Budapest, Redaksi Satu | Péter Magyar, perdana menteri Hungaria terpilih, ia berjanji akan mereformasi total warisan pemerintahan sebelumnya.
Untuk membawa perubahan besar dalam tata kelola negara usai kemenangan telak, dalam pemilihan umum.
Ia menegaskan akan menindak pihak-pihak, yang selama ini dianggap merusak fondasi negara.
Dalam konferensi pers pada Senin, (13/4/2026). Magyar menegaskan bahwa rakyat Hungaria menginginkan lebih dari sekadar pergantian pemerintahan. (Dilaporkan dari The Guardian).
“Ini bukan hanya perubahan pemerintah, tetapi perubahan rezim secara menyeluruh. Negara kita tidak punya waktu untuk disia-siakan,” tegasnya.
Partai Tisza yang di pimpin Magyar, berhaluan tengah-kanan, dilaporkan mengamankan setidaknya 138 dari total 199 kursi parlemen.
Hasil resmi pemilu dijadwalkan dikonfirmasi pada 4 Mei, dengan pelantikan pemerintahan baru diharapkan berlangsung sehari setelahnya.
Kritik Keras terhadap Era Orbán
Magyar secara terbuka mengkritik pemerintahan sebelumnya, di bawah Viktor Orbán.
Ia menuduh rezim lama telah:
Mengikis supremasi hukum
Mengisi lembaga peradilan dengan loyalis
Menguasai hingga 80% media sebagai alat propaganda
Memperkaya kelompok elit tertentu
Ia berjanji akan “mengejar mereka yang menjarah, merampok, dan menghancurkan negara.”
Reformasi Media dan Lembaga Negara
Salah satu langkah awal pemerintahan baru adalah, menghentikan propaganda yang didanai negara.
Magyar mengumumkan rencana untuk menangguhkan siaran berita televisi, dan radio publik hingga sistem pengawasan independen terbentuk.
Selain itu, ia juga mendesak sejumlah pejabat tinggi untuk mundur, termasuk pimpinan lembaga peradilan, otoritas audit, badan persaingan, serta media.
Magyar bahkan menyinggung Presiden Hungaria saat ini, Tamás Sulyok, yang dinilainya hanya menjadi simbol tanpa peran substantif.
“Bagi saya, dia bukan presiden. Jika tidak mundur, kami akan mencari solusi,” ujarnya tegas.
Hubungan dengan Uni Eropa Berpotensi Membaik
Kemenangan Magyar disambut positif oleh para pemimpin Uni Eropa, yang selama ini berselisih dengan pemerintahan Orbán.
Dalam berbagai isu, mulai dari supremasi hukum hingga kebijakan migrasi dan dukungan terhadap Ukraina.
Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menyebut hasil pemilu ini sebagai “hari yang baik” dan sinyal kuat penolakan terhadap populisme sayap kanan.
Ia juga menilai bahwa pengambilan keputusan di Uni Eropa ,akan menjadi lebih lancar, tanpa hambatan veto yang kerap dilakukan pemerintahan sebelumnya.
Tantangan ke Depan
Meski demikian, sejumlah kebijakan Magyar-khususnya terkait migrasi dan posisi Hungaria, terhadap Ukraina-diperkirakan tetap berpotensi menimbulkan friksi dengan Uni Eropa.
Namun dengan dukungan politik yang kuat, di dalam negeri, Magyar diyakini memiliki ruang besar.
Untuk merealisasikan agenda reformasinya dan membuka, babak baru dalam sejarah politik Hungaria. (Dilansir The Guardian).



