spot_img

KAPUR YANG TAK LAGI PUTIH

Kapur Yang Tak Lagi Putih

Cerpen: oleh Ismilianto

(mungkin mereka menyiapkan krisis peradaban)

Pak Arman menghapus papan tulis pelan. Bukan karena tulisannya sulit dihapus, tapi karena tangannya gemetar.

Di sudut papan, masih tertulis satu kalimat: Kejujuran adalah keberanian untuk berkata benar, meski sendirian.

Ia menatap kapur yang patah di tangannya. Putih, rapuh, dan mudah hancur.

Seperti dirinya sekarang. Pagi itu, ia hanya menegur Raka.

Bukan memukul. Bukan membentak. Hanya menepuk meja dan berkata, “Kamu sudah melampaui batas.”

Sore harinya, ia dipanggil polisi. Malamnya, istrinya menangis sambil memeluk anak mereka.

Bukan karena Pak Arman bersalah, tapi karena dunia telah memutuskan: niat tidak lagi penting.

Di ruang sidang, Pak Arman berdiri sendiri. Tak ada negara di sampingnya. Tak ada sistem yang menjelaskan bahwa mendidik memang kadang harus tegas.

Yang ada hanya pasal, kamera, dan opini publik. “Bapak seharusnya memahami psikologis anak,” kata seorang pejabat dengan suara dingin.

Pak Arman ingin bertanya, siapa yang memahami psikologis guru yang setiap hari menelan takut agar muridnya berani?

Tapi ia diam. Guru memang dilatih untuk menahan diri.

Beberapa minggu kemudian, sekolah itu berubah. Tak ada lagi teguran. Tak ada lagi disiplin.

Guru mengajar sambil tersenyum palsu, berharap jam cepat habis.

Raka kini berdiri di atas meja, menertawakan guru lain. Tak ada yang menegur.

Semua selamat. Pak Arman tak lagi mengajar. Ia bekerja di kebun, menanam singkong.

Tangannya kotor tanah, tapi hatinya lebih bersih daripada ruang sidang itu.

Suatu hari, ia melihat berita di ponsel bututnya: “Pemerintah menyesalkan merosotnya moral pelajar.”

Pak Arman tersenyum pahit. Bukan karena lucu, tapi karena ia tahu jawabannya.

BACA JUGA  TANAH YANG BERSAKSI

Moral tidak runtuh karena guru lalai. Ia runtuh karena guru dilarang berdiri tegak.

Di sudut ruang kelas yang kini asing baginya, sebatang kapur jatuh ke lantai. Patah. Tak ada yang memungut.

Dan di negeri itu, banyak kebijakan lahir dari meja empuk, namun lupa satu hal sederhana: tak ada pendidikan yang hidup jika gurunya harus takut pada setiap niat baiknya sendiri.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img