskan pentingnya kejelasan data tersebut agar proses penentuan prioritas bantuan bisa dilakukan secara tepat sasaran.
Selain itu, aspek legalitas lahan sekolah juga menjadi syarat penting yang harus dipenuhi.
“Status tanah harus jelas dan bersertifikat, karena itu menjadi salah satu syarat utama untuk mendapatkan bantuan revitalisasi,” tegasnya.
Anita pun mendorong pemerintah daerah segera melakukan pendataan ulang secara menyeluruh, mencakup kondisi fisik bangunan serta kelengkapan administrasi lahan.
Ia menilai, pembenahan sarana dan prasarana pendidikan di NTT harus menjadi perhatian serius, mengingat kualitas infrastruktur sangat berpengaruh terhadap mutu layanan pendidikan di daerah.



