Sahabat yang Tidak Pergi

Dalam kehidupan yang serba cepat, sering kali manusia mengira bahwa amal besar harus selalu tampak megah dan terlihat oleh banyak orang.
Padahal, dalam pandangan Allah, bisa jadi sebuah kebiasaan kecil yang dilakukan dengan istiqamah memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada hal-hal yang terlihat luar biasa.
Cerpen “Sahabat yang Tidak Pergi” karya Ismilianto mengajak pembaca merenungi makna dari amal sederhana yang dilakukan dengan penuh keikhlasan.
Melalui kisah seorang hamba yang menjaga satu amalan kecil—membaca Surah Al-Mulk setiap malam—cerita ini membawa kita menyusuri perjalanan setelah kematian: dari kesunyian kubur, alam barzakh, hingga hari kebangkitan di Padang Mahsyar.

Cerita ini bukan sekadar kisah tentang kematian, melainkan pengingat lembut bahwa Al-Qur’an dapat menjadi sahabat sejati bagi orang yang menjaganya.

Ia tidak hanya menemani di dunia, tetapi juga menjadi penolong di saat manusia paling membutuhkan—ketika semua yang dahulu dibanggakan telah ditinggalkan.

Semoga kisah sederhana ini dapat mengetuk hati kita untuk kembali mendekat kepada Al-Qur’an, menjaga amalan kecil dengan penuh cinta, dan berharap bahwa suatu hari nanti, amalan itulah yang akan menjadi sahabat yang tidak pernah pergi.

Sahabat yang Tidak Pergi

Cerpen: oleh Ismilianto

Namanya biasa saja. Tidak terkenal. Tidak punya jabatan. Di kampungnya ia hanya dikenal sebagai orang yang kalau malam selesai Isya, duduk sebentar membuka mushaf kecilnya.

Ia punya satu kebiasaan yang tidak pernah ia tinggalkan. Membaca Surah Al-Mulk sebelum tidur.

Ia pernah mendengar sabda Rasulullah SAW: “Ada satu surah dalam Al-Qur’an yang terdiri dari tiga puluh ayat, yang memberi syafaat kepada pembacanya sampai diampuni dosa-dosanya, yaitu Tabarakalladzi biyadihil mulk.” (HR. Tirmidzi no. 2891)

BACA JUGA  Satu Rakaat yang Ditunda

Sejak itu ia menjaga Al-Mulk seperti sahabat. Bertahun-tahun ia membacanya.

Kadang dengan suara pelan. Kadang dengan mata yang mengantuk. Kadang dengan hati yang letih karena urusan dunia. Tapi ia tidak pernah meninggalkannya.

Sampai suatu malam… ia tidak bangun lagi. Ia dimandikan. Dikafani. Dishalatkan. Diantar ke kubur. Tangis keluarga mengiringi. Tanah diratakan. Orang-orang pulang. Sunyi. Ia mendengar langkah kaki terakhir menjauh.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba ketika diletakkan di kuburnya dan para pengantarnya telah pergi, ia mendengar suara sandal mereka.” (HR. Bukhari no. 1338, Muslim no. 2870)

Lalu datang dua malaikat. Wajah mereka tegas. Suara mereka mengguncang. Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa Nabimu? Dengan gemetar ia menjawab.

Allah meneguhkan lisannya, sebagaimana firman-Nya: “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat.” (QS. Ibrahim: 27)

Jawabannya lancar. Tiba-tiba… sebelum kegelapan menjadi menakutkan, datang sesuatu yang bercahaya. Seperti sosok lelaki tampan, harum, wajahnya menenangkan.

Ia berkata, “Jangan takut. Jangan bersedih.” “Siapa engkau?” tanya si mayit.

“Aku adalah Surah Al-Mulk yang dulu kau baca setiap malam.”

Kuburnya yang sempit mulai meluas. Angin sejuk berhembus. Sebuah pintu kecil terbuka memperlihatkan cahaya surga. Surah itu berdiri di antara dirinya dan azab.

Karena Rasulullah SAW bersabda: “Surah Tabarak (Al-Mulk) adalah penghalang dari azab kubur.” (HR. Al-Hakim no. 3839, dinilai sahih oleh sebagian ulama)

Hari berganti hari di alam barzakh, tapi ia tidak merasakan kesempitan. Waktu terasa seperti tidur yang nyaman.

Lalu sangkakala ditiup. Hari yang dijanjikan itu tiba. Manusia bangkit dari kubur dalam keadaan bingung. Mata terbelalak. Keringat mengalir. Matahari didekatkan.

BACA JUGA  Saat Mulut Tak Lagi Bisa Berdalih

Allah menggambarkan kedahsyatannya: “Pada hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-Muthaffifin: 6)

Di Padang Mahsyar, manusia mencari pelindung. Ia gemetar. Amal terasa sedikit. Dosa terasa banyak. Tiba-tiba cahaya itu datang lagi.

Surah Al-Mulk berdiri bersamanya. Ia menjadi pembela. Menjadi saksi bahwa hamba ini mencintai kalam Allah.

Bahwa setiap malam, di saat banyak orang lalai, ia membuka dan membacanya.

Timbangan amal ditegakkan. Kebaikannya diperberat. Allah Maha Pengampun. Surah itu memberi syafaat hingga diampuni.

Ketika namanya dipanggil menuju surga, ia menoleh sejenak ke Padang Mahsyar yang penuh kepanikan.

Ia teringat malam-malam sederhana di dunia. Hanya tiga puluh ayat. Tidak panjang. Tidak berat. Tapi istiqamah.

Ia pun melangkah. Dan di gerbang itu, ia sadar… Yang menemaninya bukan hartanya. Bukan rumahnya. Bukan jabatannya. Tapi kebiasaan kecil yang ia jaga dengan cinta. Surah Al-Mulk.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img