Amanah Hidup
Gelap. Sunyi. Bukan seperti malam di dunia. Ia terbaring sendiri. Tak ada tubuh yang bisa digerakkan.
Tak ada suara yang bisa dipanggil. Hanya kesadaran— dan penyesalan yang datang terlambat.
Dua sosok mendekat. Wajahnya tak menyeramkan, namun suaranya tegas, adil, dan jujur.
Munkar bertanya, “Siapa Tuhanmu?”
Dengan suara gemetar, ia menjawab,
“Allah…”
Nakir melanjutkan, “Apa agamamu?”
“Islam…”
“Siapa nabimu?”
Hening sejenak. Lalu datang pertanyaan yang paling berat— bukan tentang luka yang ia alami, melainkan tentang keputusan yang ia ambil.
Nakir bertanya pelan, “Kenapa engkau mengakhiri hidup yang Allah titipkan?”
Ia ingin menjelaskan segalanya. Tentang lelah yang tak kunjung reda. Tentang doa yang terasa tak sampai.
Tentang kesepian yang tak ada ujungnya. Namun di hadapan kebenaran, tak ada alasan yang benar-benar berdiri.
“Aku… menyerah,” ucapnya lirih. Munkar berkata, suaranya menembus hati,
“Hidup itu amanah, bukan milikmu untuk kau putuskan.
Allah telah berfirman: ‘Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.’ (QS. An-Nisa: 29)
Rahmat-Nya luas, namun larangan-Nya tegas.” Ia tertunduk. Tangisnya pecah. “Aku menyesal… Seandainya aku bertahan satu hari lagi…”
Nakir menjawab dengan kejujuran yang berat, “Kesempatan taubat itu ada selama masih hidup.
Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.’ (HR. Tirmidzi, hasan sahih)
Kini penyesalanmu adalah kesadaran, namun waktunya telah berlalu.”
Munkar melanjutkan, “Engkau berhenti berharap, padahal Allah berjanji: ‘Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.’ (QS. Az-Zumar: 53)
Ayat itu bukan hanya untuk orang kuat, tetapi untuk mereka yang lelah— agar bertahan, bukan mengakhiri.
Kubur itu menyempit. Bukan karena tanah membenci, melainkan karena amanah telah ditinggalkan.
Sebelum pergi, Nakir berkata pelan, “Andai engkau menangis di hadapan Allah, bukan meninggalkan-Nya, niscaya pertanyaan ini akan terasa ringan.”
Sunyi kembali. Dan dari sunyi itu, seakan terkirimi pesan kepada mereka yang masih hidup: Jika hidup terasa berat, jangan akhiri hidup.
Akhiri keputusasaanmu. Bertahan satu hari lagi pun adalah bentuk iman yang besar.
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa membunuh dirinya dengan sesuatu, maka ia akan disiksa dengan sesuatu itu di neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menjaga— agar kita tetap hidup dan berharap.
Ya Allah, jika ada hamba-Mu yang hari ini lelah, kuatkan hatinya. Jika ia hampir menyerah, peluklah jiwanya dengan rahmat-Mu. Jangan biarkan kami berputus asa dari kasih sayang-Mu.
Ajari kami bertahan, hingga Engkau sendiri yang memanggil kami pulang dalam keadaan Engkau ridai. Aamiin ya rabbal alamin.



