Berakhirnya tahun 2025, bangsa ini patut berhenti sejenak untuk bercermin. Bukan semata menghitung capaian angka dan grafik, tetapi menilai arah moral perjalanan bersama.
Dalam cermin itu, kehidupan bernegara hari ini terasa kian menyerupai panggung wayang—tempat berbagai peran dimainkan, namun tidak selalu dengan tujuan mulia.
Wayang mengajarkan bahwa setiap tokoh memiliki watak dan fungsi. Ada kesatria, ada penasihat, ada penghasut, ada pula rakyat jelata yang setia memikul beban.

Panggung boleh berubah, zaman boleh berganti, tetapi karakter sering kali berulang. Dalam lakon kehidupan 2025, Abimanyu hadir sebagai simbol generasi jujur dan penuh harapan.
Ia menjelma dalam diri anak muda idealis, pegawai yang bekerja lurus, serta warga yang percaya bahwa aturan dan keadilan masih bermakna.
Namun seperti kisahnya dalam epos Mahabharata, Abimanyu sering tersingkir bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena sistem yang rumit, persaingan yang tidak setara, dan aturan yang lebih melindungi kepentingan tertentu.
Ketika keadilan semakinmenjauh tidak lagi berpihak pada akar rumput, maka kepercayaan publik pun perlahan akan mulai terkikis.
Ada pula Antasena, sosok yang lurus dan berkata apa adanya. Dalam kehidupan nyata, mereka adalah warga yang kritis, berani menyampaikan pendapat tanpa polesan.
Sayangnya, keberanisn membuka kejujuran semacam ini kerap kali dianggap tidak elok, tidak strategis, dan bahkan dianggap mengganggu ketertiban.
Padahal, bangsa yang sehat justru membutuhkan suara yang jujur menyampaikan apa adanya agar tidak terjebak dalam kenyamanan yang semu.
Negeri ini juga berdiri di atas pundak “Gatotkaca” —para pekerja keras yang menopang kehidupan sehari-hari, ada Buruh, ada petani, ada pedagang kecil, ada pula tenaga lapangan, dan banyak profesi sunyi lainnya menjadi tulang punggung yang jarang disorot kamera.
Mereka kuat, mereka setia, dan mereka rela berkorban. Namun ketika beban hidup kian berat, perhatian negara sering kali datang terlambat atau sekadar simbolik.
Keberadaan Gatotkaca dipuji dalam retorika hanya setiap musim pemilu tiba, ini fakta tetapi belum sepenuhnya dilindungi dalam kebijakan.
Di sisi lain, panggung wayang kehidupan tak pernah sepi dari keberadaan Sengkuni. Tokoh yang satu ini hidup dari adu domba, manipulasi persepsi, dan sering pembelokan fakta.
Di era informasi Digital, Sengkuni sering tampil dalam berbagai rupa: ada istilah “Balonku ada Lima Rupa-rupa Warnanya” narasi yang memecah, opini yang sengaja dikaburkan, serta kepentingan yang bekerja di balik layar.
Kerusakan yang ditimbulkan watak Sengkuni kerap tak langsung terlihat, tetapi pengaruh akibatnya dan dampaknya panjang dan dalam.
Yang tak kalah penting dan patut diwaspadai adalah penjelmaan tokoh pewayangan “Durna”—figur yang satu ini berilmu yang kehilangan keberpihakan.
Dengan data, istilah, dan argumen teknis, ketimpangan dapat dijelaskan seolah keniscayaan. Kebijakan yang melukai rasa keadilan dibungkus dengan bahasa rasional.
Di titik ini, “Durno” yang berilmu sering membuat permainan ilmu, yang seharusnya menjilma menjadi cahaya justru berpotensi menjadi tirai kelabu yang panjang.
Refleksi akhir tahun ini membawa kita pada satu kesimpulan penting: tantangan terbesar bangsa bukanlah kekurangan kecerdasan, melainkan keberanian moral untuk berpihak pada keadilan.
Sejatinya Wayang selalu mengajarkan bahwa kejujuran kebaikan tidak selalu menang dengan cepat, tetapi tidak pernah benar-benar kalah.
Kemenangan itu menuntut kesadaran bersama—dari pengambil kebijakan, kalangan berilmu, hingga warga biasa—untuk memilih peran Wayang dengan tanggung jawab.
Refleksi Menutup tahun 2025, pertanyaan yang patut diajukan bukan semata-mata siapa yang berkuasa, melainkan nilai apa yang kita pertahankan.
Sebab pergantian tahun seharusnya bukan hanya pergantian kalender, tetapi juga kesempatan mengganti peran wayang, lakon Wayang untuk menuju cerita yang lebih adil, manusiawi, dan bermartabat.



